Satu per Satu Mereka Tertipu

Tidak banyak yang berubah ketika aku mudik Lebaran tahun ini. Kampungku ya tetep saja kampung dan udik. Kalo bukan kampung, pasti namanya bukan pulang kampung. Terus kalau bukan udik juga pasti namanya bukan mudik. :))

Meski tidak seperti tiga empat tahun lalu, pluputan -ritual berkunjung dan minta maaf ke keluarga- bersama sepupu-sepupu tetap mengesankan. Tapi ya pelan-pelan semangat itu makin hilang. Mungkin karena kami makin tua: kali ini bahkan sudah empat orang yang punya anak, termasuk aku.

Kami termasuk keluarga besar di kampung kecil itu. Dan, kami semua menyebar: Malang, Surabaya, Ponorogo, Lamongan, Denpasar, Jakarta, Yogyakarta, Riau, Malaysia. Maka Lebaran jadi waktu kami bertemu dan membagi cerita.

Di antara semua riuh rendah kami berbagi itu, ada satu yang paling membekas di otakku. Continue reading “Satu per Satu Mereka Tertipu”

Kenapa Aku Tak Bisa Mengambil Punyaku?

Beberapa hari ini aku kepikiran untuk ngumpulin tulisanku yang pernah terbit dalam basa Inggris. Meski tidak banyak, adalah beberapa tulisan di The Jakarta Post. Biar gampang, aku pun search di Google pake namaku. TJP kan punya online jg. Jadi biar gampang ya cari saja di sana. Ada beberapa tulisan yang muncul.

Ada beberapa situs yang muncul. Lalu aku klik yang nyambung. Situs itu terbuka dengan tulisanku di sana. Aku klik. Lho, kok aku harus masukin username dan password. Kan aneh. Aku saja tidak pernah nyuruh orang untuk masukin username segala macem untuk baca tulisan2ku. Kok ini malah orang lain nyuruh aku untuk masukin username ketika aku mau baca tulisanku sendiri.

Ini memang konsekuensi revolusi teknologi informasi: tidak ada lagi batas ruang. Milik kita, bisa saja ada di tangan orang lain yang kita tidak pernah kenal sebelumnya. That’ fine. Tapi jangan dong kemudian orang lain itu memakainya sehingga kita sendiri pun tak bisa memakainya. Dasar!

Kenyataan Entah yang keberapa

Aku kaget ketika pagi tadi baca tiga berita di tiga media berbeda tentang aksi solidaritas untuk Myanmar. Semuanya bener-bener di luar dugaan. Tidak hanya di luar dugaan, tapi malah berbeda dari kenyataan.

Ya, memang begitulah media. Dia tidak hanya menyampaikan kenyataan kedua dari kenyataan sebenarnya. Sering kali media malah memberitakan kenyataan entah yang keberapa.

Karena Diam Bukan Jawaban

Headline koran-koran hari ini:
– Rusuh di Myanmar, Tiga Biksu Tewas (Bali Post)
– Darah Akhirnya Tumpah di Pagoda (Jawa Pos)
– Junta Tembaki Pemrotes (Kompas)
– Myanmar Memanas Militer Pukuli Biksu (Media Indonesia)
– Myanmar junta acknowledges one kill, three wounded in suppression of protests (The Jakarta Post)

Ada masalah di Myanmar. Para biksu yang menuntut keadilan dan bersenjata doa itu melawan junta otoriter bersenjata militer. Kita tidak pernah kenal mereka. Tidak punya hubungan apa-apa dengan mereka selain sesama manusia.

Continue reading “Karena Diam Bukan Jawaban”

Menjatuhkan Abu Lalu Berlalu

Sekitar pukul 8 pagi dalam perjalanan ke tempat kerja part time. Aku berhenti di lampu merah pertigaan Jl Hayam Wuruk dan Jl Kapten Japa. Seorang laki-laki dengan kumis tebal melintang, aku liat dari spion motornya, berhenti di depanku. Tangan kirinya memegang rokok. Lalu menghisap rokok itu.

Dan, plung!, dia membuang puntung rokok itu di depanku. Masih dengan asap tipis keluar dari sisa isapan terakhir, rokok itu dibiarkan begitu saja. Laki-laki itu seperti tanpa dosa membuangnya di sana.

Continue reading “Menjatuhkan Abu Lalu Berlalu”

Polisi Itu Menghajarnya di Tengah Jalan!

Tanpa ba bi bu, lelaki tegap berseragam itu meninju muka laki-laki yang lain. Dug! Laki-laki yang dipukul itu hanya menunduk. Tatapan matanya jelas tatapan mata orang tak berdaya. Jangankan balik memukul, melihat wajah orang yang meninjunya pun dia tak berani.

Kejadiannya di pagi hari ketika aku berangkat kerja. Ada kecelakaan kecil di perempatan kecil Jl Gatsu I dan Jl Gatot Subroto Tengah. Ketika aku lewat di sana, posisi mereka masih sama-sama jatuh di jalan. Aku tidak tahu persis bagaimana kejadiannya. Pokoknya pas lihat mereka sudah sama-sama jatuh.

Aku lihat kejadian setelah itu. Keduanya sama-sama berdiri membawa motor masing-masing ke pinggir jalan. Tapi itu tadi, laki-laki yang berseragam coklat itu langsung menghantam muka laki-laki lainnya. Bruak! Dia lalu memaki-maki, dan bruak!, memukul lagi. Terus berulang-ulang: mulut memaki, tangan memukul.

Laki-laki lain, yang janggutnya berdarah itu seperti ketakutan.

Continue reading “Polisi Itu Menghajarnya di Tengah Jalan!”

Akhirnya Buku Lentera Terbit Juga

Kami duduk lesehan di lapangan rumput belakang Danes Art Veranda Jl Hayam Wuruk, sore tadi. Ada sekitar 50 orang. Suasana santai. Aku aja cuma pake celana pendek dan kaos oblong seperti biasa. Pak Alit Kelakan, wakil gubernur Bali yang datang telat satu jam setelah acara berlangsung pun kemudian ikut lesehan di sana. -btw, pejabat yang satu ini memang rada edan. Dia tidak pernah menganggap diri sebagai pejabat. Selalu santai. Tapi omongannya berisi. Aduh, kok jadi jurkamnya dia. :))-

Petang itu kami merayakan terbitnya Buku Lentera, Lembaran tentang Realitas AIDS. Ini buku terbitan Sloka Institute tapi pesanan Komisi Penanggulangan AIDS Bali dan didanai Australia Indonesia Partnership. Aku dan dua teman lain, Ervi dan Mercya, bantu ngedit buku kumpulan artikel tersebut.

Continue reading “Akhirnya Buku Lentera Terbit Juga”

Jurnalisme Warga adalah Jawabannya

Siang ini kami berdiskusi di kantor Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Bali di Jl Melati Denpasar. Ada sekitar –aduh, kok lupa ngitung ya?- 15 orang yang datang. Kecuali dua project officer (PO) KPA Bali, semuanya alumni Klinik Jurnalistik, pelatihan jurnalistik bagi aktivis penanggulangan AIDS di Bali.

KJ sudah diadakan dua kali pada Agustus tahun lalu dan April tahun ini. Tujuannya melatih kemampuan dasar jurnalistik bagi mereka agar lebih mudah menyampaikan isu-isu HIV/AIDS lewat media. Aku sendiri bantu mendesain pelatihan sekaligus fasilitator. Ketika pelatihan sih pada semangat. Meski ngerjain tugas sampai dini hari, mereka masih juga semangat. Continue reading “Jurnalisme Warga adalah Jawabannya”

Balebengong, Tempat Denpasar Berbagi Kabar

Seribu langkah selalu dimulai dari satu langkah. [Pepatah China]

Begitu pula blog www.balebengong.net. Dia lahir dari kegelisahan. Kok sepi sekali suara dari Denpasar (dan Bali) kalau diskusi tentang hiruk pikuk dunia maya maupun jurnalisme warga? Padahal, setahu saya, makin banyak blogger di Denpasar dan banyak pula kabar yang bisa dibagi lewat dunia maya melalui jurnalisme warga.

Maka, sesuatu harus dilakukan. Sebab, ide tanpa aksi hanya jadi mimpi. Lahirlah http://thebalebengong.blogspot.com sebagai sebuah rintisan. Meski hanya rintisan, ide ini mendapat apresiasi dan dukungan semangat maupun tulisan dari Pak Darma Putra dan Kang Arief Budiman. Mereka berdua memberi saya keyakinan bahwa membuat portal jurnalisme warga bukanlah sesuatu yang mustahil. Terima kasih, Pak Darma dan Kang Ayip.. Continue reading “Balebengong, Tempat Denpasar Berbagi Kabar”

Thank Google, Bukan Thank God!

Selesai rapat editing Laporan Populer kantor, Pak Imam, bos di bagian saya minta tolong. “Minta Pak Tut untuk cari buku tentang tanaman konservasi. Setahuku di sana ada soal nama latin kaliandra,” katanya. Kaliandra adalah tanaman untuk konservasi tanah. Di laporan populer belum ada nama latinnya. Kami harus memberi nama latin agar orang lain juga tahu.

Saya pun ke bagian depan mencari Pak Tut yang salah satu tugasnya menjaga perpustakaan. Dia segera mengetik kata kunci “Konservasi” di komputer untuk mencari buku yang saya maksud. Hasilnya: tidak ada dokumen yang cocok. Kami coba pakai kata kunci lain: pertanian, lahan kritis, dan beberapa kata lagi. Hasinya terlalu banyak. Abaikan saja. Continue reading “Thank Google, Bukan Thank God!”