Blog

Mari Beribadah dengan Merdeka

Puasa uda hampir kelar. Ga kerasa apa-apa. :))

Posting soal puasa juga baru kali ini, seingetku. Jadi aku ambil dari tulisan di Kompas beberapa hari lalu aja deh.

Ada tiga jenis orang yg beribadah.
1) orang beribadah karena pengen masuk surga. ini jenis pedagang.
2) orang beribadah karena takut masuk neraka. ini jenis budak.
3) orang beribadah karena syukur pada-Nya. ini jenis orang merdeka.

Ah, syukurlah aku jarang beribadah krn alasan pengen masuk surga atau takut masuk neraka. Ya gimana. Mau masuk surga modal pas2an. Mau nolak masuk neraka, dosanya banyak. :))

Yowis. Gitu aja lah..

Menimbang antara Kebebasan dan Kepastian

“Aku ga butuh siapa-siapa. Aku cuma butuh kamu,” kata istriku di tengah isaknya.

Aduh, sedemikiankah? Aku diem. Ga bisa jawab.

Kemarin malam pukul 7.30an aku baru sampai rumah. Seharian ada exercise interview untuk lamaran pekerjaan baru.

Ceritanya aku mulai bosen jadi wartawan koresponden -kadang2 freelance- di Bali. Lahirnya Bani membuat aku berpikir ulang tentang perlunya kepastian masa depan. Bahwa ada sesuatu yg lebih pasti dibanding kebebasan. Lalu aku nglamar jadi pemimpin redaksi majalah komunitas NGO internasional di bidang pertanian berkelanjutan. Ya sekaligus melompat ke tempat yg lebih baik. Apa salahnya?

Kemarin pada tahap terakhir untuk penentuan diterima apa tidak. Katanya sih aku satu dari dua kandidat terpilih dari 36 pelamar. Artinya kans-ku separuh2 untuk diterima di sana.

Karena seharian wawacara itu, aku pulang agak telat. Padahal setelah Bani lahir dan kebetualn banget pas puasa, aku jarang ke luar rumah. Lebih sering momong anak atau hanya main game di rumah. Lahirnya Bani, bagiku, seperti keajaiban. Ada sesuatu yg luar biasa dan jadi motivasi.

Tapi istriku agak berbeda. Dua malam pertama di rumah setelah melahirkan, dia tiba2 menangis. Air matanya mengalir. Dia terisak-isak. Dia mengaku kena sindrom ketakutan tidak bisa ngasuh anak. Atau setidaknya takut anak kami kenapa2 dan kami tidak bisa mengurusnya. Sejak awal, kami memang memutuskan akan mengasuh anak kami berdua saja. Tidak usah ada orang lain, orang tua kami sekali pun. Karena itu kalau salah satu di antara kami keluar, maka salah satunya mengurus Bani. Sendiri.

Dan, aku yang lebih sering keluar..

Biasanya sih cuma sampai sore. Tapi kemarin sampai lewat setelah Maghrib. Dan itu jadi masalah. Ketakutan istriku muncul lagi. Dia nangis terisak. Bahkan ketika aku sudah sampai rumah. Aku antara ngrasa berdosa dan bingung.

Bingung karena aku jadi menimbang kembali: Apakah aku akan memilih kerja di tempat lebih bagus dan pasti namun waktu utk keluarga berkurang? Atau aku tetap seperti ini: Pekerjaan dan pendapatan tak pasti, tapi lebih punya kebebasan bersama istri, dan BANI?

Aku masih di persimpangan. Bimbang..

Mbok Ya Hormati yang Gak Ngrokok

Ketika tiba giliranku untuk bayar di loket, aku maju ke kasir. Hari ini aku bayar listrik. Setelah ngantri sekitar setengah jam, nomorku muncul juga di layar pemanggil.

Sampai di meja kasir, seorang bapak juga berdiri di sebelah kananku. Dia agak ngotot mendahuluiku. Yowislah. Aku sabar aja. Ngalah..

Masalahnya justru karena bapak itu ngisep rokok. Asapnya mengganggu banget. Setahuku ruangan itu ber-AC. Artinya dilarang ngrokok di dalam. Pas baru masuk juga aku liat banyak orang duduk di luar untuk ngrokok. Artinya ya memang ga boleh ngrokok di ruangan.

Bapak itu, dengan cueknya ngisep rokok lalu menghembuskan asapnya. Kalau ga diisep, rokok di tangannya juga tetap ngeluarin asap yang menggangguku.

Aku sendiri kadang2 ngrokok. Lumayan sering malah meski ga terlalu banyak. Tapi ngeliat bapak itu ngrokok aku jadi sebel banget. Ya masa sih di ruangan ber-AC dan lagi bayar di kasir masa dia dengan cueknya ngrokok.

Tahu sih itu rokok2mu sendiri, Pak. Beli juga pakai duitmu sendiri. Ngisep juga make bibirmu sendiri. Tapi mbok ya hormati orang yg ga ngrokok. Apa sih susahnya?

Melintas Batas yang Tak Jelas

Kamis ini puasa hari ke berapa ya Ramadhan ini? :)) Wah, di Bali memang ga terasa puasanya. Selain karena suasana yang biasa juga karena aku sendiri juga adem ayem. Bedanya puasa kali karena udah ada Bani. Jadi kalau bangun sahur ga perlu pakai alarm lagi. Soale pas jam2 sahur, Bani selalu bangun. Mau ikut sahur kali. :))

Yg menarik dari Ramadhan kali ini justru karena ada kuis SuperDeal 2 Milyar di ANTV. Ini kuis sableng yg bisa dengan mudah bagi2 duit. Ga perlu cerdas utk bisa dapet hadian gede2. Cukup bisa menebak.

Caranya pembawa acara milih tiga atau empat peserta. Pemilihannya atas dasar apa ga jelas. Pokoknya terserah maunya si pembawa acara. Dari tiga atau empat itu satu orang berhak maju setelah bersaing satu sama lain. Bisa dengan cara mengatur puzzle atau hanya menebak kotak mana berisi duit lebih banyak.

Satu orang yg maju itu kemudian ditawari duit lebih banyak maksimal sampai Rp 12 juta atau milih satu tirai. Ada tiga atau empat tirai. Ada yg berisi mobil, sapu bekas, sepeda motor, uang tunai. Macam-macamlah. Modalnya ya itu tadi. Peserta cuma nebak2 aja tirai mana yg isinya lebih banyak. Kalau dapat mobil syukur. Kalau dapat sapu bekas, syukurin!

Lucunya karena ada hadiah umorh juga. Alamak!

Dilihat dari sifatnya yg bertaruh, bagi aku ya kuis ini mirip2 judi. Bedanya si pemain ga modal duit sama sekali. Kalau toh dapet sapu bekas, misalnya, dia cuma kehilangan duit yg seharusnya dia dapet. Tapi duit itu sejak awal juga bukan miliknya.

Kenapa lucu? Ya iyalah. Ada orang bisa umroh karena pertaruhan nasib. Ga jelas lagi mana batasan umroh yg konon sakral itu. Parahnya lagi ini didapat dari bertaruh, unsur utama judi.

Yg bikin geregetan itu kalau ngeliat orang disuruh milih duit Rp 10 juta yg sudah di tangannya atau tirai. Udah ada duit sepuluh jeti, -gratis! tanpa berkeringat apalagi banting tulang-, eh dia bilang minta ditambah. Bener2 manusia emang jarang yg bisa syukur. Makanya aku syukurin aja kalau ada yg nolak duit lalu dapet ZONK! alias sesuatu yg ga berguna.

Ga jelas. Aku nyukurin gara2 sebel sama orang yg nolak duit itu apa karena aku ngiri ga bisa ikut kuis yg bikin ngiler itu. :))

Kami Bukan Benda Mati, Pak Dokter..

Menuruti anjuran dokter, Sabtu malam lalu kami memeriksakan Bani ke dokter anak. Ketika cabut dari rumah sakit, memang diberi saran. Pertama istri harus cek up. Kedua, Bani juga demikian. Sabtu malam lalu, tepat Bani berumur seminggu kami membawanya ke dokter anak yang juga membantu kelahirannya.

Kami agak malas sebenarnya. Pertama menurut kami Bani baik2 saja. Kedua tempat praktek dokter itu jauh dari rumah kami. Ketiga kami ga mau bawa Bani keluar malam2. But, ya gimana lagi. Ga ada pilihan lain. Takutnya malah Bani kenapa2 kalo ga ke dokter.

Tempat dokter itu sekitar 2 km dari rumah. Kami menyelimuti Bani. Naik motor malam ke tempat praktiknya.

Sampai sana, ternyata banyak juga pasiennya. Ada sekitar 10 pasien. Semua bawa bayi, tentu saja. Masalahnya tempat itu sempit banget. Ruangan menunggu sangat sumpek. Tempatnya persis pinggir jalan. Suara kendaraan lewat sangat ribut. Istri mengeluh terus dengan kondisi itu.

Kami dapat nomor antri 20 yang pesan lewat telepon. Anehnya dua orang lain yang menunggu juga menggenggam nomor yang sama. Untungnya mereka datang belakang. Sehingga kami yg duluan masuk ketika nomor 20 dipanggil.

Ruangan dokter itu juga sempit. Persis pas buka pintu langsung berhadapan dengan mejanya. Aduh, ini ruang dokter kok ga nyaman banget sih. Bani dicek kesehatannya. Lalu diimunisasi. Singkat. Tak sampai 5 menit. Habis itu istri diberi tahu tentang bagaimana memberi ASI dan apa yg dilakukan setelah menyusui.

Sebelum berangkat, kami sudah menyiapkan lima pertanyaan utk dokter. Misalnya soal dahak, cegukan, minum susu sambil tidur, dan daya tahan susu formula. But, belum semua pertanyaan kami ajukan, perawat pembantu dokter sudah memanggil pasien lain. Kami masih di ruangan. Masih gendong Bani. Masih bingung dengan beberapa pertanyaan. Kami merasa diacuhkan.

Oh, beginikah pelayanan dokter ini? Kami dianggap barang yang dengan mudah digeser2 tanpa ada perasaan. Dia mungkin tak sadar bahwa kenyamanan jadi hal penting dlm pelayanan. Kami bukan benda mati, Pak Dokter.

Ketika sampai rumah. Aku dan istri ngobrol. Sepertinya kami tak akan pernah kembali minta pelayanan dari dokter itu. Tidak menyenangkan!

Selalu Ada Tempat Bermula dan Selalu Ada Tempat untuk Kembali

Setelah memindah istri dari ruang operasi ke ruang recovery, aku menunggu Bani akan dibawa ke ruang itu juga. Namun perawat yang datang memberi aku ari-ari di dalam tembikar seperti kendi.

Menurut ritual Jawa atau Bali, ari-ari biasa ditanam di rumah. Ari-ari dianggap sebagai saudara kandung si bayi. Aku ga terlalu ngerti soal ini. Tapi sepertinya asik juga kalau punya ritual tertentu menyambut si bayi. Maka ari-ari itu aku bawa pulang untuk kutanam di rumah.

Aku cari tempat di halaman depan, mepet tembok, di bawah pelangkiran [tempat menaruh banten kalau sembahyang]. Aku bongkar grass block di situ menggali sekitar 30 cm. Kami sudah sepakat sebelumnya untuk menanam ari-ari itu bersama globe [bola dunia] dan pulpen. Kami pengen si Bani bisa menjelajah dunia bermodal pulpen. Tak logis memang. Tapi bagiku, menanam ari-ari bersama globe dan pulpen hanya simbol harapan kami pada si Bani.

Untuk menutup kendi, aku ambil Kompas edisi Sabtu [23/09] tersebut. Aku ambil halaman Internasional yang -kebetulan banget- ternyata satu bagian dengan opini tentang perlunya rendah hati saat puasa.

Aku tanam di halaman rumah. Aku bacakan doa. “Bani anak kami. Aku kubur saudaramu dengan sebuah harapan. Bahwa kau bisa jadi orang yang lebih baik dari kami. Bisa peduli para orang lain tanpa melihat asal usulnya. Bisa membela orang2 kalah. Bisa berempati pada orang2 tertindas. Dan, kau seperti namamu, akan berani menulis untuk mengubah sesuatu.”

“Oya, kami juga berharap kamu bisa menjelajah dunia dengan tulisan2mu itu.. Bisa bertemu dengan beragam budaya. Menjelajah semua benua. Membuka pikiran seluas-luasnya.”

“Bani anak kami. Kamu hanya titipan. Kami hanya tempat kau pernah lahir. Kalau sudah besar, larilah. Kejarlah apa yang kamu cari. Namun percayalah bahwa apa pun adamu, kami selalu siap menerima keluhmu. Siap menerimamu ketika letih dalam perjalanan.”

“Bani, rumah ini tempatmu berasal dan tempat mu boleh kembali kapan pun..”

“Bani, anak kami. Selalu ada tempat bermula. Dan selalu ada tempat untuk kembali..”

Welcome to The Jungle, Bani Nawalapatra

Sabtu [23/09] pukul 08 pagi. Puasa Ramadhan 1427 H tinggal sehari lagi. Kami sedang baca koran dan minum kopi.

Istriku masuk kamar mandi. Aku masih duduk di ruang tamu sambil baca koran. Istriku berseru, “Yah, kok vaginaku keluar darah ya?”.

“Bani mau lahir kali,” jawabku. Hanya bercanda.

Aku masuk kamar mandi juga. Ada darah mengental di dudukan toilet. Dari vagina istri keluar air. Kami hanya menduga itu air ketuban. Tapi tidak terlalu yakin. Kami kembali ke kamar tamu. Duduk. Lalu telepon salah satu teman yang sudah dua kali melahirkan. Dia menyarankan kami periksa ke dokter. “Jangan-jangan itu benar air ketuban,” katanya.

Air itu, yang istriku dan aku juga belum yakin air ketuban, terus keluar. Kami sepakat segera ke rumah sakit Puri Bunda, yang tak jauh dari rumah dan sudah dirujuk dokter. Tanpa mandi, kami berangkat

Kami masuk ruang unit gawat darurat (UGD). Istriku berbaring setelah bajunya diganti perawat. Tak lama kemudian dokter, tempat kami biasa memeriksa kandungan, datang. Dia memeriksa air itu. “Benar. Ini air ketuban. Sekarang ibu harus menunggu sampai jam dua. Kalau air ketubannya masih keluar terus, berarti ibu harus melahirkan hari ini. Tapi kalau berhenti ya belum tentu,” katanya.

Kami menunggu. Istri berbaring, aku duduk di sebelahnya. Aku sempat pulang ke rumah sekitar 30 menit untuk bersih-bersih rumah. Ketika balik ke rumah sakit, ternyata istri sudah pindah ke ruang bersalin. Di kanan kiri kami terdengar ibu-ibu mengerang kesakitan karena melahirkan. Ada yang udah dua hari berusaha tapi anaknya tak keluar juga. Ada yang baru 30 menit bayinya sudah lahir.

Kami menunggu. Waktu berjalan sangat lambat. Kami masih dalam pertanyaan besar apa memang bayi kami akan lahir Sabtu siang itu.

Sekitar pukul 12, seorang perawat ngasi tahu kalau bayi harus dilahirkan hari itu lewat operasi. Kami tidak punya pilihan. Makin cepat melahirkan makin baik. Namun kami masih harus menunggu. Sebab, operasi baru akan dilakukan pukul 2 siang.

Kami menunggu. Waktu berjalan sangat lambat.

Pukul 13.30 perawat datang mengajak istri ke ruang operasi. Aku ga boleh ikut. Aku nunggu di ruang lobi. Bagiku waktu berjalan sangat lambat. Dunia seperti berjalan pelan. Aku deg-degan. Antara cemas, senang. Tidak jelas. Aku bolak-balik antara ruang operasi dan tempat nunggu.

Setengah jam menunggu, aku mendekati ruang operasi lagi. Tak lama keluar perawat mendorong tempat tidur bayi. Perasaanku mengatakan, “Itu bayiku!”

“Bapak suaminya Bu Suriyani?”

“Ya, Bu.”

“Selamat ya. Anaknya sudah lahir. Cowok. Sehat.”

Aku mendekati bayi itu. Menyentuh pipinya. Menyentuh kulitnya. Anak kami telah lahir. Aku ga bisa menuliskan perasaanku. Dalam hati aku menyambutnya. Selamat datang di belantara dunia, Bani Nawalapatra..

Puputan Badung Seabad Kemudian

Huh, akhirnya posting juga. Minggu ini banyak kerjaan. -Apa banyak kemalasan ya? :))- Intinya ga sempat posting meski ada beberapa hal yang pengen disimpan rapi di blog ini. But, ya karena kerjaan, ya karena malas itu tadi. Jadinya ga sempet nulis di blog. But, itu masih kesimpen rapi di memori. Mungkin nunggu mementum lagi. Hal2 itu misalnya soal khotbah Jumat yang masih juga fatalis, terlalu pasrah pada nasib. Seolah2 rajib beribadah sau2nya jalan keluar dari masalah. Juga soal kuis yang bikin manusia tambah keliatan serakah. Juga soal, eng ing eng, belajar bahasa Inggris secara otodidak.

Anyway, kali soal diskusi di Fakultas Sastra Unud kemarin. Persis hari ini seratus tahun lalu ada perang antara Belanda dan kerajaan Badung. Banyak yang menyebut perang ini sebagai Puputan, sesuatu yang puput, selesai, purna. Atau bisa juga berarti pertempuran besar-besaran.

Diskusi kemarin dalam rangka peluncuran buku Seabad Puputan Badung, Perspektif Belanda dan Bali. Editornya peneliti sejarah Bali University of Queensland Australia Helen Creese, guru besar Sejarah Asia Erasmus University Rotterdam Belanda Henk Schulte Nordholt, dan dosen Fakultas Sastra Universitas Udayana Bali Darma Putra. Mereka menghimpun sumber-sumber tentang Puputan Badung. Buku lumayan menarik meski tanpa kesimpulan apa pun.

Soal puputan Badung yang lebih menggelitik. Pada diskusi kemarin juga hadir Nyoman Wijaya, dosen sejarah Unud yang sedang membuat desertasi tentang ajeg Bali. Menariknya karena Wijaya benar2 mendekonstruksi pengertian Puputan Badung. Misalnya soal motivasi. Puputan Badung bagi Wijaya hanya kemauan kelompok elit ksatria melawan Belanda karena tak mau bayar denda. Istilah puputan pun kurang pas. Mungkin lebih pas perang begitu saja. Puputan hanya karena terpaksa. Raja Badung tak bisa menentukan pilihan lain lalu pasrah dengan perang habis2an. Cenderung fatalis.

Sebagai perang besar pun puputan Badung juga masih dipertanyakan sebagai sesuatu yang “mewakili” Bali. Saat perang, kerajaan Mengwi -yg sudah jadi bekas kerajaan- malah diam2 menysukuri hancurnya Badung. Lima belas tahun sebelumnya orang Badung juga menghancurkan Mengwi. Demikian pula kerajaan Tabanan, Bangli, Klungkung, dan Buleleng. Tak ada perlawanan sporadis dari seluruh rakyat Bali pada 20 September 1906 saat itu.

Seabad Puputan Badung, kini diperingati besar2an di Denpasar. Setahuku ada arak2an benda pusaka zaman kerajaan dulu. Menariknya ada pula pameran dagang. He.he. Inilah peringatan perlawanan terhadap penjajahan dengan menghadirkan penjajahan ekonomi.

Btw, kenapa perang selalu jadi momen peringatan ya? Kenapa bukan sesuatu yang sifatnya damai tapi menentukan masa depan yang jadi bahan renungan. Misalnya peringatan terbitnya buku Sutasoma atau apalah. Sejarah memang lebih dikenal karena perjalanannya yang berdarah-darah..

Aku Melawan Candu. Hasilnya KO!

Hampir dua tahun akrab dengan pecandu heroin atau pun mantan pecandu, aku jadi salut sama mereka yang sudah bisa melepas diri dari jerat kecanduan. Sebab, ternyata memang ga mudah melepas jerat kecanduan. Buktinya aku!

Pertama kecanduan ngrokok. Awalnya hanya sekali dua kali aku ngrokok sejak SMA. Waktu itu iseng aja karena dikasih teman. Jadi ya ga sampai beli, apa lagi kecanduan.

Continue reading “Aku Melawan Candu. Hasilnya KO!”