Beruntunglah Indonesia, Punya Bahasa Persatuan

2 , , , Permalink 0

Indonesia memiliki banyak hal yang layak disyukuri.

Salah satunya bahasa persatuan, Indonesia. Bandingkan dengan tetangga dekat semacam Singapura dan Malaysia atau tetangga nun jauh di sana, Belgia. Mereka masih ribet urusan bahasa.

Kebanggaan, atau yah paling tidak rasa syukurlah, muncul lagi selama ikut forum penutup pertemuan media-media komunitas di Asia Tenggara di Chiang Mai kali ini.

Di salah satu sesi, kami membahas tentang bagaimana situs web organisasi baru kami, Alliance of Community Media in Southeast Asia (ACMSEA), akan tampil dan berjalan. Obrolannya termasuk bahasa yang akan digunakan.

Kami sepakat menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa utama. Namun, untuk memperluas jangkauan ke komunitas lokal di masing-masing negara anggota, kami akan menerjemahkannya juga ke bahasa negara masing-masing.

Indonesia tentu saja menggunakan bahasa Indonesia. Jelas. Sejelas gelas kaca bening baru dicuci dan dilap. Begitu pula beberapa negara lain. Filipina memakai bahasa Tagalog. Kamboja dengan bahasa Khmer.

Myanmar? Nah, ini mulai agak ribet. Negara yang baru mulai menerapkan sistem demokrasi ini memiliki beragam etnis. Setidaknya delapan etnis besar. Namun, bahasa utamanya adalah Burma, etnis mayoritas di negara tersebut.

Masalahnya, teman-teman peserta dari Myanmar itu bekerja bersama etnis-etnis minoritas yang tidak berbahasa Burma. Maka, selain bahasa Burma, mereka juga harus menerjemahkan ke bahasa-bahasa etnis lokal. Dua kali kerja.

Selanjutnya, Thailand. Mau pakai bahasa apa? Ternyata bahasa Thai saja tidak cukup. Dalam dua kunjungan terakhir ke Thailand, termasuk di Chiang Mai kali ini, aku makin merasakan peliknya masalah etnis di negara ini.

Jiew, teman dari Thailand yang berasal dari etnis China, satu kali mengatakan betapa etnis China di sini juga mengalami prasangka yang sama sebagaimana di Indonesia. Ini hal yang baru aku tahu. Kirain di Thailand adem ayem semua.

Di beberapa bagian Thailand, bahasa juga jadi isu politik, terutama di selatan atau Deep South. Etnis utama di bagian selatan adalah Melayu. Agamanya Islam. Ada pergolakan sejak dulu di mana mereka menuntut kemerdekaan atau paling tidak otonomi lebih besar.

Imbasnya sampai ke bahasa. Aktivis media komunitas dari Pattani, Thailand selatan bercerita. Bahasa Melayu menjadi semacam bahasa terlarang. Tidak boleh digunakan di forum-forum resmi.

Karena itu, bagi para aktivis di Thailand bagian selatan, berbahasa Melayu juga menjadi semacam perlawanan terhadap pelarangan itu.

Oke, lanjut ke negara tetangga terdekat, Malaysia.

Menurutku ini bagian paling ajaib. Ternyata teman dari Malaysia malah akan menerjemahkan situs web baru kami nanti ke bahasa…. CHINA! Alasannya, inilah bahasa yang paling banyak digunakan di dunia saat ini.

Dia ada benarnya. Menurut daftar bahasa yang paling banyak digunakan di dunia, bahasa Mandarin memang menempati urutan pertama. Ada 14,1 persen penduduk dunia berbahasa Mandarin. Bahasa Inggris justru di urutan ketiga (5,52 persen) setelah bahasa Spanyol (5,85 persen)

Infografis Jroehl – Own work, CC BY-SA 4.

Aku juga tidak menyanggah pentingnya bahasa China. Cuma agak heran ketika melihatnya dari sudut pandang bahwa para peserta di forum ini juga mewakili negara, bukan hanya etnis. Maksudku, kenapa tidak diterjemahkan ke bahasa Malaysia saja, bukan bahasa China?

Eh, tunggu dulu.

Rasanya memang tidak ada itu bahasa Malaysia. Negara jiran ini memiliki tiga bahasa utama: Melayu, China, dan India. Di banyak tempat, pengumuman selalu tertulis dalam salah satu bahasa atau ketiga bahasa atau malah pakai bahasa lain, Inggris.

Sebagaimana cerita teman-teman Malaysia, urusan bahasa ini pun ribet di sana. Sama peliknya dengan urusan etnis.

Peliknya urusan bahasa ini juga terjadi di Singapura. Mereka malah pakai empat bahasa di fasilitas-fasilitas resmi semacam kereta: China, Melayu, India, dan Inggris.

Hal serupa terjadi pula di Belgia. Sebagian tempat-tempat resmi di negara ini menggunakan empat bahasa: Belanda, Prancis, Jerman, dan Inggris. Belgia memang terpecah menjadi dua negara bagian: Wallonian di bagian selatan yang berbahasa Perancis dan Flanders di bagian utara yang berbahasa Belanda. Ada pula sebagian kecil warga berbahasa Jerman di bagian timur. Bahasa Inggris tentu untuk mengakomodir penutur di luar tiga bahasa itu.

Dari Belgia, mari kembali ke negeri sendiri.

Dengan segala tantangannya, menurutku Indonesia sudah selesai dengan masalah bahasa. Mau ke mana saja di negara ini bisa dengan mudah berbicara bahasa Indonesia. Pengalamanku sendiri di pedalaman Jambi, Lampung, Bogor, Boyolali, Banyuwangi, Flores, Luwu, Toraja, Buru, Sumba, hingga Papua, kita dengan mudah berbicara dalam bahasa Indonesia dengan warga setempat.

Menariknya, ketika dengan mudah berbicara bahasa Indonesia, orang-orang dari berbagai etnis ini juga masih menggunakan bahasa daerah dalam obrolan sehari-harinya. Bahasa daerah dan bahasa nasional berdampingan dengan baik di negara ini.

Tidak seperti di Amerika Latin nun jauh di sana, seperti Peru dan Ekuador. Di sana mereka memang punya bahasa persatuan Spanyol, tetapi pada saat yang sama, bahasa milik penj(el)ajah itu kemudian membunuh bahasa-bahasa lokal. Padahal, ketika bahasa lokal mati, hilang pula penanda identitas itu.

2 Comments
  • pandebaik
    March 5, 2018

    Jadi Ingat ada siapa gitu yang mencoba memberi petuah bijak :
    pertama, kuasai Bahasa Ibu
    lalu kuasai Bahasa Nasional
    terakhir barulah kuasai Bahasa Universal

    ReplyReply

    [Reply]

  • Intan Rastini
    March 14, 2018

    Saya pernah kedatangan pemandu wisata Belgia di yayasan, dia bisa bicara banyak bahasa, saat saya tanya, “orang Belgia bicara bahasa apa”
    Dia menyebutkan berbagai bahasa yang juga diikuti daerah pemakai bahasa tersebut. Salah satu yang saya dengar itu “Flemish”. Flemish dipakai oleh orang Flanders.
    Oh ya orang Bali di kampung ada yang nggak bisa atau nggak jago bahasa Indonesia bukan bahasa sehari-hari mereka. Contohnya adalah mbah saya 🙂
    Di kota Yogyakarta dan Bali, saya perhatikan penunjuk jalannya memakai bahasa Indonesia dan bahasa Jawa/Bali ditulis dengan aksara bahasa lokal tersebut.

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *