Beberapa waktu lalu, seorang teman cerita tentang pernikahannya yang tertunda. Dia sudah kerja di bidang teknologi informasi. Jebolan Ilmu Komputer UGM, siapa sih yang akan menolak lamarannya? Selain ngrawat beberapa situs, teman itu juga kerja layout dan ngajar di salah satu universitas swasta di Bali. Artinya, secara materi dan status sosial, teman itu jelas lengkap.
Namun itu bukan modal untuk menjamin romantika yang mulus.
Dia sudah pacaran dengan ceweknya, seorang dokter –nah, kan apalagi yang kurang coba?- sejak mereka kuliah. Jadi ya sekitar tujuh tahun pacaran. Umur mereka hampir 30 tahun. Wajar kan kalo mereka sudah berniat menikah.
Masalahnya adalah, teman itu anak laki-laki satu-satunya di keluarganya. Sedangkan ceweknya anak tunggal. Di Bali, kalau pasangan seperti ini hampir seluruhnya bermasalah. Sebab tiap keluarga di Bali memerlukan pewaris. Mungkin ini di semua tempat, tapi di Bali sangat kuat. Dan pewaris itu haruslah laki-laki.
Keluarga cewek meminta agar temanku itu nyentana (baca nyentane). Artinya dia harus masuk ke keluarga cewek. Secara adat istiadat, dia pun terikat pada keluarga si cewek. Misalnya soal kewajiban ke banjar atau pura. Temanku itu, tentu saja, tidak mau. Sebab dia juga harus meneruskan keluarganya. Dia laki-laki satu-satunya. Kalau dia pergi, maka keluarganya juga tidak punya penerus. Kecuali nanti adiknya ngajak dengan laki-laki yang mau nyentana.
Singkat kata, faktor pembeda mereka adalah karena si cewek anak tunggal dan temanku itu anak laki-laki satu-satunya. Pernikahan mereka terus tertunda. Keduanya sudah sangat inging menikah. Dan tidak ada masalah dengan perbedaan itu. Namun orang tua mereka yang belum mau mengalah salah satunya.
Kenyataan ini yang mengusik pikiranku. Selalu saja ada faktor pembeda bagi pasangan yang mau menikah. Aku bercermin pada mereka. Kasusku sama. Cuma faktor pembeda antara aku dan cewekku adalah agama, dan suku. Aku Muslim, meski gak taat-taat amat J. Dia Hindu, meski juga jarang sembahyang J. Aku Jawa. Dia Bali. Tidak mudah menjalaninya. Toh, kami bisa berjalan hingga saat ini. Dan, kedua orang tua kami akhirnya bisa menerima meski awalnya susah juga.
Senula orang tua kami lebih suka kalau milih pasangan yang sama saja. Misalnya sama-sama muslim, atau sama-sama Bali. Nyatanya toh yang sesama Bali pun bukan berarti bisa mulus hubungannya.
Atau yang sama-sama muslim. Aku inget juga teman di kampung. Mereka sama-sama muslim. Toh, bukan berarti urusan mereka lancar. Sebab tetap saja ada faktor pembeda. Satunya Muhammadiyah. Satunya NU. Walah, susah banget sih dengan urusan identitas.
Kakak pertamaku dulu pun begitu. Orangtuaku yang Muhammadiyah thothok, tidak mau berbesan dengan orang NU. Nyatanya kakakku tetap menikah. Dan orangtuaku juga bisa menerima biasa akhirnya.
Intinya pasangan dengan faktor persamaan apa pun, selalu saja ada faktor yang membuat mereka berbeda. Kalau bukan cinta yang menyatukan perbedaan iu, lalu apalagi?
HATJING!
Leave a Reply