Belajar Mengelola Organisasi dari Kerja Bakti

1 , Permalink 0

Lebih mudah mengurus sapi sepuluh kandang daripada manusia satu orang.

Pak Laurens, tetanggaku, mengutip omongan orangtuanya itu ketika kami sedang kerja bakti di banjar akhir pekan lalu. Omongan itu merujuk pada pekerjaan kami yang seolah tanpa koordinasi.

Hari itu, dari pukul 09.00 sampai pukul 16.00, kami gotong royong untuk membangun balai banjar. Karena kekurangan dana, warga sepakat untuk urun tenaga. Tiap tempekan, unit lebih kecil dari banjar, akan kerja bersama-sama dalam satu hari.

Maka, pada akhir pekan lalu itu, sekitar 25 warga tempekan kami pun kerja bakti. Bapak Kelian Banjar yang masih muda, tapi kelihatan memang pekerja keras, menjelaskan sebentar tentang pekerjaan yang harus dilakukan dan berapa lama waktunya.

“Kalau selesai lebih cepat, Bapak-bapak sekalian juga bisa lebih cepat pulang. Kemarin warga tempekan lain bisa pulang jam 2 karena sudah selesai,” kata Pak Kelian.

Setelah mendapat sedikit sambutan dari kelian banjar dan foto-foto, kami memulai. Ada yang mengaduk semen, pasir, dan air. Ada yang menyiapkan papan untuk ngecor. Ada yang menyiapkan besi, membentuknya agar bisa dipasang di lantai yang akan dicor.

Namun, ada pula yang kebingungan harus ngapain seperti aku. Kadang ikut meneruskan adukan bahan cor dalam ember ke tukang. Kadang ikut siapin besi. Kadang bengong harus ngapain lagi.

Sambil bengong itulah, aku jadi mikir. Ternyata kerja bakti ini sama saja dengan mengurus organisasi. Sama-sama tentang bagaimana mengelola sumber daya (manusia). Sebagai orang yang sedang belajar mengelola banyak kepala, aku jadi bisa belajar dari kerja bakti tersebut.

Tentang bagaimana sebaiknya mengelola sebuah tim, termasuk dalam urusan sebentar seperti kerja bakti, maupun organisasi yang sifatnya lebih panjang. Berikut beberapa hal yang bisa jadi refleksi bagiku pribadi.

Pertama, menentukan tujuan.

Kerja dalam tim perlu menentukan tujuan sejak awal. Kita mau ngapain saja, sih, selama kerja bersama itu. Misalnya, oh, dalam waktu lima jam, kita harus menyelesaikan lantai bagian atas. Tujuan ini harus disampaikan di awal ketika semua anggota tim sudah ada.

Begitu pula dalam organisasi. Kita harus tahu apa, sih, yang ingin kita capai dalam waktu tertentu. Bisa saja, misalnya, tujuan kita selama tiga tahun ke depan adalah terciptanya organisasi yang lebih profesional dan mandiri.

Untuk itu… Nah, ini sih masuk bagian kedua, perlunya menjelaskan tahapan. Setelah tahu tujuan bersama, penting menjelaskan tahapan-tahapan untuk mencapai tujuan tersebut.

Katakanlah, dalam kerja bakti itu, dijelaskan di awal bahwa biar lantai bagian atas selesai dalam lima jam kerja bakti, maka harus masang papan, menyiapkan tiang penyangga di bawah, mengisi dengan adukan bahan cor, atau apalah.

Ini penting karena tidak semua orang, terutama ya karena memang kami bukan tukang bangunan, yang pasti paham.

Dalam organisasi, ini bisa dijelaskan dalam bentuk rencana kerja. Misalnya, agar lebih mandiri dan profesional, maka kita harus membentuk tim kerja, menyiapkan sumber daya manusia, dan seterusnya.

Dari situ, kita kemudian melanjutkan ke tahap ketiga, membagi peran. Setiap orang pasti punya kapasitas masing-masing. Dalam kerja tim, penting sekali untuk mengetahui daya dan kapasitas setiap orang. Dalam contoh kerja bakti, ada yang ahli ngaduk semen, ada yang biasa jadi tukang, ada yang bisa mengantarkan adonan semen, ada juga yang cuma bisa foto-foto dan berkomentar kayak aku. Hehehe..

Apapun itu, semua harus mendapat peran yang jelas. Begitu pula dalam sebuah tim kerja atau organisasi. Akan lebih baik kalau tiap orang punya tugas dan peran spesifik.

Salah satu pelajaran yang selalu aku ingat itu saat belajar organisasi di Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM) pas SMP dan SMA dulu. Organisasi ibarat sebuah rumah. Manusia adalah bahan-bahan bangunannya. Ada yang serupa pasir, semen, air, bata, kayu, pintu, jendela, dan seterusnya. Tiap orang memiliki peran penting, meskipun peran itu terlihat kecil.

Setelah jelas peran masing-masing, tahap keempat adalah menentukan cara komunikasi dan koordinasi dalam tim. Orang yang berperan sebagai tukang utama cukup fokus pada apa yang dia kerjakan: menata tiap bahan, seperti bata dan adukan bahan bangunan lain, agar tepat dan kuat. Lalu, pengantar adukan semen dan pasir serius meneruskan bahan dari tukang aduk sampai tukang pasang.

Begitu pula dengan pemasang tiang, penyiap besi, dan tukang masak yang menyiapkan makan siang. Satu sama lain harus berkoordinasi dengan cara yang sudah disepakati. Misalnya, berteriak tiap kali adukan semen pasir sudah cukup, mengingatkan tukang masak 30 menit menjelang makan siang, dan seterusnya.

Dalam organisasi, ini bisa berupa jalur-jalur komunikasi. Katakanlah e-mail personal, grup pesan ringkas, atau rapat rutin. Ketika berkomunikasi dan berkoordinasi inilah kita bisa melakukan tahap kelima, mengawasi dan mengevaluasi.

Secara rutin, kita perlu cek dan ricek sejauh mana perkembangan kerja tiap orang sebagai bagian dari upaya mencapai tujuan. Dalam organisasi, ini bisa kita lakukan saat rapat. Kita saling memeriksa, apakah si A sudah menyelesaikan semua pekerjaannya atau tidak. Jika sudah, apakah sesuai rencana dan harapan. Jika belum, apa penyebab dan solusinya.

Agar pengawasan dan evaluasi ini berjalan dengan baik, dari pengalaman pribadi, perlu ada keterbukaan dan kejujuran satu sama lain. Jika memang anggota tim tidak mampu menyelesaikan tugasnya sesuai jadwal, dia harus terbuka. Bukan malah lari dan memutus semua saluran komunikasi.

Begitu pula dengan pimpinannya. Harus terbuka terhadap kritik dan masukan dari anggota tim. Lebih penting lagi, harus bisa mengubah gaya dan metode kepemimpinannya jika ada hal-hal yang memang harus diperbaiki berdasarkan evaluasi dan refleksi tersebut.

Nah, inilah kemudian pembelajaran yang kembali padaku sendiri, diri yang sedang belajar mengelola banyak manusia dengan ragam dan uniknya masing-masing. Pertanyaannya kemudian, bisakah menerapkan refleksi ini?

Ini yang repot. Sebab, seperti dikatakan Pak Laurens, mengelola manusia itu susahnya bukan main. Manusia bukan sapi, yang bisa dicokok hidungnya lalu bebas menuruti kemauan pemiliknya. Tiap orang punya karakter masing-masing. Lengkap dengan segala potensi dan tantangannya sendiri-sendiri.

1 Comment
  • PanDe Baik
    February 16, 2022

    Banyak kepala manusia, banyak pendapat, banyak pemikiran.
    Sementara kalo banyak kepala sapi, kok sepertinya makin enak dijadikan soto…

Leave a Reply

Your email address will not be published.