Minggu ini tiba-tiba kematian dan kelahiran datang silih berganti.
Sabtu (15/3) lalu, ayahnya Geg Ary, teman sejak di Pers Mahasiswa Akademik, meninggal karena bronchitis dan stroke. “Kombinasi yang tepat untuk segera mengakhiri hidup,” kata Geg ketika aku telepon Minggu malam setelah aku dapat kabar dari Happy, teman kami, dan aku ricek ke Toni, pacar Geg yang juga temanku.
Kematian itu bener-bener mengagetkanku. Sebab setahuku bapaknya Geg sehat-sehat saja. Ternyata dia sudah dirawat di RS Sanglah hampir sebulan. “Aku memang sengaja merahasiakannya pada kalian,” kata Dung Dung, panggilanku pada teman yang juga karibnya Bunda ini. Geg tinggal di Mengwi, jadi kami tidak bisa langsung main ke rumahnya setelah dapat kabar itu.