Senin ini aku dapat undangan dari Telkomsel untuk hadir di tes peluncuran produk baru mereka. Sekalian saja aku tulis uneg-unegku selama ini.
Undangan itu ditujukan ke aku untuk mewakili Bali Blogger Community (BBC). Aku sudah kirim ke milis BBC namun tak ada yang menyatakan bisa hadir. Karena Hari Purwanto dari Telkomsel juga minta aku datang sebagai narasumber, maka dengan senang hati aku hadir. Menghormati undangan sekalian menyampaikan pikiran dan masukan.
Pertama, aku mewakili diriku sendiri saja, sebagai pelanggan Telkomsel Flash, selanjutnya disebut Flash saja. Aku lupa sejak kapan pakai kartu ini. Kalau tidak salah hampir satu tahun ini.
Dulu, alasanku pakai kartu ini adalah untuk kecepatan akses internet dan besarnya kapasitas. Semula aku langganan StarOne. Karena sering lemot, aku akhirnya pindah ke Flash paket unlimited. Harganya Rp 137.000 per bulan.
Kecepatan Flash lebih bagus dibanding StarOne. Aku tidak ngitung berapa persisnya. Cuma terasa kalau mengunduh (dowload) atau mengunggah (upload) atau sekadar berselancar di dunia maya. Flash terasa lebih cepat.
Namun, dua bulan terakhir Flash terasa makin lambat. Aku tak tahu kenapa. Mungkin karena rumahku yang di pinggiran Denpasar Utara. Tapi, kalau itu alasannya kan seharusnya dari dulu. Buktinya dulu lantjar djaya saja.
Alasan lain aku pakai Flash adalah agar mudah ketika bekerja di luar kota. Pekerjaanku sering membuatku ke daerah terpencil seperti Flores, Mamasa, dan Boyolali. Sinyal Telkomsel sih ada. Tapi, untuk koneksi na’udzubillah lambatnya. Malah, sering kali sampai tak bisa gerak sama sekali.
Pengalaman terakhirku seminggu lalu ketika liputan di Solo dan Boyolali, Jawa Tengah. Ketika nginep di kawasan Malioboro, koneksinya lantjar djaya. Tapi, begitu di Solo, meski di tengah kota, aku sama sekali tidak bisa buka internet. Rencana untuk ngeblog dan ngoprek blog pun gagal total. Lambatnya koneksi internet menghambat pekerjaanku.
Kedua, ini pengalaman bersama teman-teman di BBC ataupun di Sloka Institute. Salah satu kegiatan yang sering kami adakan adalah pelatihan teknologi informasi untuk berbagai komunitas. Nah, tiap kali pelatihan, kegiatan kami selalu terhambat karena masalah koneksi ini.
Salah satu cerita tragis yang aku ingat adalah ketika pelatihan ngeblog di Tabanan, Maret lalu. Ketika itu, pelatihan benar-benar tidak bisa dilakukan karena koneksi internetnya macet, cet, cet. Kami sudah pakai tiga modem yang semuanya langganan Flash. Tetep saja gak bisa jalan sama sekali. Apa daya, pelatihan pun gagal.
Seandainya saja bandwithnya diperbesar dan dibagi merata, latian kami pasti lancar.
Mengaca pada pengalaman itulah, maka aku sarankan pada Flash ataupun penyedia layanan internet lain di Indonesia untuk memperbaiki koneksi dan membaginya adil dan merata.
Memperbaiki koneksi tentu saja agar kecepatannya stabil dan, syukur-syukur, bertambah kenceng. Kalau internet lantjar djaya, aku yakin kerjaan juga jadi lebih cepat selesai. Kalau pekerjaan cepat selesai, aku lebih banyak punya pendapatan. Jadi bayar tagihan bulanan juga makin lancar. Kan untungnya di Telkomsel juga. Hehe..
Lalu, membagi adil merata yang aku maksud adalah agar daerah-daerah fakir benwit seperti Timor, Mamasa, Boyolali, dan daerah terpencil lainnya makin mudah mendapatkan jatah jalan berselancar di internet.
Jangan salah. Para petani di daerah miskin ini juga tergantung pada kecepatan akses internet. Di Tabanan, misalnya, petani kakao mengakses harga kakao di New York melalui internet. Petani di Bedugul belajar bertani organik dari internet. Tinggal sekarang petani di daerah lain yang masih terpencil untuk ikut menikmati kemajuan teknologi informasi.
Kalau mereka bisa mengakses internet, mereka bisa tahu harga produk pertaniannya. Jadi mereka bisa menawarkan harga lebih tepat pada pembeli.
Oya, satu lagi. Kalau internet lancar dan rata, aku yakin pengguna internet bisa mengerjakan hal lain yang lebih berguna: membuat blog, jualan karya, mengenal teman, mencari peluang, dan seterusnya. Kalau internet bisa mempermudah pekerjaan dan memberikan banyak kegiatan, maka mereka tak akan repot-repot cari video mesum atau gambar esek-esek lain.
Jadi, DPR, polisi, dan pak Menteri tak perlu repot ngurusi video mesum mirip Ariel dan dua pasangannya itu. Mending memperbaiki koneksi toh daripada membesar-besarkan urusan beginian..

Leave a Reply