Ini semacam koreksi. Jadi aku harus menuliskannya lagi.
Masih soal temanku yang positif HIV. Beberapa hari setelah aku minta maaf itu, dia kembali telpon ngajak ketemu. Semalam kami pun ketemu dan ngobrol lagi soal itu.
Tak seperti sebelumnya, kali ini dia mulai melunak. Bahkan dia juga minta maaf karena terlalu emosional ketika pertama kali ketemu. Saat itu dia memang sampai bilang agar aku meralat semua tulisan yang sudah aku buat. “Bilang saja bahwa tulisan dan foto itu tidak pernah ada,” katanya waktu itu.
Hal yang sangat memalukan sebenarnya kalau aku lakukan. Sebab aku telah membohongi banyak orang kalau itu terjadi. But, demi kepentingan dia, dan rasa bersalahku saat itu aku bilang ok. “Ntar aku ralat,” jawabku.
But, syukurlah aku tak harus melakukan kebohongan itu.
Teman itu bilang, biarlah tulisanku itu telanjur ada. Dia bilang kecewa soal foto dan tulisanku karena ada penyebab. Malam itu, salah satu temannya tiba2 nyletuk bilang dia kena AIDS. Karena itu dia kaget dan marah. Bahkan sampai mau berantem.
Menurutnya, entah kapan itu, suatu saat dia memang akan membuka statusnya yang positif HIV pada keluarganya. “Mungkin tulisanmu itu bisa jadi pembuka aku untuk terus terang pada keluarga,” katanya. Menurutku, diskriminasi pada orang dengan HIV/AIDS (Odha) bisa juga karena Odha sendiri yang malu membuka statusnya. Padahal HIV/AIDS sama saja dengan virus atau penyakit lain.
Malam itu, syukurlah, kami akhirnya berdamai dengan emosi masing-masing. Bahkan dia bilang, “Mungkin ini jalan untuk kita berteman..” Ya, menjadi teman memang bisa dengan banyak jalan..
Leave a Reply