Tidak banyak yang berubah ketika aku mudik Lebaran tahun ini. Kampungku ya tetep saja kampung dan udik. Kalo bukan kampung, pasti namanya bukan pulang kampung. Terus kalau bukan udik juga pasti namanya bukan mudik. :))
Meski tidak seperti tiga empat tahun lalu, pluputan -ritual berkunjung dan minta maaf ke keluarga- bersama sepupu-sepupu tetap mengesankan. Tapi ya pelan-pelan semangat itu makin hilang. Mungkin karena kami makin tua: kali ini bahkan sudah empat orang yang punya anak, termasuk aku.
Kami termasuk keluarga besar di kampung kecil itu. Dan, kami semua menyebar: Malang, Surabaya, Ponorogo, Lamongan, Denpasar, Jakarta, Yogyakarta, Riau, Malaysia. Maka Lebaran jadi waktu kami bertemu dan membagi cerita.
Di antara semua riuh rendah kami berbagi itu, ada satu yang paling membekas di otakku. Continue reading “Satu per Satu Mereka Tertipu”