Lawanlah Tulisan dengan Tulisan

83 , , Permalink 0
Temanku, Hari Puspita, yang juga redaktur koran lokal Radar Bali, menelponku kemarin sore. Dia bertanya apakah aku kenal Bli Pande, temanku di Bali Blogger Community (BBC).

Aku jawab kenal. “Kenapa?” tanyaku.

Pipit dan teman-teman di Radar Bali keberatan dengan tulisan Bli Pande tentang koran tempat mereka bekerja tersebut. Lalu, pagi ini aku chating dengan Bli Pande soal tulisan tersebut.

Kurang lebih ini ceritanya. Februari 08 lalu, Radar Bali menulis soal pembangunan jalan di Kuta. Wartawan Radar Bali menulis kalau pembangunan itu mangkrak. Bli Pande, salah satu staf yang mengerjakan pembangunan itu tidak mau disebut mangkrak. Katanya karena pada saat itu pekerja dari Kabupaten Badung itu sedang mengerjakan di tempat lain.

Bli Pande lalu nulis di blognya. Mengungkapkan kekesalannya pada Radar Bali. Di blog itu pula Bli Pande menulis kalau kadang-kadang wartawan menulis hanya untuk memeras narasumber.

Sepertinya bagian ini yang membuat Radar Bali panas. Makanya mereka sampai berniat menuntut Bli Pande. Aku tidak tahu apakah itu hanya ungkapan emosional atau benar.

Rencana tuntutan itu, menurutku, hanya gertak sambal. “Ah, masak segitunya,” pikirku.

Yang jelas sudah ada akibatnya. Bli Pande sudah menghapus postingannya itu. “Daripada jadi ribut,” kurang lebih begitu jawabnya via Yahoo Messenger.

Aduh, masak sih harus segitunya. Menurutku kok tidak perlu sampai muncul “ancaman” yang berbuntut penghapusan posting. Tulisan cukuplah dilawan dengan tulisan. Kalau kita keberatan pada satu tulisan, tidakkah cukup dengan membuat tulisan bantahan atas tulisan itu.

Kalau tiap keberatan harus diakhiri dengan “pembredelan”, lalu di mana kebebasan untuk berpendapat yang selama ini kita agung-agungkan?

83 Comments
  • haripuspita
    September 16, 2008

    Nulis seenak udel nggak apa-apa. Nulis “suck” semaunya silakan. Tapi ngatain orang nulis untuk malak duit itu yang ngawur!

    [Reply]

    antonemus Reply:

    hahaha, akhirnya pipit nongol juga. sabar, su! tulis aja keberatan disebut malak. ga usah marah2. apalagi pas puasa. 😀

    [Reply]

  • wira
    September 16, 2008

    wah wah, kayaknya ada berita panas nih….

    btw, terus terang saya salut sama radar bali karena berita2nya yg kritis thd pemerintah (bali)… hingga kalau tidak salah saya denger ada pihak pemerintah yg berhenti langganan Jawa Post (Radar Bali)..

    Berkaitan dengan hal diatas sebaiknya dibahas baik2 tanpa emosi, dan saya setuju dengan pak anton, biar adil, lawanlah tulisan dengan tulisan.

    [Reply]

    antonemus Reply:

    yoih, pak dosen. dibanding media lain, radar bali lebih kritis kalau nulis. radar jg memberi tempat utk berita2 dari jalanan, bukan hanya meliput seminar dan semacamnya.

    makanya agak heran jg kalau wartawannya sampai “marah2” karena dikritik..

    [Reply]

  • pandebaik
    September 16, 2008

    Wah wah Wah, ngobrol sehari langsung naik publish. Mohon Maaf bagi mereka yang merasa panas atas tulisan saya. Tapi apakah mereka pernah pula merasakan betapa panasnya saya yang ditegur atasan atas pemberitaan Radar Bali itu ? padahal pada saat yang sama saat sang wartawan ke lapangan, saya ada di lokasi lain untuk pekerjaan tersebut pula.
    Tentang yang malak Duit, mohon maaf, saya gak nuduh orang yang nulis, tapi secara kebetulan (FYI) ada yang pake ID Radar Bali main ke kantor, maksa sua Atasan, eh endingnya nodong duit agar gak naik cetak berkaitan proyek di Badung.
    But, sori, saya gak liat namanya.
    Apa masih bisa disebut Ngawur, Mbak ? 🙂
    Hati boleh panas, tapi Kepala hatus tetap dingin.
    Suksema Om Anton.

    [Reply]

    antonemus Reply:

    bli pande, saya nulis ini pengennya bisa memediasi antara bli pande dg teman2 di radar bali. tidak utk membesar-besarkan masalah tp biar kita bisa saling belajar saja.

    bukan utk cari salah benar. tp utk saling mengerti apa masalah sebenarnya..

    soal tuduhan itu, terima kasih kalau sudah minta maaf. sptnya sih itu yg mmbuat tmn2 di radar bali tdk terima. tp semoga setelah ini tidak ada masalah lagi.

    suksma pula..

    [Reply]

  • pandebaik
    September 16, 2008

    Ohya, sori kelupaan :
    Untuk itu pula jika Wartawan2 Radar Bali gak terima dengan tulisan saya, saya mengalah untuk itu. Tulisan itu sudah saya hapus demi kebaikan hubungan saya dengan Om Anton (mantan Ketua AJI) jua tentunya.
    Saya gak ingin memanjangkan hal yang menurut saya gak penting. Itu cuman unek-unek ketidakpuasan saya pada Wartawan Radar Bali.
    Kritis boleh, salut malah. tapi pemberitaan yang selalu sok tau ? He… geli aja bacanya.

    [Reply]

    antonemus Reply:

    lha, kok ga enak sama aku. hehehe.. berteman kan bukan brarti ga boleh saling kritik. kalo memfitnah itu br lain masalah.

    soal berita sok tau? setahuku sih sebagian wartawan bukan hanya sok tau. tp jg sok kuasa. 😀

    [Reply]

  • pandebaik
    September 16, 2008

    Pihak Pemerintah sampe berhenti Langganan JP ?
    Mungkin mereka mikir :
    ‘Capeee deeehhh’
    Pusing-pusing nanggepin Berita Radar Bali, toh Negatif Thinkingnya gak berubah jua.
    Bahkan terkadang ngarang. He…

    [Reply]

    antonemus Reply:

    ah, itu sih pemerintahnya saja yg kurang siap dikritik. masak dikritik wartawan aja sampai berhenti langganan.

    kalau isinya muji-muji trus sih itu pasti berita bayar. 😀

    soal wartawan ngarang. yaah, mungkin ada. tp tidak semua kan?

    [Reply]

  • ghozan
    September 16, 2008

    sepertinya polemik tersebut bisa diselesaikan dengan baik2. kalo memang bli pandenya keberatan dikatan mangkrak silakan aja bertemu dengan pihak radar Bali dan saling klarifikasi supaya persoalan jadi jelas dan tidak berlarut-larut.

    [Reply]

    antonemus Reply:

    betul, bli. masalahnya jg (sepertinya) sudah selesai, kok. tulisan ini hanya utk jd tempat belajar biar kita tahu bagaimana seharusnya menulis. sebagai blogger maupun sbg wartawan. semoga..

    [Reply]

  • Adiz Wardana
    September 16, 2008

    panassss….
    panasss……

    [Reply]

  • haripuspita
    September 17, 2008

    Sebelumnya, soal maaf, saya secara pribadi pemaaf kok. Saya orangnya tidak tegaan. Radar juga cuma koran lokal, koran ecek-ecek, sering salah ketik, salah kutip, salah yang lain. Kami suka kok dikritik. Tapi, kan ada mekanisme hak jawab juga, kalau mau fair, kan? Dan, soal penyebaran fitnah, kami dari Radar Bali barusan sudah berunding dengan lawyer kami, bersama Pemred, Pak Rai Warsa. Dan, dirumuskan bahwa ada UU No: 11 tahun 2008, UU baru, tentang Informasi dan transaksi elektronik. Tim lawyer kami berkesimpulan pada acuan UU 11 tahun 2008 tersebut. Antara lain bunyinya: Bab VIII, Pasal 27 ayat (3) : Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan /atau pencemaran nama baik, merujuk pasal 28, dari UU yang sama,ayat (2)Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku,agama,ras dan antar golongan (SARA) Pasal 38 /Bab VIII, soal PENYELESAIAN SENGKETA, ayat 1 disebutkan bahwa “Setiap orang dpt mengajukan gugatan terhadap pihak yang menyelenggarakan sistem elektronik dan/atau menggunakan teknologi informasi yang menimbulkan kerugian. Jadi bisa ditempuh gugatan, lewat jalur hukum. Dan, dengan merujuk pasal juncto pasal 310 ayat (1),(2) dan pasal 311 ayat (1) KUHP. Perihal penghinaan atau pencemaran nama baik. Kami mau dikritik. Wartawan juga tidak semua baik. Ada yang bajingan, memang. Tapi tolong camkan, siapa wartawan kami yang memalak, memeras, minta duit biar beritanya tidak dimuat, itu menyakitkan. Karena saya sebagai penanggungjawab halaman Kota (Denpasar/Badung) yang mengedit berita, untuk naik atau tidak, dengan koordinasi lewat Pimred atau Direktur. Biar dapat sanksi dari kantor atau organisasi profesi. Kalau Feri, dia anggota AJI, saya juga anggota AJI juga kok, biar ada kejelasan dan ketegasan. Itu (minta duit) di era siapa? Eka Merthawan, Gede Wijaya atau siapa humasnya? Tolong dijelaskan. Kami sangat ingin tahu siapa nama wartawan kami yang Anda maksud itu. Karena alat bukti kami tulisan di blog sudah telanjur didel. “Wartawan juga manusia, orang PU juga manusia. No bodys ferfect.” semua bisa khilaf. Tapi kami butuh kejelasan. Suksma.

    [Reply]

    antonemus Reply:

    terima kasih komentarnya, mas pipit. semoga radar tidak jd nuntut. masak sampe segitunya sama teman sendiri. mgkn permintaan maaf saya suadh cukup.

    lagian setauku, bli pande toh tdk nuduh feri nulis utk memeras. dia hanya bilang kalau kadang2 wartawan nulis utk itu. tp bukan brarti radar berbuat itu.

    ah, toh kita jg tau. sebagian wartawan pun memang ada yg begitu. anggap saja sebagai kritik utk kita semua..

    suwun.

    [Reply]

  • Didi
    September 17, 2008

    Waks, banyak artikel terlewatkan. Internet mati seminggu, gak sempat jalan2.
    Bisa semalaman begadang nih, melahap tulisan2 terbaru disini

    [Reply]

    antonemus Reply:

    silakan dilahap sampe kenyang. tp pelampiasan kalo udh kenyang jangan di sini. 🙂

    [Reply]

  • men bani
    September 17, 2008

    Nah ini dia kalau pasal pencemaran baik ini dimasukkan ke smua produk hukum. DIhapus oleh MK di KUHP, eh malah nongol di UU baru lain seperti UU UTE itu.

    Ada banyak mekanisme lain untuk masalah ini. Kita bisa mencobanya. Kan belum dicoba. Radar Bali dan Pande Baik adalah dua profil yang kritis di bidangnya masing2. Masak kita harus berperang sodara?

    [Reply]

    antonemus Reply:

    aneh jg sih memang kalo blogger dituntut wartawan. mending radar nuntut gubernur. wah, itu baru keren.

    [Reply]

  • dani
    September 17, 2008

    sangat disayangkan jika pihak beliau2 yg sama2 kritis saling bersengketa apalg memanfatkan produk UU yg baru itu 🙁

    kl pun mau dilanjutkan, mungkin mending sama2 mencari siapa nama oknum tsb..mungkin bli pande masi inget rekonstruksi wajahnya..

    kl ngga ya…damai aja napa… ♥

    [Reply]

    antonemus Reply:

    ya, bli. msh diusahakan agar berdamai. doain bisa. gak enak teman sama teman masa smp ribut. 🙂

    [Reply]

  • pandebaik
    September 17, 2008

    Mohon Maaf Ibu Hari Puspita, mungkin sudah dapet mampir di BLoG saya perihal konfirmasi posting tersebut ? ini petikannya
    “Hanya saja aku gak punya bukti lebih mendetail tentang siapa yang datang, karena satu-satunya bukti ya ID Card Radar Bali aja. Mungkin kalo waktu itu bisa didetail lagi dengan nama dan ciri-cirinya barangkali saja posting yang dahulu itu….. bla bla bla..
    Belakangan ini baru terpikirkan, bagaimana kalo ternyata itu bukan Wartawan Radar Bali asli, dalam arti ya Gadungan dengan membawa ID palsu. Seperti sindikat yang mengaku anggota KPK yang ditangkap beberapa waktu lalu ? alur ceritanya sama kan ? pejabat diancam untuk mendapatkan sejumlah uang. Yah, barangkali aja PNS-nya (saya sendiri) yang gak berotak…. (karena nulis posting itu) He…”
    Makanya ntu Posting saya hapus Bu, agar gak panjang jadinya.
    Sekali lagi saya mohon maaf.
    Terima Kasih

    [Reply]

    antonemus Reply:

    makasih penjelasannya, bli. semoga ini jd pelajaran utk kita semua..

    [Reply]

  • pandebaik
    September 17, 2008

    Hmmm… kalopun UU seperti cantuman Ibu Hari Puspita bakalan dijadikan sebagai senjata buat nuntut saya, barangkali saya bakalan masuk penjara dalam waktu lama. karena yang saya kritik paling sering ya jajaran PNS seperti saya sendiri. Istilahne ‘Menelanjangi diri sendiri’.
    Kalo itu beneran, Mungkin sudah saatnya saya mengkonfirmasi ke pihak Hosting untuk membredel BLoG saya sendiri dan menggantinya dengan topik hobi (biar nyante) 🙂

    [Reply]

  • widari
    September 17, 2008

    Aku setuju kalau Lawan Tulisan dengan Tulisan, bay the way any way bus way, kenapa Bli Pande hapus tulisannya ya..kan sayang… (aku nggak bisa baca )
    Dan betul juga kata mas anton jangan asal bredel!!!
    Semangat !!!!

    [Reply]

  • imsuryawan
    September 17, 2008

    beh… apa garange ne nah?

    [Reply]

  • ayip
    September 17, 2008

    Bli Pande, jangan keliru lagi: Hari Puspita ini bukan Mbak lho

    [Reply]

  • pandebaik
    September 17, 2008

    Ups, saya baru diberitahu oleh Om Anton kalo Hari Puspita itu Bapak, bukan Ibu. jadi Mohon maaf, Pak. Saya salah kira.
    Untuk Posting yang udah dihapus, mohon maaf jika ada yang tak berkenan. Yang pasti, saya mengakui kesalahan saya itu semua pada tulisan Terakhir, dan berniat menyudahi polemik ini. Mohon dimaklumi.

    [Reply]

  • Putu Adi
    September 17, 2008

    Bli Pande tidak usah dihapus, dicantumin aja trus bikin tulisan lagi sebagai jawaban dari keluhan radar Bali.

    Setuju dengan “tulisan lawan dengan tulisan” seperti Bli Anton bilang.

    Lidah dan pena sudah ada pesaingnya yaitu Keyboard, cocoklah untuk pribahasa “Keyboard juga lebih tajam dari Pedang”.

    [Reply]

  • yudi
    September 17, 2008

    pendapat harus diseragamkan, makanya ada pembredelan *hehe ngaciirrr….

    [Reply]

  • imcw
    September 17, 2008

    Jangan jangan tulisan saya tentang masturbasi juga ada yang komplen, mengapa nggak diisi video youtube tentang proses masturbasi, dok? Atau ada yang tersinggung karena menulis tentang kegiatan rutin hariannya. 🙂 Salam damai untuk semua.

    [Reply]

  • pandebaik
    September 17, 2008

    Dengan Itikad yang jauh lebih baik lagi untuk memohon maaf kepada pihak-pihak yang merasa tersinggung dan mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, maka BLoG pandeividuality.net saya bredel untuk waktu yang tidak ditentukan. Semoga hal seperti ini tak terjadi pada BLoG rekan-rekan yang lain. Terima Kasih.

    [Reply]

  • ikecek
    September 17, 2008

    hah… sayang saya baru baca, maunya seh saya panasi sekalian.
    Tipikal orang indonesia banget, biasanya kalo lagi kalah dan kepepet pasti bisanya ngancam? begitu juga dengan saya, hwauhwhawa…

    [Reply]

  • ahead
    September 17, 2008

    woot!
    kalo menurut saya, menulis itu untuk kejujuran. untuk menumpahkan apa yang kita pikirkan…
    kalo ga ada evidence bukankah itu opini?apa kita belum bebas beropini?
    seru juga posting nya om!

    [Reply]

  • ahead
    September 17, 2008

    just…think like Jack Sparrow … jiahahahhaaaa!!!!

    [Reply]

  • Artana
    September 17, 2008

    Sayang sekali kenapa sampai begitu ya?
    Untuk Bli Pande, saya turut prihatin atas kejadian ini, sangat disayangkan kalau sampai ditutup blognya, saya jadi kehilangan salah satu bahan bacaan yang kritis……
    Untuk Radar Bali kenapa mesti ada ancam-ancaman gitu? Wartawan yang biasa nulis kritis tentang orang lain kok jadi susah menerima kritikan?
    Kalau ingin clear masalahnya ya cari tahu bersama-sama siapa orangnya, bisa saja Radar Bali juga jadi korban karena namanya dicatut orang….

    Yang susah itu bli anton nih, maju kena mundur kena…he..he…Pissss!.

    [Reply]

  • yos
    September 18, 2008

    dikutip :
    “Kami suka kok dikritik. Tapi, kan ada mekanisme hak jawab juga, kalau mau fair, kan?”

    bli pande sudah melaksanakan hak jawabnya, melalui media yang dia miliki, dan ini sah saja. kenapa gak dijawab juga dengan hak jawab oleh radar bali ?

    menyedihkan… ternyata ada media yang memakai UU ITE sebagai alat utk melawan sebuah tulisan dengan dalil sumir dan naif : “PERBUATAN TIDAK MENYENANGKAN !”

    bagi saya ini juga sungguh tak menyenangkan !

    dan bagi saya sungguh juga tak menyenangkan tindakan bli pande untuk “membreidel” blog dia.

    kengken neh ? gugat bli anton saja karena dia memuat topik tidak menyenangkan ini.. wakakakaka….

    [Reply]

  • brokencode
    September 18, 2008

    postingan saya juga sering buat gerah pihak lain dan berbuntut pengancaman. tindakan yang saya ambil paling edit dikit tulisan atau buat lagi tulisan biar tambah gerah, selama tulisan yang dibuat ada dasar fakta dan bukti saya gak takut meski diancam dilawat pengacara mereka

    [Reply]

  • pandekemana?
    September 18, 2008

    pandebaik kemana? wah kita yang di luar bali jadi hilang satu sumber berita tentang bali. blog seperti pande baik penyeimbang tulisan yang di koran ( radar, balipost, nusa ). seperti check and balance. blogger yang lain, tolong tulis bali dari perspective anda sendiri, jangan paste and copy dari koran.

    [Reply]

  • pandebaik
    September 18, 2008

    Sejauh ini saya malah berterima Kasih ke Om Anton, sudah memediasi saya.
    Sedang untuk BLoG, itu sementara saja kok. lagi males aja ngelanjutin BLoG disaat panas begini.
    So, don’t Worry Om Yos and Om Anton. 🙂
    Thanks juga buat Om Brokencode atas sarannya.
    Tapi posisi saya selaku PNS udah kadung bobrok dimata media, jadi mending ngalah aja deh. 🙂

    [Reply]

  • ali
    September 18, 2008

    Bolehlah teman-teman mengkritik kami,wartawan RadarBali.Kami siap dengan tangan terbuka. Tetapi, tolong teman-teman juga mengerti, tidak pada tempatnya jika kritik tersebut disampaikan dengan bahasa yang sarkastis. Kita di Radar Bali, tidak terimanya di RadarBali Suck..Apa maksudnya ? Itu adalah kalimat mengeneralisir bahwa semua orang Radar, entah itu wartawannya, marketing bahkan tukang sapunya, juga Suck.. Itu yang tidak bisa kami terima. Soal materi kritik,kita siap kok. Itu masih bisa diperdebatkan,malah kalau perlu gelar seminar atau apa kek. Toh, banyak kebrobokan di birokrasi Pemkab Badung. Itu tidak kita tutup mata. mau bukti…kita siap adu. Lagian, sampai saat ini, kita belum pernah mendapat jawaban memuaskan dari forum ini, apa dasar saudara Pandhe menulis kata itu..(Suck)

    [Reply]

    mr.keke Reply:

    setuju… ini fenomena tulis menulis ajah… gak usah dibawa ke hati;) silaturahmi jalan terus deh…

    [Reply]

  • Miftah
    September 19, 2008

    Bukan maksud untuk kembali mengulas polemik yang sudah dianggap selesai…tapi satu hal yang jelas….kawan-kawan diforum ini…maaf…bisa membedakan antara Kritik dan Makian (Sucks….yang ditulis bli Pande, sebelumnya….) Bagi saya itu bukan kritik…tapi makian….dan tuduhan negatif yang tidak enak didengar dan dibaca…..pada kalimat memeras… menurut saya itu sudah tuduhan, mengutip kalimat bli pande sendiri, “Hanya saja aku gak punya bukti lebih mendetail tentang siapa yang datang, karena satu-satunya bukti ya ID Card Radar Bali”. Apalagi anda juga menambahkan dengan kasus KPK Gadungn….. kan anda bisa berfikir….(TERIMAKASIH) ….Kritik ke media dalam hal ini ke Radar Bali ….oke????saya bisa menerima dengan fikiran jernih….. sepakat!!!…. tapi kata-kata sucks itu adalah makian….perlu kawan-kawan-kawan ketahui juga……. Id card juga bisa dipalsukan…saya sependapat dengan om Dani “Mungkin bli pande masih inget rekonstruksi wajahnya”…… alangkah baiknya….anda jelaskan…diforum ini…. lebih jelas rekrontruksi wajah orang yang mengaku wartawan Radar Bali itu…. mengingat banyak sekali kasus…wartawan gadungan memanfatkan kasus-kasus yang ada di pemerintahan lokal yang “tidak beres” yang diangkat ke media lewat tulisan …dimanfatkan untuk memeras…..Dan selama ini juga tidak ada keberanian dari pemerintah lokal, seperti Badung misalnya…kalau ada kasus pemerasan…kenapa mereka tidak berani melaporkan kepihak yang berwajib atau Polisi…ada apa gerangannnn???.kan bisa jadi ada kemungkinan … sekali lagi kemungkinan…(kemungkinan kan bisa salah bisa betul) ….orang yang di peras itu bisa jadi ada dugaan “bermasalah” juga….biar orang itu sendiri juga aman…..tolong ini juga dipahami… terimakasih atas forumnya…..

    [Reply]

  • bloggeronani
    September 19, 2008

    Begini aja. Bolehlah onani di blog. Tapi, jangan menuduh, lantas saat ditanya orangnya, faktanya bingung. Apalagi lantas tulisan itu didel sendiri. Kan nggak lucu, pak pande. Tunjuk saja siapa orangnya, namanya, kejadiannya kapan. Kan ada pertanggungjawabannya. Kayaknya pak haripuspita cuma butuh klarifikasi itu, kok…ini pelajaran bersama bagi kita semua. Bahwa onani di blog itu asyik, emang…hehehehe…tapi jangan asal nuduhlah. Repotnya kan kalo keluar di google….MARI ONANI DI BLOG!

    [Reply]

  • mr.keke
    September 19, 2008

    jujur seh… kadang wartawan kalo nulis asal nulis. Hanya menggunakan kacamata mereka sendiri dan bahasa yang digunakan agak provokatif, saya sebagai pembaca malah ketawa kalo baca bahasa bahasa yang provokatif itu.
    Seolah,…. pembaca mau di bodohin dengan tulisan tulisan itu, dan sebenarnya kelihatan sekali.. dimana level harian itu berada.
    Apakah mendidik pembaca atau malah mengacaukan suasana.

    [Reply]

  • pandekemana?
    September 19, 2008

    kalau membaca begini, kelihatan dua-duanya cengeng ya, padahal hasil karya kedua instansi mereka tidak terlalu bagus-bagus amat.

    [Reply]

  • pandebaik
    September 19, 2008

    Terima Kasih kepada rekan-rekan yang urun rembug disini, atas support juga tanggapannya.
    Secara pribadi saya sudah memohon maaf atas tulisan di blog saya. sekalian menegaskan kembali bahwa tulisan itu sama sekali bukan mewakili Pemda Badung, dan mereka gak ada kaitannya dengan itu.
    Sejauh ini BLoG saya merupakan tumpahan unek-unek yang secara sadar saya publish, sebagai gambaran diri saja. Karena itulah fungsi sebuah BLoG menurut saya.
    Perihal kata Sucks, jujur saja, karena terlalu emosi, itu kata pertama yang ada dikepala saya.
    Makanya saya katakan, sekarang lebih baik jadi PNS yang tak berotak saja deh.
    Untuk ciri-ciri, jujur saja, saya tak mampu mengingatnya. Jangankan wartawan, sesama rekan Blogger saja saya masih kesulitan mengingat yang mana orangnya. maklum, ketemu cuman sekali itu saja.
    Jadi kalopun semua itu ternyata tak berkenan, saya sekali lagi memohon maaf. Ini saya buktikan dengan menarik/menghapus posting terkait.
    Saya setulus hati, benar-benar tak ingin hal ini malah jadi semakin memanas.
    Untuk itu pula BLoG saya tarik, tak bisa diakses untuk sementara.
    Sekedar membuktikan bahwa saya bersungguh-sungguh menghormati Keberatan rekan-rekan di Radar Bali.
    Semoga rekan lain bersedia memahaminya.
    Terima Kasih

    [Reply]

  • bloggeronani
    September 19, 2008

    Lho, komentarku kok nggak diturunin…wah,kengken boss!

    [Reply]

  • bloggeronani
    September 19, 2008

    Tak tulis lagi aja. Hanya orang kurang kerjaan saja yang suka pelemik, ribut di sini. Hahahaha..udah, bubaaar-bubaarrr, hahahaha…

    [Reply]

  • wasti
    September 19, 2008

    Ya ini otokritik buat saya, dan kita semua.
    memang, kalau, bisa semarah apapun, ungkapkan dgn kata2 santun ya, kalau tdk bisa, dibuat yg selembutnya kita bisa.

    kalau tdk ada kasus, kita gak sadar

    mumpung bulan puasa, yuk damaiiiiiiiii.
    semoga pikiran jernih mampir dari segala penjuru

    tabik

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *