Bondres, tetanggaku di gang, berseru lantang pada William, teman mainnya. “Antem cang ngeling Ci,” teriak Bondres sambil mengepalkan tangan ke arah William. Sore sekitar seminggu lalu dua anak tetangga yang umurnya sekitar tujuh tahun itu sedang main layangan.
William mengambil layangan Bondres lalu membawanya lari. Hanya untuk bercanda. Begitu juga ancaman Bondres ke William dalam bahasa Bali kasar tersebut. Keduanya hanya bercanda.
Teriakan Bondres ke William itu mengingatkanku lagi soal struktur bahasa Bali yang mungkin terdengar aneh di telinga rasa Bahasa Indonesia. “Antem Cang Ngeling Ci” adalah bahasa Bali kasar. Kalau diterjemahkan per kata maka artinya “Pukul Aku Nangis Kamu.” Tentu saja kalima itu sangat aneh terdengar kalau diterjemahkan menurut struktur kalimat bahasa Indonesia.
Padahal, maksud Bondres dengan kalimat itu kurang lebih adalah, “Awas ya. Aku pukul kamu. Pasti kamu nangis..”
Seorang teman yang rajin mengkaji Bahasa Bali memang pernah berpendapat. “Struktur bahasa Bali itu aneh,” katanya. Tentu saja temanku itu menggunakan struktur bahasa Indonesia sebagai perbandingan. Dalam bahasa Indonesia, struktur kalimat yang normal terdiri dari Subjek, Predikat, Objek, Keterangan. Misalnya, “Aku pukul kamu sampai nangis.” Maka subjeknya adalah Aku, predikatnya adalah Pukul, objeknya adalah Kamu, dan keterangannya adalah sampai Nangis.
Tapi struktur bahasa Bali berbeda. Dalam bahasa Bali, orang akan meletakkan Predikat dulu baru Subjek. Misalnya Seduk Basang yang berarti Perut Lapar. Seduk berarti Lapar, Basang berarti Perut. Ini sih bahasa Bali sehari-hari yang aku mengerti, bukan bahasa Bali resmi dalam lontar dan semacamnya.
Selain struktur kalimat, ada pula beberapa hal “aneh” dalam bahasa Bali dibandingkan dengan bahasa Indonesia. Misalnya Ben Jep –ini sih bahasa orang Denpasar yang adalah singkatan dari Buin Kejep– berarti Lagi Sebentar. Kalau dalam bahasa Indonesia kan Sebentar Lagi, bukan Lagi Sebentar.
Tapi dalam percakapan sehari-hari di Bali pun, bahasa Indonesianya masih menggunakan cita rasa bahasa Bali. Misalnya ya itu tadi, Lagi Sebentar, Lagi Tiga, dan seterusnya.
Memahami rasa bahasa Bali dalam kalimat bahasa Indonesia ini penting untuk belajar bahasa Bali otodidak seperti aku. Juga penting agar tidak salah paham ketika ngobrol. Sebab, sebagai non-native speaker bahasa Bali, aku pun kadang susah memahami struktur bahasa Bali itu.
Pengalaman yang masih saja aku ingat adalah ketika baru seminggu tinggal di Denpasar, sekitar Juni 1997. Samar-samar aku ingat ceritanya begini. Waktu itu aku berbelanja di Pasar Sanglah Denpasar. Ketika tanya berapa harga sandal jepit, aku mendapat jawaban yang bikin aku bengong. “Seribu tiga,” kata ibu penjual sandal itu.
“Seribu kok bisa dapat tiga? Maksudnya kira-kira tiga sandal (kok aneh banget ya?) atau tiga pasang (kok murah banget ya?),” pikirku. Sebab di Pasar Blimbing, tidak jauh dari kampungku di Lamongan, memang sering ada obral barang seribu tiga begini.
Baru kemudian aku tahu, ternyata dalam bahasa Indonesia ala Bali, seribu tiga itu berarti Rp 1.300 alias seribu tiga ratus. Oalah, kirain seribu dapat tiga..

Leave a Reply