“Pas zaman Soeharto wong cilik ora ono sing meketek,” kata emakku begitu saja pas nonton TV soal matinya Soeharto tadi siang. Kami duduk di kasur melototi TV yang berlomba memberitakan matinya Soeharto sekitar pukul 13.10 WIB tadi. Suara mak hanya suara orang awam tentang tidak adanya orang kecil yang susah pada saat Soeharto berkuasa.
Ketika berkuasa, Soeharto memang mampu mewujudkan sesuatu yang hilang pada masa Soekarno sekaligus hilang menjelang dia selesai berkuasa, kejayaan ekonomi. Pembangunan meski tidak merata, swasembada pangan, pengendalian laju penduduk, dan seterusnya merupakan keberhasilan Soeharto ketika memimpin. Dan, bagi orang-orang seperti mak, itu mungkin lebih penting dibanding urusan lain-lain yang hanya dimengerti sebagian orang.
Mak mungkin tidak peduli meski tangan Soeharto juga bersimbah darah. Operasi militer di Timor Leste, Aceh, Papua, dan seterusnya adalah tanggung jawab Soeharto. Begitu pula penembakan misterius, pembungkaman media dan orang-orang kritis, serta korupsi yang hingga kini tidak pernah diadili. Soeharto adalah Bapak Pembangunan sekaligus tiran. Dia berjasa sekaligus penuh dosa.
Lalu, kita harus mengenang Soeharto sebagai apa?
Leave a Reply