Blog

Nasib Warung Padang Langgananku

Seminggu lebih warung nasi padang langgananku di kampus, jualan sambil kucing-kucingan. Gara2nya mereka diusir Tramtib. Ga boleh jualan di dekat kampus.

Tadi pas makan siang ketemu lagi. Dia cerita lagi gimana jualan sambil sembunyi-sembunyi. Ya memang susah juga. Dia jualan nempel pagar kampus. Tak pernah minta izin siapa pun. Tapi ga bener juga kalo dia begitu saja diusir.

Hmm, jadi pedagang kaki lima memang susah. Kalo ga ada banyak yang kebingungan, termasuk aku. Tapi kalau jualan juga diburu melulu sama Tramtib..

Harusnya Sedia Anti Virus Sebelum Terinfeksi

Aku copy file dari komputer teman. Komputer itu biasanya Windows 2000. Tapi kemarin udah ganti jadi Windows XP. Aku sih PD aja akan lebih bagus.

File ter-copy. Aku bawa pulang. Masukin flash ke komputerku. Gedubrak! Ada virusnya. Namanya Hot Wallpaper. Kapasitasnya 154 kb. Lalu virus itu menyebar dengan cepat. Tiga file, empat file, lima file, terus.. Sekitar tujuh file berganti tampilan fisik. Beratnya jadi 154 kb semua.

F**k!

Aku hapus semua file yang sudah terinfeksi. Tapi file Hot Wallpaper itu tetap ga bisa. Kalo aku hidupin komputer, tetep aja krek krek krek terdengar di komputer. Ga tau kenapa. Tapi jelas mengganggu. Aku hapus lagi. Ga bisa lagi. Antivirusku payah. Lama ga aku update.

Kini sibuk cari antivirus update. Huh!

Bencana [Lagi, Lagi, dan Lagi..]

Kali ini bencana terjadi di pantai selatan Jawa Barat dan Jawa Tengah. Tsunami datang, setelah gempa 6,8 skala Richter di laut selatan Jawa, di pantai Pangandaran dan Parangtritis tiga hari lalu. Hingga tadi pagi aku baca di koran lebih dari 500 orang meninggal.

Tsunami Aceh, gempa di Nias, banjir di Jember, gempa Jogja, lumpur panas di Sidoarjo, banjir di Sulawesi.. Semua datang silih berganti.

Bencana lagi. Bencana lagi. Bencana lagi. Lagi. Lagi…. Kenapa terus terjadi?

Habis Solar Terbit Jatropha

-Konon, Rudolf Diesel mati dibunuh pengusaha minyak. Sebab pencipta mesin Diesel itu sejak awal menciptakan mesin yang menggunakan minyak nabati, kalo ga salah minyak kacang, sebagai bahan bakar. Tak lama kemudian ditemukan minyak bumi. Ada booming. Semua mesin kemudian bergantung pada minyak bumi seperti solar, bensin, dst. Ada korpoarsi besar BP, Exxon, Pertamina, Shell, dst di balik ketergantungan dunia pada minyak bumi. Aku jadi inget buku Confession of Economic Hitman.

Lalu muncul kembali minyak jarak alias Jatropha. Dari kaca mata filosofis ya mungkin ini bagian dari pomodernisme. Gawat banget.. :)). Karena itu laporan utk kantor ini tak posting di blog. Sebab ini sekaligus uji coba pertama di dunia. Kalau kemudian minyak jarak juga jadi bahan bakar penting bagi mesin di masa depan, paling tidak aku pernah liat langsung peristiwa bersejarah itu. “Nanti kita usul ke Depdiknas agar nama kita dimasukkan buku sejarah,” kata Tantyo Bangun. Tentu saja bercanda.-

===========================================================
Ekspedisi Jatropha 2006 membuktikan minyak jarak lebih irit dibanding solar. Cuaca dan gaya menyetir berpengaruh.

Tepat pukul 15.00 wita, tim Jatropha Expedition 2006 tiba di pelabuhan Gilimanuk, Bali Selasa lalu. Jarak sekitar 150 km itu ditempuh dari Sanur, Denpasar tiga jam. Di antara padatnya lalu lintas Denpasar-Gilimanuk, sepuluh mobil itu berkonvoi meliuk-liuk. Meski jalan raya lebih banyak naik turun dan berkelok-kelok, mobil yang saya tumpangi tak terlalu terasa naik turun. Tarikannya stabil. Padahal mobil itu menggunakan bahan bakar minyak jarak (Jatropha curcas L).

Saat mobil berjalan, tidak ada bedanya sama sekali penggunaan solar maupun minyak jarak. Menjelang pelabuhan Gilimanuk misalnya converter di mobil dipencet untuk memindahkan bahan bakar dari minyak jarak ke solar. Mobil tetap berjalan. Bahan bakar pun berganti. Namun laju mobil tetap pada 60 km per jam. Tak terasa tiba-tiba pelan seperti pindah gigi. Ketika kembali menggunakan minyak jarak pun tetap tak terasa. “Kalau pakai minyak curah perpindahannya terasa,” kata Prabowo Kartolaksono, peneliti yang mengotak-atik mesin sebelum digunakan dalam ekspedisi.

Jatropha Expedition merupakan perjalanan ujicoba menggunakan bahan bakar minyak jarak yang diadakan Majalah National Geographic Indonesia bekerja sama dengan Pusat Penelitian Bioteknologi Institut Teknologi Bandung (ITB) dan perusahaan energi Bio Chem. “Kami ingin membuktikan secara empiris kelayakan minyak jarak sebagai bahan bakar,” kata Tantyo Bangun, pemimpin redaksi National Geographic Indonesia.

Ide ini muncul berawal dari perkenalan Tantyo dengan Robert Manurung, Kepala Puslit Bioteknologi ITB yang intens meneliti penggunaan minyak jarak sebagai bahan bakar. Sejak April 2005 lalu mereka gerilya mengajak pihak lain terlibat termasuk mencari bahan bakar seperti kebutuhan, antara 600 hingga 700 liter. Minyak jarak itu diperoleh dari Nusa Tenggara Barat dan Jawa Timur.

Sebagai perbandingan, selama ekspedisi ada tiga mobil yang diujicoba. Mobil bernopol B 9711 WU yang saya tumpangi merupakan mobil yang menggunakan bahan bakar minyak jarak 100 persen. Mobil lain menggunakan bahan bakar campuran 50 persen minyak jarak dan 50 persen solar. Mobil terakhir menggunakan 100 persen solar. Semua mobil berjenis sama, Mitsubishi Strada Double Cab. Rabu pekan lalu perjalanan dimulai dari Atambua, Nusa Tenggara Timur menuju Bandung.

Tim peneliti dipimpin Prabowo, konsultan di PT Agraprana yang sudah biasa melakukan konversi mesin dari bahan bakar solar berganti minyak nabati termasuk jarak dan minyak curah. Sebelum diuji coba, ketiga mesin itu dikondisikan jadi nol. “Agar ketiga mesinnya sama,” kata Prabowo. Pada mesin berbahan bakar 100 persen minyak jarak dilengkapi converter untuk memindahkan penggunaan bahan bakar dari solar ke minyak jarak.

Menurut Prabowo, converter perlu karena minyak jarak tidak bisa langsung digunakan saat mesin dingin. Kalau menyalakan mesin pertama kali harus menggunakan solar. Saat suhu mesin sudah 50o C baru pindah ke minyak jarak. Kalau langsung jalan ya sekitar 300 meter pertama.

Sepanjang perjalanan dilihat total pemakaian bahan bakar, efek terhadap pelumas dan tenaga, serta kadar emisi. Tapi saat sampai di Denpasar Senin lalu, baru kadar emisi dan penggunaan bahan bakar yang diketahui. “Kesimpulan sementara, secara teknis minyak jatropha sudah menyamai atau malah lebih baik dari solar,” ujar Prabowo.

Ekspedisi menempuh total 3200 km yang terbagi jad dua etape. Etape I Atambua-Sanur, sekitar 1800 km. Etape II Sanur-Bandung, sekitar 1400 km. Pada perhitungan di akhir etape I, penggunaan bahan bakar 100 persen minyak jarak lebih irit yaitu 1 liter untuk 9,4 km. Campuran 50 persen jarak 50 persen solar 1 liter untuk 8,7 km. Sedangkan 100 persen solar menghabiskan 1 liter untuk 8,6 km.

Uji emisi dilakukan saat di Denpasar. Menurut Muhammad Azhari, Manajer After Sale Service Mitsubishi yang menguji, hasil uji emisi semua mobil memenuhi standar emisi DKI Jakarta. Standar emisi dilihat dari kepekatan gas buang (opasitas). Pada 100 persen minyak jarak rata-rata 21,8 persen. Pada 50:50 hasilnya 24,3 persen. Sedangkan pada 100 persen solar hasilnya 19,9 persen. Standar emisi DKI di bawah 40 persen.

Menurut Azhari, wajar jika uji emisi pada 100 persen minyak jarak lebih tinggi. “Sebab mesin yang digunakan menggunakan mesin yang dibuat untuk solar, bukan untuk jarak,” katanya. Karena itu, menurutnya, kalau nanti hasil tes diterapkan secara massal, harus ada studi khusus untuk pabrikan.

Namun, menurut Prabowo, harus diingat bahwa minyak jarak menghasilkan emisi dari tumbuhan tidak seperti solar yang menghasilkan emisi dari minyak bumi lalu dibuang ke atmosfir. Akibatnya karbondioksida pun makin lama makin banyak. “Tapi kalau dari minyak jatropha tidak akan memperbanyak karbondioksida itu,” katanya.

Gas emisi dari penggunaan 100 persen minyak jarak pun tak terlalu berbau. Beda dengan solar yang berbau khas. Saat di Denpasar, beberapa orang malah menaruh tangan pada knalpot untuk mencium bau emisi. “Kayak minyak goreng. Wangi,” kata salah satu turis asing yang ikut mencium. Saat di Denpasar memang dilakukan eksebisi mobil uji coba itu.
Tes lain yang dilakukan adalah uji akselerasi. Uji coba dilakukan Senin tengah malam di Denpasar. Namun hasilnya belum dianalisa. [Tantyo dan Prabowo menjanjikan akan disampaikan saat jumpa pers di Bandung Rabu sore ini]. Akan diukur juga dengan pengukur tenaga (dynamometer) untuk membandingkan apakah terjadi pengurangan atau malah penambahan tenaga.

“Sejauh ini kami masih puas. Tidak ditemukan masalah pada mesin,” kata Prabowo.

Meski hasilnya memuaskan, menurut Tantyo, uji coba ini masih bersifat empiris, bukan sesuatu yang ilmiah. Sebab banyak faktor luar yang juga berpengaruh pada penggunaan bahan bakar tersebut. Misalnya suhu dan gaya menyetir tiap orang.

Saat di sekitar Gunung Kelimutu misalnya suhu luar mencapai sekitar 13o C. Ternyata suhu dinding berpengaruh pada kualitas minyak jarak. Makin dingin suhu luar, minyak jaraknya makin kental. Akibatnya perpindahan panasnya pun tidak lancar. “Pengalaman ini jadi PR untuk memperbaiki kualitas minyak jarak,” kata Tantyo.

Faktor lain yang berpengaruh adalah driving style. Pada saat perjalanan antara Larantuka-Labuan Bajo di NTT terjadi perubahan menyolok. Tiba-tiba konsumsi minyak jarak lebih boros dibanding campuran dan 100 persen solar. Saat itu 1 liter 100 persen minyak jarak hanya untuk 7,4 km. Sedangkan campuran 1 liter untuk 9,06 km dan 1 lieter 100 persen solar untuk 9,07 km. Setelah dicek, ternyata campuran dan solar lebih irit karena sopirnya merokok lalu mematikan AC.

“Memang akan banyak variabel mempengaruhi penelitian sambil berjalan seperti ini. Tapi ini jadi hal menarik,” kata Tantyo.

Birokrasi yang Bikin Makan Ati

Well, setelah menunggu enam bulan lebih, akhirnya aku dapet jawaban soal molornya pengurusan kartu tanda penduduk [KTP] dan kartu keluarga [KK]. Sejak 23 Januari lalu aku dan istri ngurus surat pindah untuk bikin KTP dan KK. Kami serahkan ke pengurus banjar. Katanya sih silakan nanti cek ke Kepala Lingkungan.

Sekitar dua minggu setelah itu cek ke Kepala Lingkungan. Susah banget. Selain karena dia memang jarang ada di rumah pas kami, atau gantian salah satu di antara kami, ke rumahnya. Begitu terus. Pernah ketemu, dia bilang akan cek dulu. Lalu sekitar dua bulan lalu kami tanya lagi. Hasilnya? Tidak jelas!

Kepala lingkungan bilang mungkin masih di pengurus yang waktu itu terima atau sudah di tempek [semacam ketua RT]. Kami cek ke tempek banjar, tidak ada. Dia bilang tidak pernah terima. Tanya lagi ke kepala lingkungan, dia bilang mungkin di pengurus. Karena males, urusan itu tak kami lanjutin. Pasif aja dulu.

Lalu, awal Juli lalu kami harus ngurus perpanjangan STNK motor. Istriku ga masalah karena pake KTP mertua. Lha aku, jelas ga bisa. Karena KTP udah mati. SIM juga. Keduanya mati pas 19 April lalu. Abis itu aku baru inget lagi soal KTP. Yaudah kami pun tanya2 lagi. Terakhir dapatlah pengurus banjar yang dulu terima surat pindah dan semua tetek bengek yang dulu kami urus.

Hasilnya? Ilang sodara-sodara! Itu pun harus cek2 lagi ke tempek banjar. Sebagai jalan keluar, pengurus banjar meminta kami mengurus surat pindah lagi. Aku dari awal udah bilang keberatan kalau harus ngurus lagi. But, ga ada pilihan lain. Ngurus lagi atau ga dapat KTP selamanya?

Jadi ya, sejak kemarin kami pun ngurus surat pindah lagi. Untungnya barusan aja dapat semua dari Kepala Desa dan Kecamatan asal. Jadi ya mulai lagi berurusan sama birokrasi yang bikin makan ati itu..

Membaca Penanda Piala Dunia

Finally, Final Piala Dunia 2006 berakhir. Hasilnya, mamamia!, Italia menang.. Azzuri ngalahin Perancis [apa Prancis ya?] di final lewat adu penalti. Ketakmampuan David Trezzeguet [bener ga ya nulisnya] nendang penalti jadi berkah bagi Marcello Lippi. Italia menang 5-3.

Momennya memang udah lewat. Tapi tetap menarik ngobrolin piala dunia, entah pialanya itu sendiri maupun finalnya.

Piala Dunia, sebagai sebuah benda, hanya berupa piala berbentuk bola dunia dengan tangan di bawahnya. Pengganti piala Jules Rimet ini dilapisi emas 18 karat, tinggi 36 cm, dan berat 4.97 kg [ini versi wikipedia]. Tapi piala dunia itu tak melulu benda. Dia hanya simbol. Hanya penanda, menurut kajian semiotika ala Umberto Eco. Di baliknya banyak banget petanda atau makna yang ingin disampaikan.

Di balik piala dunia ada ego manusia yang tak mau kalah. Lihatlah Christiano Ronaldo yang menangis gara-gara kalah ma Jerman. -Syukurin!- Ada superioritas. Ada gengsi. Karena itu 32 negara rela menghabiskan milayarn duit “hanya” untuk ikut lari-lari mengejar bola di lapangan. Piala dunia jadi ajang pamer kekuatan. Mungkin inilah perang tanpa senjata yang dinikmati milyaran orang di dunia.

Kalau sepakbola adalah agama, mungkin dia akan jadi agama paling besar di dunia. Gitu tulis Kafi Kurnia di Intrik GATRA. Sepakat! Inilah agama yang tak perlu disebarkan dengan pedang atau pistol atau meriam. Lihatlah tentara Amerika Serikat yang istirahat sejenak di Irak demi memonton Reyna dan kawan2nya melawan Italia.

Piala Dunia juga bisa jadi lawakan terbesar di Indonesia. Terutama komentator di TV. Lihatlah Roni Patinasarani yang berbuih-buih ngecap mengomentari strategi tiap pelatih. Menyalahkan kadang-kadang. Komentarnya kadang-kadang naif. “Yang anak kecil pun bisa bilang kayak gitu,” tulis M Mahfud, mantan menteri itu. Sejawaran Asvi Warman Adam juga ikut nulis komentar terhadap komentator. Indonesia cuma bisa berkomentar tapi tak bisa ikut main. Lalu mantan menteri dan sejarawan juga ikut mengomentari komentar komentator.

Kini, aku malah mengomentari komentar mereka terhadap komentar komentator. Bener2 lucu..

drop lagi. masih aja ga bisa istirahat..

ga tau kenapa, kok akhir2 ini fisikku payah. baru capek dikit udah drop. seperti juga sekarang. dari dua hari lalu tiba2 hidung kayak tersumbat. agak cuek. eh, besoknya badan langsung panas. parahnya lagi tenggorokan terasa kering. “walah, paling radang tenggorokan lagi,” pikirku.

kalo udah gitu, obat paling mujarab sih istirahat. but, maunya istirahat, tapi masih keluar untuk satu urusan. malemnya keluar lagi karena harus kirim laporan ke kantor. alamak! mana dingin2 lagi.

lalu, hari ini maunya istirahat lagi. eh, masih ada kerjaan belum beres juga. pagi tadi harus kirim tulisan ke tabloid tokoh. harusnya tiga tapi karena buru2 jd kirim satu aja dulu. dan, sekarang nyusul dua lagi buat denpost+bali post. tulisannya soal kampanye HIV/AIDS di media cetak.

huh! habis ini aku mau diem aja di rumah. sibuk dg stik game aja. :))

Menulis Panjang itu Candu!

baru pekan lalu selesai nulis panjang lagi. sebelumnya, soal bakso babi bisa sampe 4000an kata, yang terakhir mala sampe 8000an kata. panjaaaaang banget.

tulisan terakhir soal perjuangan dua perempuan positif HIV dalam penanggulangan HIV/AIDS. satu perempuan tertular karena kebiasaan berbagi jarum saat pakai heroin dengan jarum suntik. dia kini aktif di program pertukaran jarum suntik bagi pecandu heroin. “biar tidak ada lagi orang tertular HIV dari jarum suntik,” katanya. satu lagi tertular HIV dari suami. kini dia aktif kampanye, testimoni, dan mendampingi orang dengan HIV/AIDS. “biar orang lain tidak merasakan apa yang pernah aku alami,” akunya.

ini liputan panjang. perlu pendekatan setahun lebih agar keduanya nyaman berbagi.

nulis panjang ternyata sangat memuaskan. kali ini aku klimaks. seperti halnya onani -ups!- menulis panjang ternyata bikin kecanduan!

Playboy Uncencored Version [Terakhir]

Identitas dalam Semangkuk Bakso [Terakhir]

***

Di mata AAGN Ari Dwipayana, maraknya bakso babi Ajeg Bali itu, bisa dilihat sebagai instrumen untuk memperbesar kesempatan mendapat keuntungan ekonomi. “Dua hal itu (ekonomi dan identitas) bukan dua hal yang terpisah, melainkan saling menembus,” kata Dosen Fakultas Ilmu Sosial Politik (Fisipol) Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta tersebut. Ari, demikian dia biasa dipanggil, lahir dan besar di Ubud, Gianyar. Kini mengajar di Fisipol UGM. Dari Yogyakarta, Ari intens mengadakan riset-riset tentang desa adat di Bali melalui Lembaga Uluangkep yang berkantor di Denpasar.

Kacamata melihat maraknya Bakso Babi Ajeg Bali juga bisa macam-macam. Bisa jadi penggunaan identitas itu untuk membangun pasar spesifik, dalam hal ini orang Bali. Tapi bisa jadi pula penggunaan identitas itu untuk membangun sentimen kebalian dalam pola konsumsi. Kalau makan bakso orang Bali akan memberikan kesejahteraan bagi orang Bali. Kalau belanja di warung orang Jawa akan mengalirkan keuntungan ke Jawa. “Sentimen itulah yang membuat pembeli beretnis Bali lebih mempertimbangkan faktor identitas dibandingkan dengan rasa atau kemahalan,” tambah Ari.

Analisa Ari ini ada benarnya, tapi juga tak sepenuhnya. Pembeli bakso Gede di Kreneng, Denpasar dan pembeli bakso Nyoman di Yeh Malet, Karangasem banyak yang beli karena ingin mencoba Bakso Babi Ajeg Bali. “Setahu saya setelah pernah membeli mereka jarang yang beli ke sini lagi,” kata Gede. Artinya faktor identitas itu berpengaruh ke pembeli untuk mencoba.

Namun tak semua pembeli demikian. Ketut Suratmaja, misalnya. Pegawai negeri sipil di Pemprov Bali ini tertarik membeli juga karena penasaran. Tapi ketika sudah tahu rasanya, bagi dia sama saja. “Saya beli bakso ya cari mana yang enak, bukan siapa yang jual,” katanya. Beberapa pelanggan di warung Diana malah orang Jawa. “Saya juga masih sering beli bakso dorong orang Jawa,” tambah perempuan berkulit putih ini.

Bagi Ari, makin banyak makanan menggunakan sentimen identitas juga bisa jadi hal positif dalam konteks masyarakat multikultural. Setiap etnis punyai selera makan khas dan kebiasaan dalam cara makan. Karena itulah dia melihat sah-sah saja penggunan identitas itu. “Namun, akan berbahaya kalau makan menjadi urusan politik identitas. Kalau tidak makan di warung Bali maka bukan orang Bali sejati atau kalau tidak mengucapkan Swasti Semeng (selamat pagi dalam bahasa Bali halus) bukan orang Bali,” tambahnya.

Toh, bagi I Gusti Ketut Agung politik identitas tetap sangat terasa dalam maraknya bakso babi Ajeg Bali. “Wacana di permukaan memang soal ekonomi, tapi saya melihat jelas ada nuansa politisnya,” kata Gung Alit, panggilan akrab aktivis Fair Trade tersebut. Nuansa politis itu terlihat dari penggunakan identitas Bali oleh penjualnya.

Gung Alit mendirikan Mitra Bali, usaha di bidang kerajinan berkantor di Ubud, Gianyar. Selain membuat kerajinan sendiri, Mitra Bali juga membeli dari perajin-perajin di Gianyar, Jember, hingga Yogyakarta. Usaha ini, menurutnya, untuk memberdayakan perajin lokal agar bisa bersaing, tapi dengan mengusung konsep perdagangan yang layak (fair trade). Mitra Bali juga jadi anggota federasi internasional usaha perdagangan yang layak, IFAT.

Bapak dua anak ini sendiri mendaftar sebagai anggota Koperasi Krama Bali sejak Agustus tahun lalu. Dia mengajak semua karyawan Mitra Bali dan perajin-perajin binaannya. “Agar bisa memberikan suara lain di situ,” ujarnya. Namun, meski sudah punya kartu anggota bernomor 01.02.0000537, hingga saat ini Gung Alit belum pernah diundang dalam rapat anggota.

Menurut Gung Alit, bakso babi Ajeg Bali, merupakan perlawanan terhadap banyaknya bakso yang dijual pendatang di Bali. “Masak pedagang kecil dilawan, sementara bule-bule yang beli villa dibiarkan saja,” tanyanya.

Tapi bagi Ari, maraknya bakso babi juga bisa dilihat sebagai bentuk keterbukaan Bali pada pilihan-pilihan berkebudayaan, termasuk soal makanan. “Sudah sangat lama Bali berinteraksi dengan budaya dan cita rasa lain,” katanya. Ari menyebut contoh Fu Yung Hay, Kolobak, Cap Cay, dan Siobak yang sudah jadi makanan sehari-hari orang Bali. Dari namanya, terlihat bahwa makanan tersebut termasuk Chinese Food. Tapi Siobak misalnya identik dengan Singaraja.

“Apakah selera bisa dipaksakan?” tanya peneliti Institute for Research and Empowerment (IRE) Yogya ini.

Soal selera itu pula yang membuat Puji tak resah dengan maraknya Bakso Babi Ajeg Bali itu tadi. Pembeli baksonya tetap banyak orang Bali meski di Denpasar sudah banyak warung bakso Babi Ajeg Bali. Menurutnya, orang beli bakso datang pasti karena enak atau tidaknya bakso dan pelayanan. Bukan karena asal usul penjualnya.

“Kalau soal rezeki itu sudah diatur sama yang di atas, Mas,” katanya.+++ [TAMAT]

Playboy Uncencored Version [Part 7]

Identitas dalam Semangkuk Bakso [Part 7]

***

Uniknya, penjual bakso babi Ajeg Bali itu ternyata tak melulu orang Bali. Ada pula penjual bakso babi Ajeg Bali itu yang nak Jawa dan muslim. Salah satunya Suyitno. Bujangan asal Genteng, Banyuwangi ini jualan bakso milik Ida Bagus Arianto, juragan bakso baru di Negara, Jembrana. Gerobak berwarna kuning dan oranye yang didorong Suyitno ini juga berisi tulisan dari kertas stiker Bakso Babi Ajeg Bali. Plangkiran pun ada di bagian depan gerobak.

Suyitno pernah jualan bakso sapi di Denpasar. Tapi karena isu formalin dan bakso daging tikus, jualan Suyitno sepi pembeli. Setelah sempat berhenti sebentar, dia diajak temannya untuk ikut jualan bakso babi. Awalnya dia ragu karena jualan bakso babi. Lalu dia pulang ke Genteng dan konsultasi dengan keluarga. Oleh keluarganya diperbolehkan. Alasannya, hanya jualan, bukan makan dagingnya. Juga jualnya ke orang Hindu, bukan orang Islam. “Aku kan juga ora mangan,” katanya dalam logat Jawa.

Jualan bakso babi, menurut Suyitno, hasilnya memang lumayan. Ketika jual bakso sapi, dia bisa dapat maksimal Rp 50.000 per hari. Tapi sekarang dia dapat minimal Rp 100.000 per hari. Hasil itu dipakai untuk mengembalikan modal usaha dan bagi hasil Rp 15.000 pada bosnya, Ida Bagus Arianto.

Gus Tut, demikian dia biasa dipangil, mengaku mulai jualan bakso sejak Februari lalu. Awalnya dia ditawari pedagang bakso sapi yang kos di rumahnya. Pedagang bakso itu mengeluh sebab makin hari makin sedikit dagangannya habis. Kebetulan, Gus Tut sudah biasa bikin bakso membantu pedagang tersebut. Di sisi lain, bakso babi di Negara juga seperti jamur di musim hujan: bermunculan di berbagai tempat.

Karena itu, Gus Tutu mulai membuat bakso babi. Tiga pedagang bakso sapi yang kos di rumahnya, dan semuanya muslim, pun jualan bakso tersebut. Sebagai toleransi, bapak tiga anak ini membuat aturan pedagang itu tidak boleh membeli daging ataupun membuat bakso. “Agar tidak ada kesan saya memaksa mereka jualan,” tambah anak mantan jaksa ini.

Baru seminggu jualan, anak buahnya sudah bertambah. Kini anak buah Gus Tut ada tujuh orang. Tiga nak Jawa dan empat orang Bali. Bagi Gus Tut yang juga aktif di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) ini, tak ada masalah dengan lokal dan non-lokal. “Saya sebenarnya mancing saja biar orang Bali tidak jual tanah untuk beli bakso,” katanya. Melalui usaha dagang bakso babi saat ini, Gus Tut ingin mengubah anekdot satir soal bakso dan tanah itu tadi.

Selain itu, jualan bakso babi ini bagi Gus Tut juga jadi semacam “perlawanan” terhadap Koperasi Krama Bali yang terlalu mengedepankan identitas lokal sehingga terkesan anti-pendatang. Karena itulah dia cuek saja mempekerjakan anak buah bukan orang Bali. Anak buahnya juga tak harus memakai kamen atau udeng. Sedangkan penggunaan kata-kata Ajeg Bali di gerobak, menurutnya, untuk menunjukkan bahwa pemilik bakso itu juga peduli pada Bali.

Tulisan Ajeg Bali itu juga ada di punggung kaos oranye yang dipakai anak buah Gus Tutu. Salah satunya ya Suyitno itu tadi. Tapi ketika ditanya apa arti Ajeg Bali, pemuda bertindik dua di kuping ini menjawab santai, “Ora ngerti aku.” [lanjut ke posting berikutnya]

***