Begitulah Dunia, Bermacam Manusia dan Masalahnya

0 , Permalink 0

Imajinasi tentang seorang bisa ditentukan oleh namanya.

Maka, dari namanya, aku bayangkan teman yang akan datang itu kurang lebih begini: perawakan Timur Tengah dengan pakaian tertutup, bisa jadi berjilbab tertutup, dan tidak mau salaman saat ketemu nanti.

Imajinasi itu menjadi panduanku ketika menunggu si teman yang terbang dari Dubai ke Bali itu. Selama memindai satu per satu penumpang yang keluar di Terminal Kedatangan Internasional Bandara Ngurah Rai, Bali, aku menggunakan profil yang aku bayangkan itu sebagai acuan.

Dan, aku gagal.

Bahkan meskipun sudah membawa kertas A4 berisi nama si teman yang baru datang itu, aku tetap tak bisa menemukannya. Dia juga tak menemukanku di antara para penjemput. Berbeda dengan saat aku menjemput teman lain yang dengan mudah saling menemukan.

Barulah kemudian si teman ini mengirimkan pesan lewat Wire. Ternyata dia sudah di luar terminal. Berdiri di dekat lift. Aku pun menuju tempat yang dia maksud.

Di sanalah si teman itu berdiri menunggu. Penampilannya amat jauh dari yang aku bayangkan. Matanya sipit banget. Kulitnya kuning. Tubuhnya langsing. Tinggi. Namanya kearab-araban, tetapi wajahnya sangat China.

“Santai saja. Memang banyak orang bingung kalau ketemu aku pertama kali,” katanya santai saat kami sudah di tempat parkir menunggu jemputan. Dia seperti memahami pertanyaan-pertanyaan yang tak aku ajukan kepadanya.

Gara-gara si teman ini pula, aku kemudian mencari informasi lebih lanjut tentang negaranya, Kirgistan. Rasanya, nama negara si teman ini pun aku dengar pertama kali. Negara ini berada di Asia Tengah. Pada masa Uni Soviet, dia termasuk bagian dari negara komunis itu. Ketika Soviet pecah, mereka memisahkan diri.

Kirgistan berada di daerah pegunungan Asia Tengah. Diapit negara-negara berakhiran “stan” lain, seperti Kazakhstan, Tajikistan, Uzbekistan, dan Cina. Samar-samar aku ingat pernah membaca cerita seorang teman yang pernah jadi sukarelawan di salah satu dari negara pecah Uni Soviet itu, Tajikistan.

Hal yang aku ingat dari negara-negara itu adalah agamanya, sebagian besar muslim. Dari sisi wajah, mereka memang “pertemuan” antara Eropa dan China. Begitulah rupanya asal muasal si teman dari Kirsgistan tersebut.

Etnis utama di Kirgistan adalah Kirgis. Dari sisi agama, sekitar 88 persen muslim. Karena itu, aku pun berasumsi bahwa teman ini pun muslim. Ternyata tidak juga. Dia mengaku tidak beragama.

Hehehe.. Aku salah lagi.

Kesalahan-kesalahan itu memberikan pelajaran kepadaku, begitulah rumitnya persoalan identitas manusia. Tak bisa menilai apalagi menggeneralisir identitas individu hanya dari identitas mayoritas di negaranya.

Rumitnya identitas itu lebih terasa lagi ketika selama dua minggu aku bergaul dengan 14 orang lain dari Asia, terutama Asia Tenggara dan Asia Selatan. Kebetulan sekali di antara kami juga ada yang dari Bangladesh, India, dan Pakistan.

Mari mulai dengan teman dari India.

Hindu adalah agama mayoritas di sana. Namun, dia kaget-kaget ketika melihat bagaimana Hindu dipraktikkan di Bali. Mebanten, sembahyang umat Hindu di Bali dengan menghaturkan canang tiga kali sehari, bukanlah praktik yang biasa dia temukan di negara asalnya.

Sudah lama jadi rahasia umum, Hindu India dan Hindu Bali itu sebenarnya berkonflik juga di Bali. Banyak kalangan Hindu di Bali yang justru merasa terancam oleh model Hindu India. Perbedaan keduanya banyak sekali, termasuk sistem ibadah dan kepercayaannya.

Si teman ini bercerita bagaimana India saat ini juga tengah menghadapi fundamentalisme atas nama agama Hindu. Perdana Menteri saat ini, Narendra Modi, didukung organisasi masyarakat bernama RSS, singkatan dari Rashtriya Swayamsevak Sangh. RSS ini semacam FPI-lah kalau di Bali, tetapi dengan kekuatan lebih besar.

RSS ini yang sekarang menguasai pemerintahan India. Mereka memiliki paramiliter mirip Nazi. Rasis dan fundies. Tidak hanya kepada kelompok muslim dan Kristen, tetapi juga aktivis. Tentu saja kebencian mereka juga terutama pada dua negara tetangga, Pakistan dan Bangladesh.

Pernah ada istilah, lawan musuhmu adalah sekutu. Nyatanya, ini tidak terbukti pada Pakistan dan Bangladesh. Aku pikir karena sama-sama negara dengan penduduk mayoritas muslim dan sama-sama musuhan sama India, mereka akan berteman. Ternyata tidak juga.

“Orang-orang di negara kami tidak akan senang kalau tahu aku berteman dengan orang Bangladesh, apalagi India,” kata si teman dari Pakistan.

Berceritalah dia bagaimana rumitnya hubungan ketiga negara ini. Dua teman lain dari Bangladesh dan India mengiyakan cerita itu.

Lucunya, dengan sejarah perselisihan begitu ruwet dan panjang, si teman dari Pakistan ini justru tertolong setengah mati ketika akhirnya menemukan menu khas India. Selama di Bali, dia memang tak bisa menikmati makanan lokal sama sekali. Sampai akhirnya, pada satu hari, aku ajak dia ke salah satu restoran India dekat lokasi kegiatan kami.

Wajahnya semringah. Makannya pun nambah. Begitulah segala perbedaan politik dan identitas bisa hilang ketika sudah berada di meja makan.

No Comments Yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *