Seminggu berjalan, kami melihat bintang untuk Bani lumayan berhasil. Setidaknya hingga minggu ini.
Bintang itu kami berikan setelah selama empat bulan sekolah TK, Bani masih juga terlihat tak menikmati kelasnya. Dia sering tak bersemangat ketika masuk kelas. Dia akan menundukkan kepala, sekali-kali minta ditemenin hingga masuk kelas, atau bahkan tidak mau ditinggal.
Anehnya, hilangnya semangat itu selalu terjadi begitu dia masuk halaman kelas. Padahal, dia selalu bersemangat kalau berangkat dari rumah bahkan hingga sampai sekolah. Dia kadang sambil nyanyi ketika di atas sepeda motor memperlihatkan bahwa dia bukanlah pemalas untuk masuk sekolah.
Tapi, begitu mau turun dari motor atau melewati pintu gerbang sekolah, dia akan mengkeret kayak si melata kaki seribu yang disentuh manusia. Perubahannya sangat drastis.
Kami kemudian mencoba beberapa cara agar dia tetap bersemangat ketika masuk sekolah atau kelas. Tapi, itu tidak terlalu berhasil. Dia masih juga sering tiba-tiba mengkeret lagi. Senin lalu, hal itu kembali terjadi.
Lalu kami, ayah bundanya, sepakat memberikan penilaian untuknya dengan bintang-bintang. Metode yang kami temukan sendiri ini kami diskusikan bersamanya. Dia setuju.
Teknisnya begini. Ada tiga semangat utama yang dinilai, yaitu persiapan berangkat sekolah mulai bangun tidur sampai pakai baju, saat berangkat dari rumah hingga sampai sekolah, dan saat masuk halaman sekolah dan ruang kelas.
Untuk poin tiga, kami tekankan pada Bani bahwa itu poin paling penting. Dia harus semangat dengan menunjukkan perilaku, antara lain mengucapkan selamat pagi dan bersalaman dengan guru seperti teman-temannya, tidak boleh cemberut atau menundukkan kepala, dan mengikuti pelajaran dengan baik.
Kesannya terlalu moralis. Tapi, menurut kami, dia harus bisa menghargai guru dan temannya di sekolah.
Kalau menurut kami dia sudah melakukan poin tiga dengan bagus, dia setidaknya akan mendapat 1,5 bintang. Kalau dia semangat saat persiapan, dia akan dapat satu bintang. Kalau dia semangat saat berangkat, dia akan dapat setengah bintang. Kalau tiap hari dia bisa melakukan semua itu dengan semangat, dia akan mendapat tiga bintang penuh. Itu bintang tertinggi.
Kami sepakat memberikan penghargaan dan hukuman yang kami buat juga dengan kesepakatan Bani. Kalau dia cuma mendapat minimal 12 bintang, maka dia bebas minta hadiah. Misalnya, diinstalin game di iPad atau laptopnya, atau disewain film untuk nonton, atau beli es krim, atau beli buku, atau apa pun yang dia mau.
Karena Bani game freak, dia minta dinstalin game saja.
Sebaliknya, kalau dia tidak mendapat 10 bintang dalam seminggu, maka dia tidak boleh nonton atau main game. Ini dua kegiatan favoritnya. Dia hanya boleh main dengan teman-temannya di mana saja tanpa menyentuh laptop atau iPad sama sekali.
Kami mengajarinya untuk bertangung jawab dan siap dengan akibat tindakannya.
Ternyata, metode ini berhasil. Setidaknya hingga seminggu ini. Dia mulai mengubah sikapnya saat masuk sekolah atau kelas. Tidak lagi cemberut dan menundukkan kepala, tapi pelan-pelan menegakkan kepala saat salaman dengan guru atau disapa temannya.
Aku melihat dia melakukan itu tanpa perasaan terpaksa atau tertekan. Semoga saja untuk seterusnya.

Leave a Reply