Agar Buku tak Jadi Masa Lalu

0 , , Permalink 0

baca buku

Pekan lalu aku cukur rambut.

Tidak penting banget kan? Memang bukan cukur rambutnya yang penting tapi soal kejadian ketika mengantre. ๐Ÿ™‚

Petang itu aku pulang kerja. Jadi, masih bawa tas. Sambil menunggu tiga pelanggan lain, aku berniat baca buku. Aku mencarinya di tas. Ada laptop dan buku catatan. Tapi, tak ada buku bacaan, sesuatu yang dulu selalu ada di tas.

Sambil duduk menunggu, aku kemudian mikir: kapan terakhir kali aku pergi sambil bawa buku di dalam tas? Aku lupa karena saking lamanya.

Dulu, buku-buku itu selalu ada dalam tas. Juga di tempat tidur. Ketika sedang antre, baca buku. Ketika menunggu, baca buku. Ketika melakukan perjalanan, baca buku.

Membaca buku itu sudah kebiasaan sejak kecil. Dulu sambil angon kambing atau sapi pun baca buku. Biasanya di bawah pohon bidara sambil rebahan. Ketika sapi atau kambing makan rumput, si tukang angon ini berkelana lewat buku-buku.

Kadang-kadang kemudian ketiduran. Campur antara ngantuk karena angin sepoi-sepoi juga karena mata capek baca.

Ketika sudah tidak angon kambing atau sapi, kebiasaan baca buku masih berlanjut. Biasanya terutama sambil rebahan menjelang tidur. Buku apa saja terutama novel, filsafat, kajian kebudayaan, jurnalisme, teknologi informasi, dan Bali.

Tapi, kebiasaan membaca dengan serius itu sudah berlalu. Membaca buku makin menjadi sesuatu yang mahal.

Tiga buku terakhir yang aku baca, semuanya tidak tuntas. Dari Penjara ke Penjara karya Tan Malaka hanya sampai kira-kira sepertiga bagian. Padahal mulai baca sejak November tahun lalu.

Buku Snowing in Bali karya Kathryn Bonella tidak aku baca hingga tuntas. Masih ada sisa 5 bab dari 21 bab di seluruh buku tentang peredaran gelap narkoba di Bali tersebut. Padahal, aku mulai baca sejak Februari lalu.

Terakhir, buku pinjaman dari Bunda, novel Bliss karya Kathryn Littlewood tentang kemampuan memadukan sihir dalam urusan masak memasak. Buku ini hanya aku baca beberapa halaman ketika kami dalam liburan Lebaran di Bengkalis.

Apa penyebab itu semua? Apalagi kalau bukan si benda mungil dan bikin kecanduan bernama ponsel dengan media sosial.

Ponsel yang terkoneksi dengan Internet menyajikan banyak hal yang semula tak bisa ditemukan pada sebuah buku: interaksi, multidimensi, dan tentu saja eksistensi. Lewat aplikasi media sosial kita bisa eksis di mana saja.

Semua waktu yang dulu aku pakai untuk membaca buku, kini habis untuk sibuk sama ponsel. Antre, buka ponsel. Nunggu, buka media sosial. Mau tidur, buka lagi. Begitu terus. Ada saja alasan untuk dibuka.

Seiring dengan itu, hilang pula kedalaman yang dulu aku temukan di buku. Ponsel dan media sosial memang menghadirkan kecepatan tapi secepat itu pula informasi hilang.

Malam itu setelah cukur, aku pun membeli buku. Dua. Angels and Demon karya Dan Brown dan Burung-burung Manyar karya YB Mangunwijaya. Sengaja sih beli yang ringan-ringan dulu, novel. Semacam buat pancingan. Biar kebiasaan membaca buku tak keburu sekadar masa lalu.

No Comments Yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *