Mereka Terpenjara oleh Mewahnya Pariwisata

0 , , Permalink 0

rebho-reruntuhan-sanggah-LR

Semangat perlawanan Wayan Rebho tak berubah meski usianya kian tua.

Laki-laki berusia 66 tahun itu masih konsisten menolak menjual tanahnya untuk pembangunan lapangan golf. Dia kini tinggal di dalam kawasan milik investor, terkepung oleh lapangan golf.

Minggu lalu, setelah liputan aksi tolak reklamasi Teluk Benoa di Kedonganan, aku dan Lode ke rumah Pak Rebho di Pecatu, Kuta Selatan. Niat ke sana lagi sudah lama. Tapi, baru kali ini bisa terlaksana.

Pada 2008 silam, aku dan teman fotografer, Ardiles Rante, juga beberapa kali ke rumahnya.

Seperti pada obrolan-obrolan sebelumnya, Pak Rebho selalu semangat untuk bercerita. Begitu pula kali ini, tentang perlawanannya menolak pembangunan lapangan golf di samping rumahnya.

Pak Rebho dan ratusan warga tinggal di Pecatu. Pada tahun 1996 dia menolak menjual tanahnya kepada Bali Pecatu Graha (BPG). Perusahaan milik Tomy Soeharto, penguasa Orde Baru, akan membangun pusat pariwisata mewah di kawasan perbukitan tersebut.

Pak Rebho dan ratusan warga Pecatu lainnya menolak menjual tanah mereka di mana lapangan golf, hotel, dan fasilitas mewah lain akan dibangun. Untuk itu mereka harus berhadapan dengan polisi dan tentara.

Dianggap sebagai penggerak, Pak Rebho pun ditangkap. Dia dipenjara selama tiga bulan. Hingga sekarang, dia selalu bersemangat menceritakan perjuangannya ketika itu. Minggu kemarin pun begitu.

Setelah duduk santai di depan rumahnya, dia mengajak aku dan Lode melihat lapangan golf dari lantai dua rumahnya. Dari beranda belakang rumah, kami bisa melihat lapangan golf dengan rumput hijau luas serupa karpet. Indah.

Lapangan itu persis di belakang rumah Pak Rebho. Hanya jalan tanah selebar 3 m yang memisahkan keduanya. Jaring setinggi sekitar 5 meter yang dibuat untuk membendung bola golf agar tak keluar lapangan ternyata tak berfungsi banyak. Rumah Pak Rebho sering kena bola golf. Genteng rumahnya sampai pecah.

Bagi Pak Rebho, bola golf yang mengenai genteng rumahnya serupa bencana kecil. Maka tiap kali bola golf memecahkan genteng rumahnya, tiap kali itu pula dia melakukan ritual kecil untuk “menyucikan”.

“Saya sudah menuntut pengelola lapangan golf untuk membayar ganti rugi. Tapi mereka tak mau memberikan semua kebutuhan upacara,” katanya.

Lapangan golf dan bola-bola yang memecahkan genteng rumahnya adalah bencana tak berkesudahan bagi Pak Rebho. Bagi orang Bali seperti Pak Rebho, bencana kecil mengakibatkan bencana lain yang lebih besar. “Keluarga saya jadi sering sakit-sakitan karena belum ada upacara besar,” kata Rebho.

Setelah ngobrol di rumahnya, dia mengajak kami ke tanah di mana rumahnya dulu berada. Yang tersisa kini hanya semak belukar di tanah kosong yang sudah dikuasai investor. Di tengah terik matahari, dia mencari bekas sanggah, tempat pemujaan, miliknya yang kini tak kelihatan di tengah semak belukar.

Ngenes rasanya melihat sisa-sisa sanggah di tanah kosong di mana lapangan golf lain akan dibangun. Semacam simbol kekalahan orang Bali terhadap pariwisata.

Dari sana, kami ke tempat cucunya. Ini pertama kali aku ke rumah tersebut. Ternyata kondisinya lebih mengenaskan. Secara fisik, rumah tersebut benar-benar dikepung pagar milik pengelola lapangan golf.

Mereka seperti dipenjara. Luas tanah yang tersisa itu sekitar 80 are. Pagar setinggi 2 meter mengelilinginya. Dulu malah tidak ada pintu. Jadi, untuk keluar masuk, pemilik rumahnya harus naik turun tangga.

Di tengah mewahnya lapangan golf Pecatu, masih ada beberapa keluarga yang mengalami hal serupa. Mereka dikepung mewahnya pariwisata yang justru “memenjarakan” mereka.

No Comments Yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published.