
Sudah pernah jalan-jalan di Ubud?
Bukan. Bukan di bagian pusat Ubud seperti sekitar puri, pasar, dan jalan-jalan di sekitarnya. Kalau di sana sih pasti nyaman. Kan banyak turis asing.
maka, menulislah untuk berbagi, agar ceritamu abadi.
Tahun sudah mau berganti tapi nasib masih saja sama, ditolak penyedia beasiswa.
Biar tidak terlewat begitu saja, penting memang untuk membuat catatan. Sekadar mengingat dan merefleksikan apa saja yang sudah lewat meskipun sekadar curhat. Jika tak tercatat, mereka akan cuma lewat.

Nely, sepupuku, menodong ketika aku pulang kampung pekan lalu.
Tumben ada yang menodong untuk berbagi pengalaman dan motivasi begini. Jadi ya terima saja meskipun tidak terlalu percaya diri.
Continue reading “Muhadloroh, di Mana Anak Muda Belajar Bicara”
Kejutan datang bulan lalu. Seorang teman yang dulu hampir mati ternyata telah kembali.
Hari ini aku baru ingat untuk menulis cerita itu kembali.
Namanya Alex. Dia salah satu orang dengan HIV dan AIDS (ODHA) yang dulu aku dampingi semasa ikut jadi pendamping alias buddies. It’s been a long time ago. Mungkin sepuluh tahun lalu.

Bulu kuduk langsung berdiri. Darah berdesir di tengkuk.
Melihat barisan perahu itu, aku merinding. Tubuh menggigil sebentar seperti gemetar.