Blog

Ketika StarOne Makin Menyebalkan

Pagi ini aku berniat memposting tulisan-tulisan di Bale Bengong. Maklum, seminggu ke depan aku akan pulang kampung, mudik lebaran. Jadi pengennya ada arsip selama seminggu ke depan yang akan muncul tiap hari di Bale Bengong.

But, niat itu berubah jadi rasa dongkol gara-gara koneksi internet. Sudah sebulan ini aku langganan StarOne yang disediakan Indosat. Tapi makin hari layanan ini makin mengecewakan. Minggu awal aku pakai provider ini sih lumayan menyenangkan. Kecepatannya setara, atau bahkan lebih, dibanding beberapa warnet langgananku. Tak hanya untuk ngemail, ngeblog, untuk download dan upload pun bagus.

Meski tidak terlalu ngerti teknis layanan internet, cukuplah kalau aku bilang bahwa StarOne layak diandalkan. Aku kasi nilai 8,5 untuk layanan ini.

Continue reading “Ketika StarOne Makin Menyebalkan”

Kenapa Aku Tak Bisa Mengambil Punyaku?

Beberapa hari ini aku kepikiran untuk ngumpulin tulisanku yang pernah terbit dalam basa Inggris. Meski tidak banyak, adalah beberapa tulisan di The Jakarta Post. Biar gampang, aku pun search di Google pake namaku. TJP kan punya online jg. Jadi biar gampang ya cari saja di sana. Ada beberapa tulisan yang muncul.

Ada beberapa situs yang muncul. Lalu aku klik yang nyambung. Situs itu terbuka dengan tulisanku di sana. Aku klik. Lho, kok aku harus masukin username dan password. Kan aneh. Aku saja tidak pernah nyuruh orang untuk masukin username segala macem untuk baca tulisan2ku. Kok ini malah orang lain nyuruh aku untuk masukin username ketika aku mau baca tulisanku sendiri.

Ini memang konsekuensi revolusi teknologi informasi: tidak ada lagi batas ruang. Milik kita, bisa saja ada di tangan orang lain yang kita tidak pernah kenal sebelumnya. That’ fine. Tapi jangan dong kemudian orang lain itu memakainya sehingga kita sendiri pun tak bisa memakainya. Dasar!

Kenyataan Entah yang keberapa

Aku kaget ketika pagi tadi baca tiga berita di tiga media berbeda tentang aksi solidaritas untuk Myanmar. Semuanya bener-bener di luar dugaan. Tidak hanya di luar dugaan, tapi malah berbeda dari kenyataan.

Ya, memang begitulah media. Dia tidak hanya menyampaikan kenyataan kedua dari kenyataan sebenarnya. Sering kali media malah memberitakan kenyataan entah yang keberapa.

Karena Diam Bukan Jawaban

Headline koran-koran hari ini:
– Rusuh di Myanmar, Tiga Biksu Tewas (Bali Post)
– Darah Akhirnya Tumpah di Pagoda (Jawa Pos)
– Junta Tembaki Pemrotes (Kompas)
– Myanmar Memanas Militer Pukuli Biksu (Media Indonesia)
– Myanmar junta acknowledges one kill, three wounded in suppression of protests (The Jakarta Post)

Ada masalah di Myanmar. Para biksu yang menuntut keadilan dan bersenjata doa itu melawan junta otoriter bersenjata militer. Kita tidak pernah kenal mereka. Tidak punya hubungan apa-apa dengan mereka selain sesama manusia.

Continue reading “Karena Diam Bukan Jawaban”

Menjatuhkan Abu Lalu Berlalu

Sekitar pukul 8 pagi dalam perjalanan ke tempat kerja part time. Aku berhenti di lampu merah pertigaan Jl Hayam Wuruk dan Jl Kapten Japa. Seorang laki-laki dengan kumis tebal melintang, aku liat dari spion motornya, berhenti di depanku. Tangan kirinya memegang rokok. Lalu menghisap rokok itu.

Dan, plung!, dia membuang puntung rokok itu di depanku. Masih dengan asap tipis keluar dari sisa isapan terakhir, rokok itu dibiarkan begitu saja. Laki-laki itu seperti tanpa dosa membuangnya di sana.

Continue reading “Menjatuhkan Abu Lalu Berlalu”

Sebagian Bali Terancam Tenggelam

Akibat pemanasan global (global warming), sebagian wilayah Bali terancam tenggelam. Parahnya lagi, kenaikan air laut hingga 6 meter itu mengancam daerah-daerah pusat kegiatan pariwisata.

Hal tersebut dikatakan Hira Jhamtani, aktivis Third World Network, jaringan negara ketiga yang terutama aktif di gerakan anti-globalisasi. Hira, yang sering mewakili lembaga swadaya masyarakat (LSM) di berbagai kegiatan internasional, menyatakan adanya ancaman itu pada diskusi yang digelar Koalisi LSM untuk perubahan iklim di Denpasar Bali hari ini.

Continue reading “Sebagian Bali Terancam Tenggelam”

Berikan Bantuan, Bukan Khotbah

Abis ada diskusi tentang global warming di Renon tadi pagi. Hasilnya ada di Bale Bengong. Overall, ini diskusi menarik. Sayangnya sih temanya trlalu abstrak. Tentang budaya lokal menghadapi global warming. Bahwa Bali punya Tri Hita Karana, local genius, dst untuk mengantisipasi global warming. Cuma, gimana ya? Abstrak banget.

Logika goblokku -dan ini pasti bener2 goblok-, penyumbang terbesar emisi gas rumah kaca tuh Amrik dan negara2 maju lain. Peran Indonesi sangat kecil, apalagi khususnya Bali. Mungkin lebih menarik kalau ada hal lebih praktikal. Misalnya boikot produk Amrik -hi.hi.hi, ngetik blog saja pake Microsoft- dst.

Ikut diskusi pagi tadi jadi ingat cerita anak kecebur sungai.

Continue reading “Berikan Bantuan, Bukan Khotbah”

Polisi Itu Menghajarnya di Tengah Jalan!

Tanpa ba bi bu, lelaki tegap berseragam itu meninju muka laki-laki yang lain. Dug! Laki-laki yang dipukul itu hanya menunduk. Tatapan matanya jelas tatapan mata orang tak berdaya. Jangankan balik memukul, melihat wajah orang yang meninjunya pun dia tak berani.

Kejadiannya di pagi hari ketika aku berangkat kerja. Ada kecelakaan kecil di perempatan kecil Jl Gatsu I dan Jl Gatot Subroto Tengah. Ketika aku lewat di sana, posisi mereka masih sama-sama jatuh di jalan. Aku tidak tahu persis bagaimana kejadiannya. Pokoknya pas lihat mereka sudah sama-sama jatuh.

Aku lihat kejadian setelah itu. Keduanya sama-sama berdiri membawa motor masing-masing ke pinggir jalan. Tapi itu tadi, laki-laki yang berseragam coklat itu langsung menghantam muka laki-laki lainnya. Bruak! Dia lalu memaki-maki, dan bruak!, memukul lagi. Terus berulang-ulang: mulut memaki, tangan memukul.

Laki-laki lain, yang janggutnya berdarah itu seperti ketakutan.

Continue reading “Polisi Itu Menghajarnya di Tengah Jalan!”

Kopdar Kedua Komunitas Blogger Bali

Sore tadi kopi darat alias kopdar kedua blogger Bali dilakukan. Sama seperti kopdar pertama pada akhir Juli lalu, kopdar kali ini juga masih sepi, hanya lima orang termasuk aku.

Tentu saja sepi dibanding jumlah blogger di Bali yang menurut data terakhir di blogspot saja sudah hampir 1000 orang. Itu yang di Denpasar dan pakai blogspot. Belum lagi di wilayah lain di Bali dan pakai domain lain.

Balik ke soal kopdar hari ini. Kali ini tempatnya di warungku saja Dapur Redaksi di Renon. Ada Pak Dokter Made Cock, Adi Setiawan, Yanuar, dan Ari. Eh, ada dua orang lagi ding: Bani dan Lode. Tapi dua nama terakhir tuh anak dan istriku. :)) Continue reading “Kopdar Kedua Komunitas Blogger Bali”

Ngenet di Rumah, Semoga Lebih Murah

Ya, setelah lama tertunda, akhirnya bisa juga ngenet dari rumah. Sudah lama banget aku pengen langganan internet di rumah. Dulu pas masih bujangan sih asik aja keluar malam atau jam berapa pun untuk ngenet. Tapi setelah nikah dan punya anak, aku jadi lebih sering males untuk keluar malam.

Udah gitu, kadang-kadang ada saja masalah yang memaksaku untuk cepet2 ke warnet. Misal, Mbak Rita The Jakarta Post tiba2 bilang, “Kirim fotomu sekarang juga ya.” Atau ada sajalah yg lain. Mungkin 70 persen pekerjaanku kini tergantung internet. Padahal ngenet juga lumayan ngabisin duit.

Lalu, akhirnya hari ini aku bisa ngenet di rumah. Ternyata gak mahal2 amat. Semula aku cari handphone CDMA yang bisa dipakai ngenet. Misal Nokia 2865 -apa 2685 ya?- atau sejenisnya. Pas tanya ke Nokia atau toko2 HP, ternyata jenis yg murah di bawah Rp 700 ribu udah gak ada. Karena harga lain terlalu mahal, batal deh beli HP CDMA utk ngenet.

Continue reading “Ngenet di Rumah, Semoga Lebih Murah”