Noldy, teman di kalangan aktivis penanggulangan AIDS di Bali, pun hari bilang padaku. “Aku golput saja, Pak. Semua caleg sama saja. Tebar janji ketika kampanye. Kalau sudah kepilih paling juga lupa sama kita dan janji-janjinya,” kurang lebih begitu katanya.
Hal serupa selalu saja dibilang oleh teman-temanku, terutama di kalangan aktivis LSM, ketika ngobrol soal Pemilu tahun ini. Semuanya bilang mending golput alias tidak memilih pada Pemilu 2009 ini. Ada beberapa alasan mereka. Antara lain adalah karena tidak jelasnya caleg yang akan dipilih. Namun ada pula yang Golput karena sudah tidak percaya pada sistem di negara ini.
Soal Golput ini bahkan sempat bikin ribut di berbagai media dan masyarakat umum ketika sekitar sebulan lalu Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan pernyataan bahwa Golput itu haram. Ada yang mendukung banyak pula yang kontra.
Banyaknya teman-teman dekat yang Golput itu membuatku berpikir kembali soal, kenapa sih harus Golput?
Menurutku kok Golput bukan pilihan yang tepat ya. Okelah kita muak dengan para Caleg, begitu pula aku. Tapi bukan berarti tidak ada yang bisa dipilih. Di antara ratusan Caleg dari daerah pemilihan kita pasti ada saja satu dua yang layak dipilih. Atau setidaknya pilihlah yang terburuk dari yang terjelek.
Ketika kita tidak memilih bagiku itu sama saja dengan membiarkan orang-orang gak beres yang akan menjadi anggota legislatif. Katakanlah ada calon A dan B. Si A meski tidak bagus-bagus amat setidaknya tidak seburuk si B yang terbukti memang preman. Karena kita tidak ikut memilih si A, maka si B lah yang terpilih. Rasanya kok itu sama saja dengan kita turut berdosa.
Mau cuek dengan Pemilu karena merasa tidak menguntungkan? Rasanya tidak juga. Toh para aktivis LSM pada akhirnya suka juga bersikap politis. Antara lain demo menuntut anu ke DPRD atau meminta agar DPR mendukung kebijakan terkait dengan ide kita. Kalau kita ikut memilih, menurutku itu kok lebih afdhol dibanding tidak pernah ikut memilih tapi kemudian hanya bisa menuntut.
Di luar itu, kadang-kadang sikap Golput bagiku hanya semacam pembenaran atas ketakutan bahwa pilihan kita tidak benar. Ah, tidak usah segitunya kali. Tiap pilihan toh memang selalu ada risikonya. Tinggal bagaimana kita mengantisipasinya..
*Nulis campur ngantuk. Jadi agak nyaplir..
Leave a Reply