Pemilu masih lima bulan lagi. Namun gegap gempitanya sudah terasa sejak dua atau tiga bulan lalu. Atribut kampanye seperti bendera dan baliho memenuhi berbagai tempat di Denpasar. Nyaris tidak ada tempat yang bersih dari atribut yang sangat tidak sedap dipandang mata ini.
Begitu banyak calon anggota DPR (caleg) yang menjual muka di baliho-baliho itu. Namun sangat sedikit yang aku kenal. Padahal perasaan aku juga lumayan rajin baca koran, nonton TV, atau selancar di internet deh. Tapi kok aku tidak kenal hampir seluruh caleg itu ya? Lalu bagaimana mereka yang jarang mengonsumsi media?
Tidak ada hal lain yang kutemukan di baliho-baliho itu selain pencemaran pemandangan kota. Tidak ada yang menjual program. Atau setidaknya alasan kenapa orang lain harus memilih mereka sebagai caleg. Padahal aku yakin biaya untuk bikin baliho juga tidak sedikit. Salah satu teman blogger yang punya keluarga sebagai caleg pernah bilang kalau tarif untuk jadi caleg itu bisa sampai Rp 100 juta, termasuk biaya kampanye di dalamnya.
Makanya seorang teman yang bekerja di bank dan memang rada pelit pernah bilang agak sinis. Lebih baik dia tidak memilih caleg yang memasang baliho besar-besar. Sebab modal caleg itu pasti besar. Kalau modalnya besar, tentu dua juga ingin dapat hasil yang besar. Artinya kalau dia jadi anggota DPR juga pasti berusaha keras agar modalnya balik lebih besar. Hmm, bener juga sih logiknya..
Sebagai pengguna internet, aku kemudian juga mikir kenapa para caleg itu tidak menggunakan internet saja sebagai media kampanye yang lebih efektif. Sebab setahuku internet bisa jadi alat kampanye yang efektif. Tapi strategi kampanye ini belum banyak dilirik. Sampai hari ini yang aku tahu pasti hanya ada tiga caleg dari ali yang sudah kampanye lewat website, blog, ataupun facebook.
Aku belum menemukan data resmi jumlah pengguna internet. Tapi menurut data Telkom, pengguna internet di Indonesia saat ini ada sekitar 25 juta orang hingga . Dengan asumsi satu persennya saja, berarti ada sekitar 250 ribu pengguna internet di Bali. Itu jumlah yang tak sedikit. Maraknya warung internet dan larisnya ponsel dengan fasilitas internet juga bisa jadi salah satu ukuran bahwa jumlah pengguna internet terus bertambah.
Tapi sayangnya para caleg belum melirik potensi ini. Aku malah tidak yakin kalau mereka pada melek internet.
Bukan hanya para caleg. Komisi Pemilihan Umum (KPU) Bali pun tak jauh berbeda. Pagi ini aku coba mencari daftar Pemilu 2009 di situs tersebut. Ternyata juga tidak ada. Adanya masih data lama untuk Pilgub beberapa waktu lalu.
Begitu pula ketika aku cari dengan kata kunci Daftar Caleg Bali. Patuh dogen. Tidak ada hasil sama sekali. Padahal kalau KPU punya rekap mereka di website tentu akan lebih menarik. Apalagi kalau daftar caleg di internet tersebut dilengkapi profil para calon. Maka, orang yang mencari tahu latar belakang caleg itu tidak hanya tahu tampang para caleg. Kami juga bisa tahu apa yang mereka tawarkan..
Leave a Reply