Blog

"Mungkin Ini Jalan untuk Jadi Teman.."


Ini semacam koreksi. Jadi aku harus menuliskannya lagi.

Masih soal temanku yang positif HIV. Beberapa hari setelah aku minta maaf itu, dia kembali telpon ngajak ketemu. Semalam kami pun ketemu dan ngobrol lagi soal itu.

Tak seperti sebelumnya, kali ini dia mulai melunak. Bahkan dia juga minta maaf karena terlalu emosional ketika pertama kali ketemu. Saat itu dia memang sampai bilang agar aku meralat semua tulisan yang sudah aku buat. “Bilang saja bahwa tulisan dan foto itu tidak pernah ada,” katanya waktu itu.

Hal yang sangat memalukan sebenarnya kalau aku lakukan. Sebab aku telah membohongi banyak orang kalau itu terjadi. But, demi kepentingan dia, dan rasa bersalahku saat itu aku bilang ok. “Ntar aku ralat,” jawabku.

But, syukurlah aku tak harus melakukan kebohongan itu.

Teman itu bilang, biarlah tulisanku itu telanjur ada. Dia bilang kecewa soal foto dan tulisanku karena ada penyebab. Malam itu, salah satu temannya tiba2 nyletuk bilang dia kena AIDS. Karena itu dia kaget dan marah. Bahkan sampai mau berantem.

Menurutnya, entah kapan itu, suatu saat dia memang akan membuka statusnya yang positif HIV pada keluarganya. “Mungkin tulisanmu itu bisa jadi pembuka aku untuk terus terang pada keluarga,” katanya. Menurutku, diskriminasi pada orang dengan HIV/AIDS (Odha) bisa juga karena Odha sendiri yang malu membuka statusnya. Padahal HIV/AIDS sama saja dengan virus atau penyakit lain.

Malam itu, syukurlah, kami akhirnya berdamai dengan emosi masing-masing. Bahkan dia bilang, “Mungkin ini jalan untuk kita berteman..” Ya, menjadi teman memang bisa dengan banyak jalan..

Telur dan Ayam Keterbukaan Odha

Pas aku lagi bersih-bersih kamar, HPku berbunyi. Baru sekitar pukul 08.30. Bagiku itu masih pagi. Jadinya agak heran sepagi itu sudah ada yang telpon.

“Mas, gimana kok fotoku bisa jelas gitu? Katanya dulu mau diblurin?” penelpon itu to the point dengan masalahnya setelah memperkenalkan diri dan memastikan bahwa aku yang menerima telponnya.

Aku gelagapan. Aku minta maaf dengan sedikit kagok. Lalu bilang lebih baik ketemu saja jam 11an di kantornya.

Teman itu, sebuat saja namanya Dani. Dia positif HIV. Tertularnya dia sendiri tidak bisa memastikan. Kemungkinan antara jarum suntik pas pakai heroin, bisa jadi karena suka ganti pasangan seksual tanpa alat pengaman. –Btw, kalo disebutkan penyebab, bukan berarti penularan hanya dari dua sebab itu. Juga bukan berarti seperti menegaskan bahwa penularan hanya terjadi pada kelompok ini. Aku gak bermaksud melakukan stigmatisasi-

Bulan lalu, aku wawancara Dani untuk testimoni di media soal HIV/AIDS dan narkoba, salah satu tempat aku kerja. Testimoninya soal status dia yang positif. Waktu itu, sebatas yang aku inget, aku sudah tanyakan soal nama. Dia bilang gak usah nama samaran. Soal foto dia sepakat diblur. Maksudnya dibuat blur agar wajah tidak keliatan. Dan, tabloid itu sudah terbit 9 Juli lalu.

Jam 11 tadi aku sampai di tempat Dani kerja. Tempat itu salah satu lembaga penanggulangan HIV/AIDS di kalangan penyalahguna narkoba dengan jarum suntik, bahasa kerennya injecting drug user (IDU). Persoalannya memang seperti yang dbilang ditelpon. Dia terganggu karena fotonya masih jelas. Sehingga orang yang mengenalnya pasti tahu bahwa foto itu adalah dia. Akibatnya, dia diledekin di antara teman-temannya bahwa dia positif. Bahkan beberapa teman mulai menjauhi dia setelah tahu dia positif HIV..

Aku gak bisa ngotot. Toh, memang dia punya hak untuk keberatan. Dan aku salah karena tidak konfirmasi soal foto itu pada dia sebelumnya. Aku hanya bisa minta maaf, sesuatu yang sangat naif baginya. Dan bla-bla-bla, selama satu jam, posisiku bener-bener dipojokkan. Berkali-kali pula aku minta maaf. Toh, dia dan beberapa teman aktivis LSM itu pun gak bisa ngasi jalan keluar.

Kejadian hari ini, membuatku mikir kembali soal keterbukaan status orang dengan HIV/AIDS (Odha). Terbuka tidaknya mereka atas status positif HIV adalah hak privat teman-teman Odha. Fakta medis itu sama dengan fakta aku panuan atau tidak, aku sakit gigi atau tidak. Orang lain tidak wajib tahu. Namun tidakkah dengan tidak terbukanya mereka itu yang membuat banyak orang juga melihat Odha sebagai sesuatu yang “aneh’. Maksudnya sebagai sesuatu yang “abnormal”?

Enam bulan terakhir aku bergaul dengan mereka, kadang-kadang aku lihat memang asumsi awal mereka sudah menganggap bahwa kalau terbuka mereka akan mendapatkan diskriminasi. Ya, memang benar diskriminasi itu terjadi. Jadi ada yang belum bersedia terbuka karena merasa masyarakat belum sepenuhnya siap menerima Odha di tengah mereka. Tapi ini ya jadi kaya lingkaran ayam dan telur. Duluan mana ayam dan telur.

Ada contoh menarik. Minggu lalu aku wawancara dengan Ian, sebut saja begitu yang juga positif HIV. Dia sangat terbuka. Awalnya dia memang shock ketika tahu dia positif. “Tapi menyembunyikan status tidak akan menyelesaikan masalah,” katanya. Maka dia terbuka pada keluarga dan teman-temannya. Dan tidak ada diskriminasi itu.

Atau aku pribadi. Awal bergaul dengan teman-teman Odha memang sempat ada pikiran menjaga jarak. Tapi makin aku kenal dan dekat dengan mereka, meski tahu statusnya, aku toh biasa saja. Jadi ya, menurutku, perlu ditanyakan kembali pikiran bahwa Odha tidak terbuka karena takut ada diskriminasi dari masyarakat. Jangan-jangan justru sebaliknya, masyarakat melakukan diskriminasi gara-gara Odha tidak terbuka dengan statusnya?

Soal Karir, Masa Depan, dan Kebahagiaan


Akhir-akhir ini aku jadi agak kepikiran soal masa depan. Aku pernah mikir bahwa masa depan adalah tiran. Dia tidak pasti datang, sebab bisa aja abis nulis ini aku mati, tapi banyak orang yang begitu khawatir akan kedatangannya. But, kini aku juga akan jadi korban.

Beberapa hari ini aku pengen aja menjalani rutinitas kayak temen-teman wartawan harian. Ngepos di beberapa tempat, meski belum tentu masuk di media tempatku kerja. Maklum, aku kerja di media mingguan. Sebagian teman pada ngledekin. “Mau jadi wartawan harian, nih,” kata mereka.

-Kebiasaan. Jadi nglantur. Padahal itu bukan poinnya-

Ngeliat temen-temen wartawan harian, dan ngobrol dg mereka, aku makin sadar kalo mereka memang lebih gigih perjuangannya. Mereka bekerja dari jam 8 pagi -proyeksi di kantor- hingga 11 malam -abis deadline-. Gaji mereka mungkin juga pas-pasan. Kalo gak salah, baru masuk cuma sekitar 700 ribu perak. But, mereka punya karir. Aku liat beberapa teman seangkatanku -mulai jadi wartawan sekitar 2001 lalu- sekarang udah pada jadi redaktur.

Ya, mungkin hanya formalitas jabatan. Tapi paling tidak ada sesuatu yang membuat mereka terlihat “lebih berhasil”. Ya, dari reporter jadi redaktur itu tadi. Sedang aku, kalau hanya di Bali, dan jadi koresponden terus -seolah takdir yang ga bisa diubah- paling mentok sampai tua juga jadi koresponden.

Hal ini pula yang pernah membuat berpikir utk ke Jakarta. Ngejar karir. Paling tidak ada sesuatu yang bisa memacuku untuk menghadapi masa depan. Sesuatu yang memang tidak pasti tapi paling tidak aku sedang mempersiapkannya.

But, untuk apa itu semua? Karir, jabatan, apakah memang menjamin kebahagiaan.

Finally, aku ambil keputusan. Ya jalani sajalah. Perjalanan yang sekarang aku lalui pun sudah tahap yang lebih baik daripada yang pernah aku lalui seelumnya. Kalau aku memang ngrasa enjoy dengan ini semua, ya biarlah ini yang aku jalani.

Daripada di Jakarta dengan kehidupan yang begitu menegangkan..

Ngasi Duit Berati Membesarkan Mereka Jadi Preman?


Tadi pagi baca imel dari teman. Imel itu dari milis yang diikutinya. Isinya soal ajakan untuk gak ngasi duit ke anak-anak jalanan, yang juga mengemis. Alasannya, ngasi duit ke mereka sama dengan membesarkan dalam dunia yang kejam. Bahkan mereka akan jadi preman nantinya.

Entahlah. Aku gak yakin-yakin amat dengan hal ini, kecuali memang sudah ada penelitian soal anak-anak itu melihat masa depan. But, sekilas aku baca memang alasan yang dibilang tuh logis juga. Itung-itungan sederhana aja. Tiap orang yang diminta ngasi duit 500 perak. Kalau ada 10 orang aja ngasi ke mereka dalam satu hari, berarti tiap hari mereka dapet 5000. Dalam sebulan, mereka bisa dapet 150.000. Itu minimal lho. Dengan duit segitu, bagi anak-anak, sangat lumayan.

Mereka juga kadang ga sendiri. Ada orang tua juga yang ngoordinir. Satu keluarga bisa dua atau tiga anak.

Ketika dikasi duit, dan selalu dapet, anak-anak itu akan terbiasa -kemudian berpikir- bahwa cukuplah cari duit dengan ngemis. Kebiasaan ini akan berlanjut sampe mereka gede. Kalo ga dikasi, bisa jadi akan pakai kekerasan. Jadi preman.

Salah satu solusinya kemudian adalah ngasi duit itu ke yayasan atau lembaga yang ngurus anak jalanan. Ini juga belum tentu bisa ke anak-anak itu. Tau sendirilah gimana di negeri ini.

Siangnya, aku makan siomay di depan Perguruan Santo Yoseph Denpasar. Ini salah siomay terenak yang aku tau di Denpasar.

Eh, pas baru sampe, beberapa anak jalanan menyerbu minta duit. Biasanya sih aku ngasi aja ke mereka. Bawaanku ga tega sih ngeliat anak-anak itu ngemis. But, aku inget tulisan itu. Dan sikap anak-anak itu emang agak maksa. Aku ga jadi ngasi.

-Anak-anak itu biasanya jadi Desa Ban atau Munti Gunung di daerah Karangasem. Desa kecil yang kering ini memang punya “budaya” ngemis. Hampir seluruh anak jalanan di Denpasar dan Kuta dari desa ini-

Finally akhirnya aku tetep makan siomay itu. Dan anak-anak itu tetep aja menengadahkan tangan minta duit. Tetep aja aku ga tega.

Bingung juga jadinya..

ENCOMPASS goes from strength to strength

After London Bombing

This is a message from everyone at ENCOMPASS (The Daniel BradenReconciliation Trust) to find out how you are doing, and to tell you that there is a new Message Board on our Website www.Encompasstrust.org to help you chat with other past voyagers and give your views on issues that are important to you.

We hope this message finds you well and that your past involvement with ENCOMPASS has helped you develop a better understanding of other people’s views and backgrounds…..and maybe make some sense of the many difficult conflicts around the world, including today’s latest bombings in London. No one from Encompass was hurt in the attacks but we are all greatly saddened that violence continues to be used by those that are unable to accept other people’s beliefs and cultures.

Since your voyage with ENCOMPASS you may have developed your own specific views on how greater understanding can be achieved, or you may havedirectly or indirectly helped others cope with a violent and/or stressful incident (whether natural or man made), or you may have simply spread the ENCOMPASS message of reconciliation in your own way.

Whatever you’ve done we’d love to hear from you, and we’d like to have a selection of your views in our next ENCOMPASS Newsletter. So either reply to this e-mail, use our new Message Board, or write to us at Encompass, 7 Gees Court (off Oxford Street), LONDON, ENGLAND, W1U 1JG.

ENCOMPASS goes from strength to strength, with new staff in our London office, more voyages planned and the start of our first land based activities later this year – see more on our website www.Encompasstrust.org.

Juni, Juli, Judi alias Berjudi Sampai Mati [Hi.hi.hi..]

Dalam fit and proper test calon Kapolri kemarin [4/7] Komjen Sutanto menjanjikan akan memprioritaskan pemberantasan soal judi dan narkoba. Calon pengganti Da’i Bachtiar itu memang dikenal sebagai “jenderal merah” bagi para penjudi, entah kelas kakap ataupun kelas teri. Soal narkoba, aku gak tau persis berhubungan langsung apa tidak. Namun sejak dia menjabat jadi Ketua Badan Narkotika Nasional (BNN), prestasi BNN dalam mengungkap masalah penyalahgunaan narkoba. BNN terasa lebih didengar padahal perannya selama ini nyaris tenggelam.

Ya, wajarlah kalo aku juga menaruh harapan.

Pernyataan Sutanto, jenderal yang ternyata tidak bisa Bahasa Inggris itu, patut didukung. Entah nanti terbukti atau tidak. Itikad baiknya, patutlah diacungi jempol.

Dua masalah itu bener-bener nyata begitu banyak terjadi. Soal narkoba, tambah banyak aja yang terjerat. Bisnis ini memang salah satu bisnis terbesar di dunia selain senjata dan wanita. Katanya sih gitu dari yang pernah aku tau.

Lalu soal judi. Katakanlah toto gelap alias togel. Pas aku ngetik ini, hanya berjarak tak sampai 20 meter dariku, beberapa orang sedang sibuk melihat-lihat angka di kertas putih. Mereka sibuk mencari kira-kira anka berapa yang akan keluar besok. Kalau angka yang ditebak benar, mereka bisa dapat puluhan bahkan ratusan kali lipat. Misalnya pasang empat angka, dan keluar. Dengan modal hanya 1000 perak bisa dapet 60.000. Tiga angka bisa dapet 600.000 dan seterusnya.

Tiap sore, pemandangan sserupa banyak banget terlihat di pojok-pojok perumahan. Di satu jalan kecil, jalan perkampungan, bisa ada sampai lima tempat orang jual kupon itu. Dengan lampu sedikit remang, beberapa orang mengelilingi penjual kupon. Besok pagi di tempat itu sudah ada tulisan besar di kertas kuarto putih yang menunjukkan angka yang keluar. Di Denpasar, hampir tidak ada jalan kampung yang tidak ada penjual togel ini.

Dan, rasanya ini tidak hanya di Denpasar. Aku baca di Kompas Minggu lalu soal Tukiman, kakek berusia 74 tahun di Pekanbaru. Kejadiannya pekan lalu. Pas lagi sibuk corat-coret menghitung angka togel di warung kopi, Tukiman tiba-tiba dia tertelungkup di meja. Pas dibangunin, dia tidak bangun-bangun. Ternyata Tukiman telah mati. Dengan kepala menempel di kertas togel di meja. Tragis…

Selalu Ada Alasan Membedakan Tiap Orang

Beberapa waktu lalu, seorang teman cerita tentang pernikahannya yang tertunda. Dia sudah kerja di bidang teknologi informasi. Jebolan Ilmu Komputer UGM, siapa sih yang akan menolak lamarannya? Selain ngrawat beberapa situs, teman itu juga kerja layout dan ngajar di salah satu universitas swasta di Bali. Artinya, secara materi dan status sosial, teman itu jelas lengkap.

Namun itu bukan modal untuk menjamin romantika yang mulus.

Dia sudah pacaran dengan ceweknya, seorang dokter –nah, kan apalagi yang kurang coba?- sejak mereka kuliah. Jadi ya sekitar tujuh tahun pacaran. Umur mereka hampir 30 tahun. Wajar kan kalo mereka sudah berniat menikah.

Masalahnya adalah, teman itu anak laki-laki satu-satunya di keluarganya. Sedangkan ceweknya anak tunggal. Di Bali, kalau pasangan seperti ini hampir seluruhnya bermasalah. Sebab tiap keluarga di Bali memerlukan pewaris. Mungkin ini di semua tempat, tapi di Bali sangat kuat. Dan pewaris itu haruslah laki-laki.

Keluarga cewek meminta agar temanku itu nyentana (baca nyentane). Artinya dia harus masuk ke keluarga cewek. Secara adat istiadat, dia pun terikat pada keluarga si cewek. Misalnya soal kewajiban ke banjar atau pura. Temanku itu, tentu saja, tidak mau. Sebab dia juga harus meneruskan keluarganya. Dia laki-laki satu-satunya. Kalau dia pergi, maka keluarganya juga tidak punya penerus. Kecuali nanti adiknya ngajak dengan laki-laki yang mau nyentana.

Singkat kata, faktor pembeda mereka adalah karena si cewek anak tunggal dan temanku itu anak laki-laki satu-satunya. Pernikahan mereka terus tertunda. Keduanya sudah sangat inging menikah. Dan tidak ada masalah dengan perbedaan itu. Namun orang tua mereka yang belum mau mengalah salah satunya.

Kenyataan ini yang mengusik pikiranku. Selalu saja ada faktor pembeda bagi pasangan yang mau menikah. Aku bercermin pada mereka. Kasusku sama. Cuma faktor pembeda antara aku dan cewekku adalah agama, dan suku. Aku Muslim, meski gak taat-taat amat J. Dia Hindu, meski juga jarang sembahyang J. Aku Jawa. Dia Bali. Tidak mudah menjalaninya. Toh, kami bisa berjalan hingga saat ini. Dan, kedua orang tua kami akhirnya bisa menerima meski awalnya susah juga.

Senula orang tua kami lebih suka kalau milih pasangan yang sama saja. Misalnya sama-sama muslim, atau sama-sama Bali. Nyatanya toh yang sesama Bali pun bukan berarti bisa mulus hubungannya.

Atau yang sama-sama muslim. Aku inget juga teman di kampung. Mereka sama-sama muslim. Toh, bukan berarti urusan mereka lancar. Sebab tetap saja ada faktor pembeda. Satunya Muhammadiyah. Satunya NU. Walah, susah banget sih dengan urusan identitas.

Kakak pertamaku dulu pun begitu. Orangtuaku yang Muhammadiyah thothok, tidak mau berbesan dengan orang NU. Nyatanya kakakku tetap menikah. Dan orangtuaku juga bisa menerima biasa akhirnya.

Intinya pasangan dengan faktor persamaan apa pun, selalu saja ada faktor yang membuat mereka berbeda. Kalau bukan cinta yang menyatukan perbedaan iu, lalu apalagi?

HATJING!

Pilkada Langsung Bukan Segalanya

Beda dengan pemilu legislatif atau pemilihan presiden tahun lalu, aku merasa lebih semangat pas Pilkada hari ini. Sebagai warga Denpasar yang baik, dengan senang hati aku juga ikut milih. Gak tau ya, rasanya beda aja. Mungkin karena ini milih Walikota, bukan presiden, jadi kesannya lebih deket secara psikologis. Padahal tiap Pemilu sebelumnya aku gak pernah milih. 🙂

Di Bali, hari ini sekalian ada lima daerah yang melakukan Pilkada yaitu di Denpasar, Tabanan, Badung, Bangli, dan Karangasem. Pagi kemarin aku ikut milih di TPS Banjar Antap, Desa Panjer, Kecamatan Denpasar Selatan. Lumayan lancar, meski sempet toleh-toleh. Maklum gak pernah nyoblos sebelumnya. Begitu nyerahin kartu pemilih, dapat kartu suara, coblos, lipet, masukin kotak suara. Memang bener kata Megawati, gak sampai lima menit untuk nyoblos. Sangat simpel. Tapi konsekuensinya itu, lima tahun..

Lima tahun lagi itu yang memang perlu dipikir. Coblosan yang hanya lima menit itu memang berarti. Sebab, sebagai warga negara, mereka yang memilih telah dilibatkan untuk menentukan siapa pemimpin mereka yang layak selama lima tahun. But, Pilkada langsung bukanlah segalanya. Masih banyak agenda setelah itu sebagai bentuk keterlibatan warga.

Simpel aja. Bagaimana misalnya nanti, kami yang udah milih itu juga dilibatkan dalam penyusunan anggaran, atau perencanaan pembangunan kota, atau diberikan akses informasi tentang kota. Intinya adalah warga kota dilibatkan tidak hanya saat milih pemimpin tapi juga merencanakan jalannya sistem itu.

Ini yang juga harus segera diwujudkan!

Solidaritas untuk Pengusutan Pembunuhan Munir

-ngambil dari sebuah milis. barangkali ada yang mau SMS ke SBY-

Teman-teman semua,

Pengungkapan kasus pembunuhan politik terhadap Munir saat ini menghadapi ujian yang berat. Hasil penyelidikan yang dilakukan oleh Tim Pencari Fakta (TPF) dan Polri saat ini baru sampai pada proses penahanan seorang pilot Garuda beserta 2 orang crewnya.

Mandat kerja Tim Pencari Fakta (TPF) pembunuhan politik terhadap Munir, yang dibentuk oleh Presiden RI melalui Keputusan Presiden, akan berakhir pada tanggal
23 Juni 2005. Berakhirnya masa kerja tahap kedua TPF tersebut sangat merisaukan para pendamba keadilan dan demokrasi di negeri ini. Mengingat dalam 3 bulan masa kerjanya, TPF bisa dikatakan telah gagal menembus benteng "privilege" person-person kunci di tubuh Badan Intelijen Negara (BIN). Padahal dari berbagai data dan
hasil penyelidikannya, TPF serta Polri menemukan adanya (indikasi kuat) hubungan antara para tersangka yang kini ditahan dengan beberapa personil di institusi tersebut.

Apabila proses penyelidikan tersebut terkunci (berhenti) hanya pada para tersangka tersebut, maka bisa dipastikan pengungkapan kasus ini akan gagal. Tidak ditemukannya motif politik serta kurangnya alat-alat bukti akan meringankan ayunan palu hakim
dipersidangan dalam memvonis bebas para tersangka. Sekali lagi, Indonesia makin dikenal masyarakat internasional sebagai negara dengan kasus pelanggaran HAM paling banyak, namun yang paling sedikit menghukum para pelaku. Dan hal ini tentu saja menjadi ironi dari statemen Presiden SBY yang mengatakan bahwa, "Pengungkapan kasus pembunuhan Munir adalah salah satu indikator dari kemajuan proses demokratisasi dan
penghargaan HAM di Indonesia".

Untuk itu, saya meminta kerelaan teman-teman mengirimkan SMS kepada presiden SBY sebagai upaya untuk mengingatkan beliau pada tanggungjawabnya tersebut. Berdasarkan perkembangan penyelidikan yang telah dicapai, maka kita tetap membutuhkan adanya TPF
yang kredibel dengan struktur dan kewenangan yang lebih kuat dalam mengawal proses pengungkapan kasus pembunuhan politik terhadap Munir. Teman-teman bisa menyusun sendiri redaksional dari pesan singkat desakan tersebut.

SMS bisa dikirim ke nomor 9949 atau +629949 (untuk pengiriman dari luar negeri). Tolong pesan ini Anda forward ke teman lainnya.

Terima kasih,

In Solidarity

Raharja Waluya Jati

Gizi Generasi Televisi

-opini favorit minggu ini. keren banget-

Gizi Generasi Televisi

Oleh Tan Shot Yen

SAYA terenyak ketika sopir taksi yang saya tumpangi mengeluh. Uang dua puluh ribu rupiah yang dibawanya pulang habis dalam sehari untuk jajanan kedua anaknya yang masih di bangku SD. Lebih mencengangkan lagi ketika ia menyebutkan berbagai merek jenis makanan kemasan yang menjadi favorit anak-anak itu. Mereka sudah tidak pernah mau menyentuh sayur kecuali dipaksa dan diancam.

Aneka rasa makanan dalam aneka kemasan menawan merambah warung-warung kecil. Paha ayam dan irisan sayur hijau-cukup berupa gambar pada bungkusnya-serta pernyataan “diperkaya oleh mineral dan zat gizi” ampuh mendongkrak nilai jual. Padahal, kompleksitas kebutuhan gizi manusia jelas melampaui angka yang tertera. Pernah, seorang artis cilik dalam iklan televisi menepis buah jeruk asli demi dagangan terbarunya: serbuk minuman artifisial beraroma jeruk.

Masalah busung lapar pertama-tama adalah masalah ketidakadilan ekonomi. Situasi ini diperparah dengan terpesonanya pemerintah oleh investasi pelbagai produk industri pangan. Bukan hanya abai terhadap tanggung jawabnya menyediakan pangan bersubsidi bagi kaum miskin dan memberikan pendidikan pangan yang adil serta mendasar (baca: bebas kepentingan investasi produk industri pangan), pemerintah juga tidak lagi mencermati hasil-hasil penelitian tentang korelasi produk teknologi pangan dan dampaknya di kemudian hari.

Kenyang semu

Saat ini pemenuhan kebutuhan gizi manusia sehat bersumber dari alam tergilas keberingasan investasi industri pangan. Pasar banjir oleh refined foods dengan segala risikonya, termasuk meningkatkan penyakit kardiovaskuler, menekan daya kekebalan tubuh, mencetuskan reaksi peradangan tersembunyi dan rasa sakit kronis. Sudah bertahun-tahun Barry Sears-pakar biokimia dan nutrisi-menjadi musuh bebuyutan industri pangan Amerika Serikat karena pemaparannya.

Dengan minimnya pengetahuan tentang makanan sehat, bagaimana masyarakat dapat membuat pilihan bijak? Terpesona akan tayangan iklan makanan, bangsa yang kini lebih mahir menonton televisi ketimbang membaca menjadi ladang subur bagi tumbuhnya “makanan dagang”. Seorang ibu akan merasa lebih berdosa bila tak mampu membeli susu dan biskuit anjuran iklan ketimbang memberi dua potong tempe dan sepiring sayur bayam yang bisa dikonsumsi tiga kali sehari. Pernah seorang ibu miskin bersikukuh memberikan susu kaleng kepada anak balitanya. Jadilah satu sendok teh bubuk susu terlarut dalam dua ratus cc botol bayi!

Tidak ada kebijakan dan intervensi pemerintah saat ini yang sanggup membendung komersialisasi pangan menyesatkan, bahkan pantas dituding sebagai salah satu penyebab malnutrisi. Minimnya informasi mengenai sumber pangan sehat yang terjangkau semua lapisan jelas mencerminkan kekalahan food for health dalam perang melawan food for commerce yang tengah mengambil korban rakyat jelata.

Malnutrisi tidak lagi melanda mereka yang sungguh-sungguh miskin, tetapi juga yang miskin pengetahuan kesehatan sebenarnya, yang sirna oleh simulacra kecanggihan sains. Kita sibuk mencari virus baru atau mutasinya sebagai penyebab penyakit yang tiba-tiba mencuat menjadi perhatian massa. Mengapa tidak mencermati pertanyaan ini: Bagaimana daya tahan tubuh manusia diserang?

Bukan suatu kebetulan bahwa dalam rentetan penyakit virus-sebutlah SARS, flu burung, demam berdarah dengue, polio-ujungnya mendapat gong besar: busung lapar. Daya tahan kekebalan tubuh menderita secara kronis hingga anjlok ke titik paling rendah-dan saat itu serangan penyakit mendera.

Sirnanya keprofesian

Kita berada di puncak kejenuhan antara keserakahan dalam bentuk komersialisasi dan tuntutan alam yang senantiasa menghendaki kesetimbangan serta harmoni. Simulacra menggiurkan tengah “mengenyangkan” perut bangsa ini, dari lapisan massa yang “kurang berpendidikan” hingga mereka yang berprofesi pemberi jasa pelayanan masyarakat.

Berbagai masalah kesehatan tidak lagi ditangani melalui cara berpikir rasional yang dapat dipertanggungjawabkan. Pemenuhan prosedur menjadi jauh lebih utama. Padahal, begitu banyak prosedur masih bertabrakan dengan berbagai kepentingan. Wajar jika seorang ibu perlu membawa pulang bayinya yang busung lapar dari rumah sakit hingga mati di rumah karena biaya rumah sakit sudah tak tertanggungkan. Rumah sakit dalam hal ini selalu tampak “benar”. Mereka punya surat sakti: tanda tangan pasien menolak rawat atau “pulang paksa”. Apa pun alasannya. Sistem pelayanan kesehatan dan pemerintah pun terbebas dari tanggung jawab moral.

Kepentingan komersial meluluhlantakkan aspek moral dan pelayanan yang bersifat lege artis (sesuai dengan keprofesian). Privatisasi Rumah Sakit Umum Daerah adalah fenomena terpentalnya pemerintah sebagai penyelenggara public service dalam kinerja infrastruktur, untuk lalu terperangkap dalam laissez faire. Horornya: privatisasi dianggap dengan sendirinya “meningkatkan kualitas”. Caranya, biarkan rumah sakit saling bersaing termasuk menjejalinya dengan alat kesehatan berteknologi canggih yang mengakibatkan biaya pelayanan melonjak. Ke mana akan pergi si miskin busung lapar?

Samsi Jacobalis, mantan Ketua Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia, pernah mengatakan, sains makin didominasi teknologi, sedangkan teknologi makin didominasi motivasi mencari laba. Artinya, sains dan teknologi cenderung menjadi alat kekuasaan bisnis global. Adakalanya teknologi canggih digunakan bukan atas indikasi medik yang mutlak, melainkan demi pengembalian modal investasi alias kredit bank yang dpergunakan membeli alat itu.

Dalam “RS Indonesia Tak Siap Bersaing” (Kompas, 22/12/2004) tersingkap lebar testimoni memalukan. Nyawa manusia dipertaruhkan demi kepentingan-kepentingan yang sulit diterangkan.

Kriminalitas komersialisasi

Menangani busung lapar secara terpadu adalah satu hal. Tetapi tanpa keseriusan pendidikan yang adil tentang pangan sehat plus murah, terutama tanpa ketegasan pemerintah menangani komersialisasi pangan, ancaman malnutrisi tidak berhenti. Pemberdayaan masyarakat agar mampu menentukan dengan bijak kelangsungan hidupnya adalah kewajiban pemerintah yang tak bisa dielakkan. Bukan hanya menggratiskan biaya perawatan. Jika sehat, masyarakat tidak perlu rumah sakit. Tentu saja ini mengandaikan media bersedia mendidik ulang selera pasar dan gaya hidup.

Sumber protein bayi yang terbaik bukan biskuit dengan kemasan bergambar bayi montok kebule-bu
lean. Makanan instan yang didistribusikan saat bencana alam bukan dewa penolong modern ketimbang dapur umum zaman lauk tempe dan sayur asem. Bangsa ini memang sedang diracuni komersialisasi teknologi pangan. Hedonisme rasa membungkam ratapan tubuh yang haus makanan sehat.

Komersialisasi di era global adalah soal biasa. Tetapi ketika melibatkan jenis pangan dan pelayanan kesehatan paling dasar, apalagi menyangkut hidup mati orang, komersialisasi adalah sebuah kriminalitas.

Tan Shot Yen Seorang Dokter, Peserta Program Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Jakarta