Blog

Akhirnya, Aku Mundur Juga

Ah, setelah sekian bulan hanya mikir, mikir, dan mikir, akhirnya aku ngambil pilihan juga. Mundur sajalah. Mari jadi wartawan freelance. Meski itu bukan hal gampang. But, setidaknya lebih merdeka. Ya, liat2 aja sampai Januari ntar gimana kira2 hasilnya.

***

Denpasar, 8 November 2006

Kepada
Yth Pemimpin Redaksi Majalah GATRA
di Tempat

Dengan hormat,

Melalui surat ini, saya Anton Muhajir, dengan ini mengajukan pengunduran diri sebagai Koresponden GATRA di Bali. Menjadi Koresponden GATRA di Bali sejak Juni 2001 hingga saat ini, Saya merasa tidak ada kebijakan yang jelas dari pimpinan GATRA terkait koresponden di semua daerah, termasuk Bali.

Meski demikian, saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas semua pelajaran yang pernah diberikan, langsung maupun tidak langsung. Lima tahun bekerja sebagai koresponden GATRA di Bali merupakan pengalaman berharga bagi saya. Saya juga mohon maaf jika ada hal-hal yang kurang berkenan selama jadi Koresponden di Bali.

Demikian surat pengunduran diri saya. Terima kasih atas kerja samanya..

Hormat saya,

Anton Muhajir

Begitu Banyak Ide Berkelebat. Dan, Mengendap..

Begitulah. Begitu banyak ide di kepalaku. Bikin media consultant, bikin yayasan utk riset media, ngurusi anak jalanan, bikin buku indepth report soal HIV/AIDS, sampe bikin usaha kaos propaganda.

But, semua hanya berkelebat di kepala. Sekali-kali ide itu muncul kembali. Mendesa-desak ke otak minta diwujudkan. Lalu aku sibuk mencari jalan. Ketika ketemu hanya gang kecil, aku masuk. Buntu. Selalu begitu.

Ide di kepalaku tak pernah terwujud. Hanya membatu. Mengendap di otakku.

Tak Mungkin Semua Hanya Kebetulan

Apa iya semua itu kebetulan. Lama-lama aku pikir nggak juga kali ya. Dulu, pas aku lagi baca buku lamanya Mochtar Loebis, aku nonton film Gie. Isi buku dan jalannya film mirip banget, soal Indonesia pada 1960an.

Kini, pas aku baca buku jurnalistik peraih Pulitzer, Dinasti Bush Dinasti Saud, aku juga nonton filim yg isinya mirip semua. Dua hari lalu aku sewa V for Vendetta, X Men Last Man Stand -bener ga ya judulnya? :)-, dan Syirianna. Ah, selalu ada benang merah yg menghubungkan semuanya. Kali karena udah dari alam bawah sadarku. X Men mungkin agak maksa nyambungnya, tentang rebutan mutan baik dan mutan jahat. Kisah klasik di setiap zaman.

Pas nonton V for Vendetta, nyambung banget dengan buku karya Craig Ugner -bener ga ya nulis nama penulis buku itu? :)-. Lalu semalem nonton Syirianna, alamak, mak plek persisnya. Bagaimana minyak jadi komoditas politik, bukan urusan perut semata. Dari rebutan minyak itu tergambar rebuatan perusahaan besar, rebutan jabatan, rebutana keyakinan. Ceritanya agak kepisah-pisah. Tapi nyambungnya pada satu hal: MINYAK adalah komoditas penting saat ini. Pengaruhnya ke mana2.

Aku, kamu, mereka, kita semua mungkin tak sadar bahwa kita bagian dari permainan besar itu. Seolah-olah urusan itu begitu jauh dari kita. Tapi rebutan itu berimbas juga pada kita. Pada penilaian orang terhadap keyakinan kita. Pada kemampuan kita mendapat sesuatu. Atau malah mengubah hidup kita tanpa kita sadari bahwa itu terhubung dengan “mereka” yang bahkan tak kita kenal nama atau malah tak pernah kita sadari keberadaannya.

Menurut teori jaringan sosial, tiap orang di dunia terhubung tak lebih dari lima orang. Misalnya kita dengan petani di Peru mungkin hanya perlu dua tiga orang utk bisa kenal, atau kita dengan Osama bin Laden atau George W Bush hanya perlu dua tiga penghubung untuk bisa kenal. Dari maksimal lima penghubung itu, ternyata dunia begitu kompleks sebenarnya. Dan semua terhubung, berpengaruh, tanpa pernah kita sadari.

Adakah semua itu hanya kebetulan? Rasanya tak mungkin..

Media Massa sebagai Penebar Ketakutan

Kok ya kebetulan banget. Aku lagi baca buku Dinasti Bus Dinasti Saud tentang hubungan gelap dua dinasti kuat di dunia. Lebih lengkap soal buku, aku pengen bikin resensi nanti. Hal menarik di buku itu adalah soal motif perang Kuwait 1991. Tak ada alasan lain selain: MINYAK! Parahnya, media massa ternyata jadi bagian dari propaganda pembenaran perang. Koran, TV, internet, ternyata disetting sedemikian rupa agar serangan tentara Amrik terhadap Iraq, yang dituduh menyerbu Kuwait, bisa dibenarkan.

Cerita ini berulang 2003 lalu saat Bush junior menyerang Saddam Husain dengan alasan senjata pemusnah massal. Tak ada bukti. Namun semua media telah jadi bagian propaganda Bush sehingga kebohongan itu seolah-olah benar.

Lalu kemarin aku nonton VCD V for Vendetta. Film karya Wachowski bersaudara, yg sukses bikin Trilogi Matrix, ini bahkan udah jadi pembicaraan ketika baru dibuat. Yg menarik dari film ini adalah karena V menggunakan TV sebagai alat untuk menebar ketakutan. Dan, ketakutan itu jadi senjata Kanselor untuk tetap dibutuhkan rakyatnya.

Nah, begitulah simbiosis mutualisme antara teroris dan penguasa.

Teroris menggunakan media untuk menyebar ketakutan. Bukankah ketakutan memang produk utama teror?

Lalu penguasa, seperti Bush dan Kanselor, menikmati ketakutan itu sebagai berkah. Bukankah mereka seperti dibutuhkan ketika banyak orang dalam ketakutan?

Doa Mau Makan pun Jadi

Aku pikir bakal ada doa bersama anak-anak panti asuhan atau semacamnya. Eh, ternyata ga ada. Yaudah. Gapapa lah. Yang penting toh udah niat, dan semoga itu jadi hal baik.

Ceritanya sebagai umat yang baik, kami menyisihkan sebagian harta –cailah, kaya punya harta aja- sebagai rasa syukur atas kelahiran Bani, anak kami. Kami menentukan Sabtu lalu untuk perayaan aqiqahnya. Karena Bani cowok, maka harus motong dua ekor kambing.

Semula kami pengen membagi daging kambing yang udah jadi sate dan gule ke anak-anak pengemis di Pasar Badung. Tapi karena istri tiba-tiba sebel lihat gaya mereka yang ga bisa berterima kasih, kami pindah tujuan. Daging itu disumbangkan ke panti asuhan aja. Biar sekaligus saling mengenal ajaran masing-masing.

Setelah konfirmasi ke panti asuhan setempat, ternyata mereka oke. Jadilah Sabtu pagi lalu kami bawa gule, sate, dan nasi untuk anak-anak pantai asuhan. Awalnya sih aku pikir akan ada doa bersama atau semacamnya, eh, ternyata anak-anak pada sekolah. Sebab, maunya kami biar anak-anak itu juga tahu apa itu aqiqah, apa tujuannya, dst. Jadi ada obrolan gitu. Paling tidak kan bisa mereka jadi lebih tahu. Tapi karena ga ada, ya gimana lagi. Kami nyumbang gitu aja lalu caw..

Siangnya baru ada ngumpulin teman-teman di rumah. Jadi masih ada simbolis upacara kecil. Rambut Bani dipotong. Abis itu dibacain doa. Karena bukan ustadz yang baca doa, jadinya cuma Al-Fatihah sama doa mau makan. He.he.. Ya, kan sama-sama doa.

Lebaran yang Tak Terasa Apa-apa

Inilah lebaran pertamaku tanpa keluarga. Eh, salah ding. Tanpa keluarga di Lamongan kali yang benar. Lebaran kali ini aku merayakannya di Bali bersama istri dan Bani, anak kami.

Lebaran kali ini terasa sepi. Mungkin ini penyebabnya.

Pertama ini lebaran di Bali. Muslim di Bali sebagian besar pada mudik. Kalau aku ga ada Bani yang baru lahir, pasti juga memilih pulang ke desa kelahiran. Denpasar terasa sepi juga tanpa mereka. Ada enaknya, jalanan lebih lengang. Ada ga enaknya, mau beli makan lebih susah.

Kedua lebaran tahun ini berbeda harinya. Muhammadiyah dan NU Jawa Timur sepakat learan Senin [23/10]. Tapi pemerintah dan ormas lain, termasuk pengurus besar NU menentukan lebaran Selasa [24/10]. Aku, istri, dan Bani memilih merayakan Senin. Ya sebagai warga Muhammadiyah yang baik sekaligus umat Islam yang sholeh [he.he] maka kami memilih menyegerakan lebaran. Jadilah Senin kami sudah merayakan lebaran. Selasa kami baru sholat ied.

But, sebab paling penting ya mungkin karena aku ga ngrayain lebaran bareng keluarga besar. Biasanya kan di sana pada ngumpul, meski kadang ada saja yang ga bisa dateng. Tahun lalu sih sepupu yg lagi ambil master di Aussie ga bisa dateng. Giliran dia, istri, dan anaknya dateng, eh, tahun ini aku dan adik di Riau yang ga bisa hadir. Yowislah. Ambil enaknya aja.

Paling tidak lebaran ini aku ga perlu berbasa-basi ke tetangga untuk minta maaf untuk hal yg juga aku ga tau apa itu. Atau paling tidak tahun ini aku terhindar dari ruwetnya urusan mudik ke Lamongan.

Lebaan ini, untunglah, masih ada ketupat pesan di tetangga, kare ayam pesan di mertua, dan sate sapi dari salah satu bibi. Makan ketupat dan kare ayam pagi-pagi. Habis itu main game FIFA 2005 sepuasnya. Seperti biasa..

Apa Sih Susahnya Ngantri

Barusan aja, ya hitungan menit lalu, aku antri di ATM. Pengen cek aja apa ada THR dari kantor. He.he.

Pas aku baru sampe ATM, seorang ibu masuk dengan dua anaknya. Abis itu ada cowok juga masuk. Di dalam ruang ATM itu memang ada dua mesin. Satu untuk tunai, satu untuk non-tunai. Misalnya transfer atau cek rekening dst.

Aku nunggu karena aku liat dua mesin itu kepake. Ibu dan dua anaknya keluar. Cowok yg tadi masuk masih di ATM tunai. Aku masih nunggu karena mau pake ATM yg tunai itu. Datang cowok berkaca mata di depan ATM. Eh, dengan cueknya dia nyelonong masuk. Aku pikir dia mau ke ATM non-tunai itu. Ternyata dia masuk pas cowok pertama baru aja kelar.

Yowis. Aku ngalah. Aku nunggu lagi.

Eh, datang lagi ibu2. Aku pikir dia mau ke ATM non-tunai itu. Ternyata dia nyerobot juga! Dia langsung masuk begitu cowok kedua habis ambil duit. Anehnya dia ga nanya sama sekali aku lagi antri apa nggak. Dia kan baru dateng dan aku udah nunggu di situ sebelumnya.

Aku jadi dongkol. Sering banget soalnya kejadian kaya gitu. Dia duluan ga masalah kalo dia bilang permisi kek atau tanya kek. Tapi kalau aku di situ dan dianggap ga ada, wah, itu dia yang jadi masalah.

Hal2 gini ini yang bikin sebel. Kejadian yg paling sering tuh kalau lagi antri di POM bensin. Malah yang pernah kejadian tuh ada bapak2 nyerobot aku. Tak liat belakang motornya ada stiker, ANTRI! JANGAN EGOIS. Alamak..

Perihal : Hasil Seleksi Staf SALAM

“Ya nothing to loose ajalah,” kataku pada teman Minggu malam lalu pada seoranng teman. Dia bekerja di tempat aku melamar jadi team leader. Kepasrahan memang salah satu jalan keluar.

Setelah melihat istri menangis pas aku pulang tes, aku memang sempat bimbang antara kebebasan waktu atau kepastian pekerjaan. Toh, aku diam2 tetap berharap aku lolos jadi team leader di tempat aku nglamar. Sambil demikian, aku juga siap2 nerima kenyataan kalau aku ga lolos.

Dan, barusan aku buka imel ada jawaban hasil seleksi itu. Ternyata, kecewa juga baca hasilnya. Hiks. Hiks.. But, semoga aja harapan di bagian paling bawah itu bener. :))

***

Perihal : Hasil Seleksi Staf SALAM

Dengan hormat,

Setelah mempelajari hasil penilaian terhadap hasil test Saudara oleh tim penilai seleksi Team Leader Majalah SALAM, maka Tim Management VECO-Indonesia menyimpulkan bahwa Saudara belum memenuhi keseluruhan persyaratan untuk direkrut sebagai staff VECO-Indonesia, dengan tugas sebagai Team Leader Majalah SALAM.

Sebagai feedback, bahwa Saudara mempunyai potensi yang sangat baik dalam publikasi dan jurnalistik, mempunyai komitmen untuk bekerja keras dengan dedikasi tinggi serta kemauan belajar yang baik. Namun demikian tim seleksi menilai kemampuan Saudara dalam konsep Sustainable Agriculture-SA (Pertanian Berkelanjutan) dan Bahasa Inggris (tulis and lisan) masih kurang dibandingkan dengan calon yang lain.

Untuk pengelolaan Majalah SALAM kedua faktor ini merupakan hal yang sangat penting, mengingat SALAM harus menterjemahkan minimal 50% artikel dari majalah induk SALAM yaitu LEISA Magazine yang diterbitkan oleh ILEIA Belanda. Kemampuan team leader SALAM dalam konsep SA dan/atau LEISA (Low External Input and Sustainable Agriculture) mutlak diperlukan dalam rangka menjamin kualitas Majalah SALAM.

Kami berharap bahwa dengan kemampuan yang Saudara miliki bisa memperoleh pekerjaan yang lebih baik.
Atas nama management VECO Indonesia, saya menyampaikan terima kasih atas partisipasi Saudara dalam rangkaian test yang kami lakukan.

Demikian pemberitahuan kami dan harap maklum.

Salam,

Yuliati
Office Manager

Aku Suntik Maka Aku Menarik

Cerita ketika liputan Minggu malam pekan lalu. Pengennya untuk dimuat Playboy Indonesia. Semoga saja bisa.

***

Lampu temaram. Musik berdentam. Malam merambat di Hulu Cafe, Seminyak, Kuta. Edi Purwanto, 28 tahun, meliuk-liukkan tubuh di panggung. Bibirnya meniru lagu Anastacia. Pengunjung bersorak. Dua turis -keduanya laki-laki- saling memagut bibir sambil melihat ke Eta, nama panggung Edi.

Lagu usai. Eta kembali ke belakang panggung. Naik ke tempat dia dan enam waria lainnya berdandan sebelum manggung. Pengunjung bertepuk tangan. Dua bule itu tertawa-tawa. Mereka sepertinya puas.

Tapi Eta tidak. “Lagu pertama bikin bete,” katanya. Satu jam sebelumnya Eta menyanyi lagu slow, lagu yang kurang asik menurutnya. Karena itu dia sebel.

Tak hanya lagu pertama yang membuatnya tak puas. Eta juga tak puas dengan tubuhnya. “Badanku terlalu gendut. Dadaku kurang gede,” katanya.

Padahal, Eta sudah melakukan banyak usaha membuat tubuhnya lebih menarik. Enam bulan lalu dia mulai menyuntik dadanya dengan silikon. Dada yang semula rata itu pun terlihat padat berisi, dan lebih kenyal. Tapi, sekali lagi, Eta belum puas. Dia ingin memperbesar dadanya.

Sebelum nyuntik dada, Eta sudah mengubah bentuk mukanya. Dia menyuntik hidung dan dagunya. “Biar lebih terlihat seperti cewek,” akunya.

Suntik hanya salah satu cara. Ada beragam cara lain bagi waria untuk mempercantik diri: pil dan suntik KB, suntik silikon, serta operasi. Tergantung duit masing-masing.

Ada Sisca, yang tubuhnya penuh dengan tato, dan sangat bangga dengan dadanya. Meski disuntik tujuh tahun lalu, sampai sekarang masih padat berisi. Ada Vivi yang minum pil KB sampai sembilan butir tiap hari. Dia senang karena kulitnya lebih bersih. Urat-uratnya tak kelihatan. Tapi ada pula Tuti yang dadanya pecah setelah tujuh tahun operasi tak diganti-ganti.

Cerita waria adalah cerita bagaimana tubuh menjadi aset. Tak hanya secara psikologis, tapi juga ekonomis.

***