Merayakan Idulfitri di Tengah Tragedi Pandemi

0 No tags Permalink 0

Semoga ini hanya terjadi seumur hidup.

Tahun ini kami merayakan Idulfitri dengan suasana amat berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Rasanya hambar sekali. Lebaran tanpa sholat Ied bersama-sama di masjid di lapangan. Juga tanpa keluarga besar dan pluputan.

Semua gara-gara pandemi.

Tak menyangka, kami pun turut terkena juga setelah umat agama lain juga mengalaminya. Maret lalu umat Hindu melaksanakan Nyepi tanpa melasti massal dan arakan ogoh-ogoh yang biasa diikuti ribuan orang. Ada pula Paskah dan Waisak yang dilaksanakan tanpa kumpulan banyak orang bulan lalu.

Sebelumnya, Tahun Baru Imlek juga dirayakan dalam suasana sepi, terutama di China, di mana pandemi Covid-19 bermula.

Dari Wuhan di China, penyakit ini menyebar ke berbagai belahan dunia: Eropa, Amerika, Timur Tengah, Australia, Selandia Baru. Indonesia pun terkena. Setelah sempat disangkal dengan beragam alasan, misalnya orang Indonesia tidak mungkin, nyatanya pandemi ini pun terjadi di sini.

Bali mengalami dampak lebih awal, terutama dari sisi ekonomi. Sejak Januari, aku sudah lihat sendiri di lapangan saat liputan, bagaimana tempat-tempat pariwisata yang dulu riuh dengan turis, mendadak sepi. Tanjung Benoa, Nusa Dua, Uluwatu, Kuta, Sanur, Ubud, Kintamani. Nyaris tak ada turis sama sekali.

Secara sosial juga banyak dampaknya. Sekolah libur. Ibadah harus di rumah. Kerja juga dari rumah. Kota pun lebih lengang dibanding biasanya.

Bagiku, pandemi yang datang ketika kami sedang melakukan puasa Ramadan menjadi semacam pukulan ganda. Sudah terkena pandemi, sedang puasa pula. Malasnya makin bertambah meski kenyataannya sih tetap saja bekerja dalam tiga giliran: pagi setelah sahur, jam kerja normal 9-4, lalu malam usai buka puasa. Secara psikologis, terasa sekali beratnya puasa di tengah pandemi ini.

Namun, ujian sesungguhnya jauh lebih terasa ketika Lebaran tiba. Jika pada tahun-tahun sebelumnya kami nyaris selalu merayakan di kampung halaman, Lamongan, kali ini harus di Bali. Sedihnya lagi, itu pun tak ada sholat Idulfitri.

Perasaan ini mungkin hanya bisa dipahami mereka yang pernah mengalami. Biasanya tiap Lebaran mudik, kumpul keluarga besar, buka puasa bersama, takbiran, menyantap menu-menu khas Lebaran, sholat berjamaah di lapangan, pluputan, dan hahahihi di tanah kelahiran. Kini, semua keriangan itu tak bisa lagi kami alami.

Hambar. Nelangsa.

Kami kemudian berusaha mengobati nelangsa itu sebisanya di Denpasar. Rumah, sih, tidak terlalu bersolek. Sudah biasa rapi. Kami tambahkan saja foto-foto keluarga besar: empat bersaudara anak-anak Bani Taqrib, para cucu dan cicit Bani Taqrib, keluarga inti dari Bengkalis sampai Bali, juga suasana Lebaran di kampung.

Ada pula foto bapak dan kakak yang sudah meninggal.

Kami cetak foto-fotonya dalam ukuran A4. Kami rangkai dan gantungkan di dinding ruang tamu. Kami ingin menghadirkan mereka semua di rumah. Kami inging merasakan bahwa jarak tidak memisahkan kami. Bahkan, kematian sekalipun.

Biar makin terasa suasana Lebaran, kami juga pasang ketupat di dinding dan pintu rumah. Sah untuk merayakan Lebaran!

Biar lebih sah, kami tetap melaksanakan Sholat Idulfitri di halaman rumah. Meski hanya berempat, tak apalah. Meski hanya bisa baca ayat Qulhu, bukan Al-A’la sebagaimana disunahkan, yang penting tetap sah sholatnya.

Serunya, kami langsung sekalian makan di halaman beralas tikar yang kami pakai sholat. Opor ayam dan ketupat beli dari tetangga, tetap bisa mengobati kerinduan pada makanan serupa di kampung saat Lebaran.

Tak sempurna memang, tapi okelah.

Begitu pula ketika kami tak bisa silaturahmi atau pluputan. Cukuplah bertelepon ria pakai WhatsApp. Telepon emak di kampung. Telepon kakak-kakak di Jakarta, Bengkalis, Batam. Lalu, kami tutup dengan telepon berjamaah alias group call di aplikasi yang sama.

Seru. Teknologi milik orang Yahudi ini ternyata lumayan membawa suasana keluarga ke rumah kami.

Saking dekatnya, aku sampai takjub sendiri. Tak ada tangis. Tak ada air mata meski kami berlebaran dengan jarak memisahkan. Berjauhan. Padahal, itulah yang semula aku paling takutkan, air mata bercucuran karena tak bisa merayakan Lebaran dan kumpul keluarga di kampung halaman.

No Comments Yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *