Kebiasaan memang berubah seiring waktu. Begitu juga aku.
Ini pada zaman masih aktif di Pers Mahasiswa (Persma) Akademika Universitas Udayana Bali. Kalau berkunjung ke satu kota, maka aku mampir ke Persma di kota itu. Misalnya ke Jogja, maka wajib hukumnya mampir di Balairung dan Bulaksumur, dua media milik mahasiswa Universitas Gajah Mada (UGM) Jogja. Atau nebeng tidur di sekretariat Himmah, majalah mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) Jogja.
Ke Lombok mampir Media, nama majalah teman-teman Universitas Mataram. Ke Malang mampir Indikator, milik mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya Malang. Dan seterusnya..
Ketika lagi senang-senangnya jadi anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) kebiasaan ini berganti. Kalau ke satu kota, maka aku mampir ke sekretariat AJI setempat. Misal ke Makassar mampir AJI Makassar, waktu itu di Jalan Beruang. Ke Surabaya, tentu saja nyambangi Cak Iman, mbaurekso AJI Surabaya pada zaman itu.
Kini kebiasaan berganti. Kalau ke satu kota, wajib hukumnya ketemu blogger setempat, terutama yang sudah kenal meski hanya di dunia maya.
Ke Bandung harus ketemuan sama Eka dan April, dua teman di Bali Blogger Community (BBC). Sayangnya sih tidak ketemuan sama teman-teman Batagor atau Bandung Blogger Village (BBV). Soale belum kenal satu pun dengan mereka. Hehe..
Ke Makassar harus kulo nuwun sama Ina, blogger Makassar yang aku kenal. Lalu, eh, ternyata dijamu dengan meriah oleh teman-teman AngingMammiri, komunitas blogger Makassar.
Maka, ketika aku ke Jogja pekan lalu, aku pun kontak teman BBC di Jogja (Dani, Andi, dan Joe). Buat ketemu dan sekadar kenal. Karena meski sudah kenal di dunia maya, kami belum pernah ketemu sama sekali. Tapi cuma Dani yang bisa ketemuan. Andi sudah di Aussie lagi untuk mengejar PhD. Joe sibuk nglembur melototin foto Zaskia Mecca merokok. π
Asiknya, ternyata Bli Dani yang lagi cari S2 di UGM itu ngajak ketemuan juga dengan teman-teman Cah Andong, komunitas blogger Jogja. Waladalah. Tentu saja aku senang bukan kepalang. Soale jadi bisa belajar sama jelata-jelata Kasultanan Ngayogyokarto ini.
Senin [23/6] malam, pada hari pertama di Jogja, kami pun bertemu. Tempatnya di Malioboro Mall, pindah dari rencana semula di kawasan Festival Kesenian Yogyakarta. Kami ngobrol sambil nyeruput kopi dan makan donat J Co yang mahal buanget. Saking mahalnya, aku cukuplah melihat-lihat sales promotion girl di mall ini saja. π
Hasil lengkap kopdarnya ada pula di blognya dr Dani. Termasuk soal daptar hadirnya. Aku nambahin soal gayengnya Cah Andong saja.
Ciri khas Cah Andong, seperti stereotip wong Jogja pada umumnya memang gayanya yang suka guyon nanging serius. Pokoke masalah opo ae dibahas karo ngguyu ngakak.
Anggota Cah Andong tidak sebanyak anggota BBC, sebenarnya. Mungkin karena sistem keanggotaannya tertutup. Milis, misalnya harus diinpait, bukan terbuka. Tapi kegiatan mereka bejibun. Salah satunya ketemuan rutin tiap Jumat malem, disingkat Juminten. Dari Juminten ini lahir banyak ide kegiatan.
Ada benarnya sih. Makin sering ketemu offline, ide untuk bikin kegiatan akan makin banyak. Ini tidak hanya untuk blogger. Di masalah lain pun begitu. Kalau sudah ketemu dan ngobrol tuh bawaannya ada saja ide untuk bikin kegiatan. Soal jadi tidaknya itu hal lain. Yang penting kan ada ide. Hehe..
Seringngya ketemu ini, bisa jadi karena di Jogja memang banyak tempat nongkrong murah plus fasilitas free wifi. Kalau di Denpasar masih susah. Apalagi yang buka sampai malam-malam.
Hal asik lain bagiku adalah soal kesediaan dan kerelaan Cah Andong untuk mendukung program kotanya, Ngayogyokarto.
Ini contohnya. Pas aku di Jogja sedang ada kegiatan FKY. Ini mirip Pesta Kesenian Bali (PKB) tapi lebih kontemporer. Ternyata anak-anak Cah Andong dengan senang hati pada nulis FKY ini di blognya. βTanggung jawab moral untuk mendukung FKY kali ya,β kata Anto, teman di Cah Andong.
Aku lalu mikir. Iya ya. Kenapa kok justru BBC bisa belum mikir ke arah sana. Pasti asik kalau BBC punya agenda semacam itu. Jadi kalau ada kegiatan yang bersifat promosi tentang Bali, BBC juga ikut serta sesuai proporsinya: menulis di blog.
Soalnya di Bali kan buanyak banget kegiatan semacam itu. PKB, Festival Layang-layang, Perang Pandan, Sanur Village Festival, Kuta Karnival, dan seabrek kegiatan lain.
Tidak usah nunggu diundang sama panitia. Menulis sebagai penonton pun boleh saja. Ya, tentu saja tidak melulu yang promosi. Bisa juga mengkritik kegiatan promosi itu sendiri. Intinya sesuatu yang membangunlah. Mungkin sekarang saatnya memulai.
*Lalu bingung mesti di mana cek agenda kegiatan budaya yang lengkap di Bali. Hihihi..
Leave a Reply