Kasihan PHDI jadi Bemper Pendukung Reklamasi

0 , , Permalink 0

Print

Perdebatan terhadap sikap (pengurus) PHDI belum selesai.

Hingga hari ini, perdebatan itu masih mewarnai media arus utama ataupun media sosial. Tak sedikit yang malah mencaci maki organisasi pemuka agama Hindu terbesar di Indonesia tersebut.

Pedebatan bermula dari berita di dua media, Republika dan Inilah.com, dua pekan lalu. Narasumber mereka hanya satu, I Ketut Wiana, Ketua Pengurus Harian Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat.

Melalui media tersebut, Wiana yang juga dosen di Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) mengatakan bahwa revitalisasi Teluk Benoa (RTB) justru bertujuan memperbaiki, menata, dan menjaga lingkungan di Teluk Benoa agar lebih bermanfaat bagi masyarakat Bali.

Sekadar info, kedua media tersebut memang menggunakan istilah revitalisasi, bukan reklamasi. Jargon revitalisasi itu digunakan investor setelah reklamasi ditolak di banyak tempat.

Setelah berita di dua media tersebut beredar, makin ramailah diskusi terkait sikap PHDI terhadap rencana reklamasi Teluk Benoa. Salah satu pemicunya, pernyataan Wiana tersebut berbeda dengan rekomendasi dari Sabha Walaka.

Seminggu sebelumnya, pertemuan Sabha Walaka PHDI di Denpasar justru menyatakan sebaliknya, rencana reklamasi Teluk Benoa akan mencemari kesucian teluk tempat puluhan pura yang dijaga umat Hindu tersebut. Tapi, anehnya, Ketua Pengurus Harian PHDI justru mendukung rencana reklamasi itu.

Maka, pendapat Wiana pun mendapat tentangan dari banyak warga, terutama umat Hindu sendiri. Kritik, kecaman, dan bahkan caci maki terhadap (oknum) PHDI pun mengalir terutama di media arus utama, media jurnalisme warga, ataupun media sosial.

Di situlah kadang saya merasa kasihan pada PHDI.

Saya yakin PHDI hanya dijadikan sebagai bemper pendukung reklamasi. Ada beberapa hal yang menurut saya perlu mendapat catatan dari PHDI.

Pertama, terkait berita di dua media tersebut. Terlihat sekali bahwa berita itu dari satu sumber. Kedua beritanya sama persis. Narasumbernya sama. Isinya sama. Alur beritanya sama. Bahkan, kalimat per kalimatnya pun sama.

Pemuatan kedua berita itu hanya berselang satu menit. Inilah pada Sabtu, 24 Oktober 2015 pukul 19.45 WIB. Republika satu menit kemudian.

Artinya, dua berita itu dari satu penulis yang sama. Saya menduga, berita itu dibuat oleh tim media investor dan kemudian mengirimkannya sebagai press release. Karena mereka tim media investor, tentu saja memilih narasumber yang mendukung reklamasi.

Secara personal, Wiana memang mendukung reklamasi. Anehnya, kenapa dari pengurus PHDI lainnya diam saja?

Inilah catatan kedua untuk PHDI. Jika sebenarnya mereka memang belum bersikap menolak atau menerima rencana reklamasi, kenapa mereka diam saja ketika ada pengurusnya yang mengatakan setuju.

Sekadar saran, jika memang pernyataan Wiana tersebut sifatnya hanya sikap personal, tidak mencerminkan sikap pengurus PHDI lain atau bahkan PHDI itu sendiri, sebaiknya para pengurus segera mengklarifikasi.

Terakhir, terkait dengan substansi sikap PHDI sendiri. Setelah lebih dari tiga tahun suara pro kontra terhadap rencana reklamasi Teluk Benoa, alangkah baiknya jika PHDI segera bersikap menolak. Sudah banyak penjelasan bahwa rencana reklamasi justru akan mengancam kesucian kawasan di sana.

Suara sebagian besar warga di Bali sudah jelas, mereka menolak. Lha kenapa ini PHDI diam saja. Ada apa?

No Comments Yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published.