
Spanduk di depan Circle K Jalan Letda Made Putra Denpasar menarik perhatian kami, Sabtu akhir pekan lalu. Saat itu aku, Bunda, dan Bani sedang melintas di depannya. Spanduk itu mempromosikan bonus satu botol untuk setiap pembelian satu kardus bir Bintang. Dia menarik perhatian kami karena menggunakan Nyepi sebagai momentum untuk promosi.
“Happy serene Nyepi celebration with Circle K, buy one cartoon get one bottle,” tulis Circle K di spanduk dan poster tersebut.
Seperti sering terjadi di antara kami, tulisan spanduk itu pun jadi bahan obrolan kami sambil melaju di atas sepeda motor bahkan ketika sampai di rumah. Kami merasa, sepertinya asik kalau menulis soal bagaimana pelaku bisnis menggunakan Nyepi sebagai momentum untuk promosi atau bahkan menjadikan Nyepi sebagai komoditi. Bahasa kerennya sih komodifikasi.
Kami sepakat membagi peran. Bunda liputan lapangan tentang promosi para pelaku bisnis dan konsumen menjelang Nyepi. Aku wawancara pemikir yang kami anggap bisa menjelaskannya menurut kaca mata kajian budaya (cultural studies), Prof Dr I Wayan Ardika, Dekan Fakultas Sastra Universitas Udayana Bali dan Dosen Kajian Budaya.
Tulisan kami ada di sini.
Komodifikasi Nyepi itu memang terjadi, sama halnya dengan komodifikasi perayaan Idul Fitri maupun Natal. Komodifikasi Nyepi ini, menurutku, malah merusak esensi Nyepi itu sendiri.
Begini. Secara teori, ada empat pantangan saat umat Hindu Bali melaksanakan Nyepi. Empat pantangan tersebut adalah menyalakan api (amati geni), bekerja (amati karya), bepergian (amati lelungan), dan bersenang-senang (amati lelanguan). Umat Hindu dilarang melakukan empat kegiatan tersebut selama 24 jam pada saat Nyepi.
Tapi, bagi industri, Nyepi adalah peluang bisnis. Nyepi, yang bagi umat Hindu adalah waktu untuk berefleksi, justru menjadi waktu untuk menawarkan promosi bagi pelaku industri.
Komodifikasi, secara sederhana adalah proses perubahan sesuatu menjadi komoditas, baik barang maupun jasa yang dijual pada konsumen. Perubahan ini terjadi ketika barang atau jasa tersebut dianggap bisa mendatangkan konsumen bagi produk yang dijual. Pada contoh Nyepi, misalnya, komodifikasi itu terjadi ketika Nyepi yang sebenarnya adalah ritual agama justru dimanfaatkan sebagai komoditas alias sesuatu untuk dijual.
Contohnya ya bir dan paket liburan Nyepi itu tadi. Memanfaatkan Nyepi, dua pelaku industri itu menawarkan produk mereka, yang pada bir adalah produk barang sedangkan pada paket makan adalah barang dan jasa.
Komodifikasi Nyepi ini terjadi karena masyarakat semakin konsumtif. Budaya konsumtif itu yang dipakai industri saat menjelang Nyepi. “Orang-orang modern itu sangat konsumtif dan peduli citra. Mereka sibuk merayakan konsumerisme. Begitu pula dengan orang-orang Bali,” kata Ardika.
Sekali lagi, komodifikasi ini bukan hanya pada Nyepi. Perayaan agama lain pun sami mawon, bahkan lebih parah. Paket diskon besar-besaran menjelang Idul Fitri dan Natal adalah upaya pelaku industri untuk menggiring, atau bahkan membentuk, pikiran orang bahwa tanpa belanja, maka perayaan hari raya adalah nothing. Hari raya adalah hari untuk belanja.
Bagiku ini pertarungan antara yang sakral dengan yang profan, antara esensi dengan citra, antara agama dengan pasar. Dan, apa boleh buat, pasar yang sekarang menang. Faktanya tak sedikit ritual ataupun budaya yang harus menyesuaikan dengan selera pasar.
Di Kuta, Ardika memberikan contoh lain, semula melasti diadakan pada pagi hari. Tapi, untuk membangun citra sekaligus memenuhi ketertarikan turis, maka melasti saat ini dilakukan menjelang matahari tenggelam. “Karena kalau saat sunset bisa menjadi tontonan turis juga,” katanya lalu tertawa.
Kalau ritual sudah menjadi tontonan, maka akan mendatangkan turis makin banyak. Ini adalah logika pasar di mana supply dan demand saling mempengaruhi. “Orang Bali sekarang menjadikan Dewi Pasar, Dewi Melanting sebagai raja. Semua UUD, ujung-ujungnya duit,” lanjutnya.
Leave a Reply