Kemacetan yang Menular ke Pedesaan

0 Permalink 0

kemacetan-bali

Tidak hanya sekali, kemacetan itu terjadi berkali-kali.

Tempatnya bukan di tengah Kota Denpasar atau Kuta yang memang tiap hari macet. Kali ini di pinggiran kota lalu terjadi lagi di desa-desa sepanjang jalan.

Sore tadi aku dalam perjalanan dari Denpasar ke Tirta Empul, Tampaksiring untuk liputan. Sejaka pagi Denpasar sendiri agak lengang akhir pekan ini. Setelah aku cek ternyata karena hari ini Purnama Kapat. Banyak orang pulang kampung untuk sembahyang.

Tapi, tak hanya orang yang pulang kampung. Kemacetan juga berpindah.

Baru lima menit dari rumah, aku sudah ketemu macet di Jalan Trenggana yang mengarah ke Batubulan lewat Jalan Siulan. Berselang sekitar 15 menit kemudian, ketemu macet lagi di Desa Mas, Ubud.

Kemacetan serupa juga akan terjadi jika ada hari raya, terutama Galungan dan Kuningan. Denpasar lengang tapi di desa-desa justru macet. Penyebab utamanya karena terlalu banyak kendaraan sementara jalan raya memang sempitnya pas-pasan.

Tapi, itulah kondisi sebagian tempat di Bali saat ini. Terlalu makmur tapi miskin infrastruktur.

Secara kasat mata, warga Bali memang terlihat makin mapan. Sebagai orang paling tidak suka berita ekonomi, aku tidak terlalu memberi perhatian pada angka-angka di atas kertas ataupun data-data hasil penelitian. Aku cuma melihat apa yang ada di lapangan.

Hampir 20 tahun sejak pertama kali aku tinggal di sini, Bali memang banyak sekali perubahannya. Paling mudah di jalan raya. Mobil-mobil mentereng tiap hari bertambah. Ukurannya pun jumbo-jumbo.

Begitu pula dengan kendaraan lebih kecil dan personal, sepeda motor. Ibarat laron setelah pertama kali hujan. Begitulah sepeda-sepeda motor keluar dari sarang dan beterbangan ketika pagi hari.

Dari rumah-rumah, mereka lalu memenuhi jalan-jalan di kota ataupun desa di Bali yang tergolong sempit. Maka, kemacetan tak hanya monopoli pusat-pusat ekonomi semacam Denpasar, Kuta, dan Ubud. Dia bisa terjadi di mana saja saat ini di wilayah Bali.

Sempitnya jalan hanya salah satu penyebab. Kemacetan juga terjadi karena tak adanya tempat parkir. Warga di Bali lebih bisa membeli mobil daripada membangun garasi. Tak heran jika badan jalan ataupun trotoar pun seolah-olah jadi milik pribadi. Padahal ya itu milik publik.

Tapi, ini mungkin penyakit kawasan-kawasan urban di negeri ini. Begitu banyak orang kaya baru tapi di sisi lain pemerintah tak serius menyiapkan infastruktur.

Kondisi di Bali lebih parah lagi.

Sistem transportasi (publik) di pulau ini tidak jelek, tapi jeleeeeeeek sekali. Tidak ada sistem transportasi terpadu. Mau ke bandara, naikklah taksi atau kendaraan pribadi. Mau ke terminal, jangan harap bisa naik kendaraan umum ke sana.

Bemo-bemo makin hilang. Padahal sempat jadi andalan ketika aku awal-awal tinggal di Bali. Kalau pun masih ada, biasanya mobil-mobil tua tanpa satu pun penumpang. Serupa kuburan berjalan karena saking sepinya.

Pilihan masuk akal ya memang beli kendaraan sendiri. Dengan daya beli kian tinggi dan persyaratan yang begitu mudah, warga Bali pun berlomba-lomba membeli sepeda motor dan mobil sendiri.

Lalu, pada saat hari raya atau puncak-puncak seperti hari ini, jalanan pun berubah layaknya ruang pamer kendaraan, dan keberhasilan tentu saja. Tiap orang pengen terlihat wah. Tiap orang pengen cepat-cepat. Saling serobot di jalan.

Dan, itu terjadi saat ini hampir di seluruh pelosok Bali. Kemakmuran ternyata belum tentu sejalan dengan kenyamanan.

No Comments Yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published.