Hak Jawab tentang Bali Post

26 No tags Permalink 0
Seorang teman mengirim email yang isinya berupa tanggapan terhadap tulisanku tentang Bali Post. Ratna Hidayati, teman yang bekerja di Koran Tokoh (masuk Kelompok Media Bali Post), itu pada dasarnya menceritakan bagaimana praktik jual beli berita juga terjadi di banyak media, tidak hanya Bali Post.

Dan, seterusnya silakan baca di bawah. Tulisan yang sekaligus sebagai hak jawab (meskipun blog ini bukan media umum yang terikat pada UU Pokok Pers) ini aku muat apa adanya. Tanpa edit titik koma sekali pun.

Aku mau posting di rumahtulisan malah error. Tolong diposting ya.

Jangan hanya mengkambinghitamkan Bali Post mas. Saya tukang deal iklan, saya tahu betul apa yang terjadi di lapangan. Yuk, mari bertaruh kalau media lain tidak melakukannya.

Anda yakin media lain, bahkan media terbitan Jakarta tidak melakukannya? Hmm…saya nggak yakin. Belum genap seminggu aku nego iklan dengan lembaga di Jakarta. Tahu apa yang ditawarkan sebuah media terbitan Jakarta? Mas, mas mendingan dibuatkan berita saja kalau dananya minim. Saya memilih buatkan iklan display saja untuk mereka. Wong minta iklan display.

Aku juga bertemu rombongan wartawan dari Riau, ada Riau Pos, Riau TV, Tribun …(grup Kompas, lupa namanya) dll. Tahu pertanyaan sebagian dari mereka? Kalau di Riau, pemda tuh kontrak halaman dengan kami. Bagaimana dengan di Bali? Upsss…

Oya, ada juga media lain di Bali, yang minta ke beberapa pemkab: jatahnya harus sama dengan Bali Post. Hihihi..sampai-sampai, ada pemkab yang nggak berani bilang kalau ada kontrak dengan Bali Post karena tuh media maksa bener minta jatah yang sama. Pemasang iklan juga kerap curhat kok. Makanya saya tahu.

Saya di Koran Tokoh. Redaktur merangkap manajer iklan. Saya pikir, mas tahu kebijakan yang diambil Tokoh. Apa semua berita bayar? Apakah itu berita? Salah, itu advertorial. Itu iklan pariwara mas. Jelas-jelas ada kodenya yang memisahkan dengan berita. Tokoh punya garis-garis haluannya bukan? Coba cek, media apa di Bali yang mau nulis tentang HIV/AIDS di halaman 1 selama tiga edisi berturut-turut? Cuma Tokoh. Mas tau, kalau ngomongin bisnis, berita itu “nggak bernilai jual”. Apakah Tokoh minta imbalan dari para aktivis HIV/AIDS? Tokoh menjualnya? Hmmm…tanya Mbak Mercya atau Pak Alit Kelakan sekalian.

Buat Tokoh, sebuah koran akan hidup jika memenuhi tiga prinsip: idealisme, bisnis, profesionalisme. Kami akan menambah halaman tanpa menaikkan harga koran jika iklan kami ternyata melebihi kuota dan itu sering kami lakukan.

Kenapa mas “menggugat” Bali Post aja? Bagaimana dengan yang lain? Bali Post lebih fair dibandingkan yang lain karena mencantumkan kode advertorial. Oya, bagaimana pula dengan tayangan televisi yang kerap kali memasukkan iklan di program mereka? Tonton Metro TV. Ada BNI News Flash. Itu iklan dalam program mas. Itu jurnalisme juga loh. Lihat juga acara tv yang lain: penuh dengan iklan built in program.

Oya, tahu nggak kalau beberapa perusahaan berpikir, saya akan beriklan di media tertentu, bonusnya diberitakan? Itu terjadi, dan saya mengalaminya. Beritanya tanpa kode, tapi jelas dimuat karena pasang iklan.

So, what do you think?

26 Comments
  • Made Suardana
    December 11, 2007

    wah ternyata begitu ya dalam dunia koran2an itu. klo gitu mending baca2 blog saja sekarang daripada koran. 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

  • didut
    December 11, 2007

    hmm…just start from ourself, that what I’m thingking

    ReplyReply

    [Reply]

  • dod
    December 12, 2007

    akhirnya gw komen juga yaaa,

    tapi sebelum ngasih komen, gw boleh tau tulisanlu yg ke balipost ga??

    via email aja kali yaa

    longlive blogger !!!

    ReplyReply

    [Reply]

  • wira
    December 12, 2007

    hmmmm….

    *masih berpikir

    ReplyReply

    [Reply]

  • Dekdidi
    December 12, 2007

    Ternyata koran begitu ya??? Mending main blog2an!

    ReplyReply

    [Reply]

  • antonemus
    December 12, 2007

    @ made: begitulah, bli. sedih ngelihatnya. larinya ya memang ngeblog saja. tidak perlu bayar utk masuk blog. keep blogging sampe nungging. :))

    @ didut: yup. let’s we start. 🙂

    @ dod: bisa lihat tulisan lain di blog ini, dod. yg judulnya ada uang anda masuk koran.

    @ wira: mikirin yg trgantung itu? atau lupa mau mikir apa? 😀

    @ dek didi: hampir semua koran mmg begitu. makanya makin banyak koran tidak laku.

    ReplyReply

    [Reply]

  • bunda aysar
    December 12, 2007

    fiuuuuuuuuuuuuuuuh untung daku paling gak pernah baca koran, hihih males atawa apa ya.. tapi serius, baca koran kalo pas butuh lowongan aja n setahun bisa diitung jari, hueuheheh……
    emang bener lebih enak ngeblog euy….. hihi so keep blog ya…maaf bli anton, komen-nya ndak bermutu ya 😀 hihhihi salaaamsss

    ReplyReply

    [Reply]

  • asn
    December 12, 2007

    So, what do you think?

    pertama, i think yg nulis ini mau ngiklanin Koran Tokoh di blognya mas anton hihi

    kedua, i am just wondering Koran Tokoh ini adeknya ato kakaknya balipost seh? kayanya lebih sewot dari yg tergugat?

    ok, that’s all i think 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

  • Ayip
    December 12, 2007

    Bunda Asyar, comment “ngga bermutu” (saya pake-in tanda petik) itu memang terkadang pas kok (/*)

    ReplyReply

    [Reply]

  • Komang
    December 12, 2007

    Jurnalisme advetorial, itulah yang dikembangkan keluarga besar Bali Post. Kegelisahan, kemarahan dan ketidaktentraman pembaca adalah ungkapan cinta kepada Bali Post. Tapi percayalah masyarakat kian pintar, Radar Bali bisa jadi kiblat baru, Koran Pak Oles sudah menciptakan segmen khusus informasi jamu, pertanian organik. Uang iklan Ramuan Pak Oles sudah tidak lagi diperas-peras Bali Post. Lama kelamaan, Bali Post akan digilas. Prinsip bisnis: bukan yang kecil mengalahkan yang besar, tapi yang cepat dan tepat mengalahkan yang lamban. Kalau Bali Post tidak berubah ya akan ditinggalkan pembaca. Gitu aja kog repot!!!

    ReplyReply

    [Reply]

  • jujuk suwandono
    December 12, 2007

    salam kenal aja deh mas… blog yang bagus dan menarik buat baca-baca

    ReplyReply

    [Reply]

  • Hendra W Saputro
    December 12, 2007

    Bli ASN, benar. Koran tokoh mau meningkatkan popularity nya, biar nongol bagus dengan kata kunci bali hehehe.
    Hidup jurnalisme warga. Lebih enak nge-blog. Bebas dan asal bertanggung jawab. Prediksiku, balebengong.net akan jadi koran rakyat online. Keren, Amin.

    ReplyReply

    [Reply]

  • sherly
    December 12, 2007

    serasa jadi mirip kayak politik deh dunia perberitaan… nothing is honest, really…

    ReplyReply

    [Reply]

  • goyangan
    December 12, 2007

    ada yang mau ngontrak blog saya ? 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

  • imcw
    December 12, 2007

    Tahu nggak mengapa saya paling kesal ama berita Seputar Bali-nya BaliTV? Isinya iklan mulu. Peresmian inilah, ulang tahun inilah, pertemuan itulah, seminar itulah dan lain lain.

    Dan teman saya yang di BaliTV mengatakan bahwa sang ‘Boss’ mengalalkan wartawan BaliTV menerima amplop pada setiap peliputannya. Dan amplop ini kudu disetor ama sang ‘Boss’ tadi. Beda dengan beberapa teve nasional yang jelas-jelas melarang wartawannya menerima amplop yang terpampang di running text.

    Sudah menjadi rahasia umum, kalo ingin pesta perkawinannya nongol di BaliTV cukup menyetor duit 400ribu. Dan nongolnya juga nggak tanggung-tanggung langsung di Seputar Bali. Padahal kalau seandainya dimasukan ke advertorial, penonton nggak akan permasalahkan.

    Saya ngomongin BaliTV karena masih satu group dengan Bali Post cs.

    ReplyReply

    [Reply]

  • imsuryawan
    December 13, 2007

    Coba perhatikan koran2 lokal dan juga tv lokal (ga nyebut merek hehehehe…) sekarang2 ini. Wajah2 para “tokoh” kita sedang giat2nya publikasi. Kunjungan ke desa A, kasi sumbangan ke warga, trus buntut2nya pernyataan bendesa adat bahwa mereka mendukung sang “tokoh” untuk jadi gubernur pada pilkada 2008. Itu bayar ga ya? Huehehehe… saya mau dong, biar ga jadi gubernur yang penting nongol di media! Kan bisa terkenal! Huehehehe…

    Temennya tomat? Cabeeee deeeehhhhhh!!!! 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

  • widi
    December 13, 2007

    Wadoh memang lebih enak ngeblog neh, udah gratisan, bisa nulis dengan bebas bisa ngasilin uang lage….bener banget bli dokter, jangan2 besok “pan mandi sapinya beranak bayar bali tv biar keluar di seputar bali”, Yah kesimpulannya ayo kita ngeblog dan nulis di balebengong aja bebas dari dunia periklanan.

    ReplyReply

    [Reply]

  • Shelling Ford
    December 13, 2007

    wajar bukan berarti sesuatu yang seharusnya dilakukan, kan?

    ReplyReply

    [Reply]

  • antonemus
    December 15, 2007

    @ bunda aysar: komentar (yg mengaku) tidak bermutu tetep diterima, bunda aysar. dan, gratis. tidak perlu bayar. :))

    @ asn: terima kasih sudah menjawab iklan itu, bli. :))

    @ ayip: bedanya tanda (*) di blog ini tidak perlu bayar.

    @ komang: jurnalisme advertorial? hmm, ini pasti aliran baru yg dikembangkan untuk menjawab kebutuhan uang. :p

    @ jujuk: makasih, pak. anda mampir pas suasana lg panas di blog ini. pengaruh global warming. 🙂

    @ hendra: ameeeeeennn.. 🙂

    @ sherly: begitulah. sedih banget kan? untung udah ada blog yg jd sumber informasi alternatif. dan, sekali lagi, tidak perlu bayar utk masuk.

    @ goyangan: utk bergoyang di sana?

    @ imcw: begitulah, pak dokter. jd kita bisa masukin launching BBC di sana. pak dokter yg bayarin ya?

    @ imsuryawan: masukin saja sbg blogger bali yg baik, bli. hehehe. atau boleh jg kalo jd gublogger bali. 😀

    @ widi: ayoooooo…

    ReplyReply

    [Reply]

  • brokencode
    December 15, 2007

    iya, blog saya juga siap review produk dan personal secara independen asal titip upeti 😆
    gak ada yang independen. it’s marketing worldwide.

    ReplyReply

    [Reply]

  • Andreas Harsono
    December 17, 2007

    Saya kira pelanggaran “fire wall” –tembok pembatas antara editorial content dan iklan– terjadi pada kebanyakan media Majapahit ini. Bali Post bukan pemegang monopoli.

    Di Jakarta, Anda perhatikan saja, setiap media yang bikin “advertorial” atau “advertisement editorial” praktis juga media yang melanggar fire wall. Salah satu pelopornya adalah majalah Tempo. Namun praktek ini juga terjadi pada Kelompok Kompas Gramedia.

    Kalau dua media besar itu saja nggak keruan, Anda bisa bayangkan bagaimana pula turunan-turunan mereka. Kelompok Jawa Pos, anak perusahaan Tempo, termasuk yang brutal memperjualbelikan berita.

    Penting sekali buat media untuk menghormati fire wall bagaimana pun pahitnya dan susahnya hidup mereka. Fire wall adalah lambang integritas media. Kalau fire wall tak dihormati, artinya integritas media kita juga rendah sekali. Ini bukan kesimpulan baru bila kita bandingkan integritas Majapahit ini dengan standar internasional.

    ReplyReply

    [Reply]

  • antonemus
    December 17, 2007

    @ brokencode: boleh dong review aku sesekali. hahaha. tp upetinya ucapan terima kasih saja.

    @ andreas harsono: terima kasih tambahannya, mas. ini diskusi berarti utk menggambarkan betapa media kita memang ancur banget utk urusan berita iklan tersebut.

    ReplyReply

    [Reply]

  • Wayan Gendeng
    December 20, 2007

    kita semua butuh duit. Duit toh juga dibagi buat orang lain. Ini namanya bagi-bagi rezeki. berbisnis kan gak dilarang agama kan?

    ReplyReply

    [Reply]

  • maswin
    March 11, 2009

    tolong …..or help, kalo ada nama I DEWA KOMANG TASTRA (PGSLP th’ 1977) diberitahukan lewat ponsel 081.2523.3937 area MALANG, thankx atas bantuannya…..bali-007

    ReplyReply

    [Reply]

  • eza
    February 15, 2010

    emang pada begitu sama kayak aku

    ReplyReply

    [Reply]

  • eza
    February 15, 2010

    gimana caranya kirim iklan gratis ya kirim ke email ku ya eza_komang@yahoo.com

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *