Konferensi PBB tentang perubahan iklim (UNFCCC) resmi dibuka hari ini di Nusa Dua. Ini narasi besar tentang pemanasan global. Dan, yang terjadi di lapangan hanyalah ketidaknyamanan.
Aku mulai merasakannya minggu-minggu ini. Paling terasa sih di Sanur pas habis mandi di pantai sama anak istri kemarin. Agak aneh juga melihat polisi bersenjata lengkap berdiri siaga menghadap ke jalan di perempatan Jl Hang Tuah – Jl By Pass Ngurah Rai. Bukannya ini tempar bersantai. Tapi kok polisi bermuka serem itu berdiri dengan tegaknya di sana? Bagiku sih tidak menimbulkan rasa nyaman, malah sebaliknya: perasaan seperti terancam.
Lalu siangnya aku ke Ungasan. Tidak jauh berbeda. Polisi berkaca mata hitam, bersenjata lengkap (entah AK 47, entah M16), berdiri tegak di pinggir jalan itu juga ku lihat di bunderan Simpang Siur dan pertigaan Bandara Ngurah Rai. Dan, honestly, itu membuatku bertanya-tanya.
Kok ada polisi bersenjata lengkap di sini? Apakah akan ada orang menyerang atau membuat kerusuhan? Ataukah Bali memang begitu gawat? Pertanyaan-pertanyaan itu muncul begitu saja. Jadi polisi yang seharusnya untuk memberi kenyamanan itu untukku malah sebaliknya. Beberapa teman yang ku tanya menjawab hal yang tidak jauh berbeda. Mereka tidak nyaman dengan pengamanan berlebihan.
Dan sore tadi aku ke Mumbul, Nusa Dua. Di pinggir jalan sekitar Taman Mumbul, segelondong kawat berduri diletakkan. Ini seperti persiapan untuk menghalau massa dalam jumlah besar. Aduh, harus sebegitu gawatkah sikap yang harus diperlihatkan? Tidakkah cukup dengan pengamanan “tersembunyi” tanpa harus secara terbuka menunjukkan demikian?

Leave a Reply