Hanya satu kata yang aku ingat dari namanya, Minggu. Nama lengkapnya aku lupa. Bapaknya Bali, ibunya Lombok. Keduanya sudah bercerai. Minggu kini hanya bersama bapak dan adiknya di gubuk reot mereka. Minggu adalah juga nama hari saat aku mengenalnya pekan lalu. Ketika aku akhirnya bisa menyempatkan diri turun ke bawah jembatan di Tukad Unda, Klungkung usai pulang liputan di Karangasem.
Ini niat lama yang terus tertunda. Turun dari jalan raya besar untuk menyusuri galian C sepanjang sisa sungai tersebut. Sekadar lewat atau menyapa mereka yang menggantungkan hidup di sana. Dan, Minggu adalah salah satu di antara ratusan orang yang bekerja dan tinggal di sana. Mereka tinggal di bedeng-bedeng kecil, mungkin tak sampai 3 x 3 meter persegi.
Aku menemuinya di antara deru mesin penghisap pasir. Dia bermain sendirian tanpa teman sepantaran. Temannya adalah pasir, air, serta deru mesin penghisap pasir dan truk yang mengangkut pasir demi pasir. Lalu selebihnya adalah sepi ketika malam sudah datang..
*Catatan di hari Minggu untuk Minggu yang kukenal tepat seminggu lalu..

Leave a Reply