Yes, Weed (I) Can’t

5 , , , , Permalink 0

Setelah mondar-mandir melihat beberapa bangunan menarik di Hilversum, menikmati pasar murah, sampai memotret tanda dilarang blow job di toilet umum, aku dan salah satu teman akhirnya mampir di coffee shop. Di dalamnya, para penghisap ganja guyub berbicara dalam Bahasa Arab diiringi irama musik Timur Tengah. What?

Pengajian kok sambil ngisep ganja?” aku tertawa sendiri di pikiranku.

Coffee shop jadi tempat terakhir yang kami singgahi Sabtu lalu di Hilversum. Hari itu aku dan empat teman lain hanya jalan-jalan ke kota ini. Sebagian teman lain ada yang ke Lieden, Den Hag, juga Keikenhof. Hilversum berjarak sekitar 5 km dari Bussum Zuid, tempat kami tinggal selama di Belanda. Jadi dekat sekali.

Di kota ini, kami jalan-jalan ke beberapa tempat. Salah satu landmark kota ini adalah Town Hall yang didesain oleh arsitek kebanggan Hilversum, Willem Dudok. Sisa perjalanan lainnya biasa saja. Mall -meski tak seriuh dan semegah di Indonesia, komidi putar, taman kota, juga pasar murah.

Capek puter-puter, aku dan seorang teman, Iman, memutuskan masuk ke coffee shop. Kafe ini tempat di mana ganja legal diperjualbelikan dan, tentu saja, dihisap..

Belanda memang termasuk negara yang melegalkan ganja meski terbatas. Di negara kumpeni ini, orang boleh mengisap ganja meski hanya di tempat tertentu. Salah satunya ya coffee shop. Tak heran jika kafe jenis ini tersebar di hampir semua kota.

Di Amsterdam, coffee shop ini berdampingan dengan toko peralatan seks ataupun restoran lainnya. Kaos bertuliskan Yes Weed Can, plesetan slogan Barack Obama Yes We Can sangat mudah ditemukan. Weed adalah bahasa slang dari ganja.

Di Hilversum, coffee shop ini juga sangat mudah ditemukan. Begitu juga ketika kami jalan-jalan sore itu.

Kami masuk Rif Coffee Shop. Salah satu yang menarik dari kafe ini adalah karena ornamen-ornamen Timur Tengah di pintu depannya. Dengan warna merah menyala, kafe ini juga lebih menarik mata dibanding kafe lain berwarna kuning di depannya. Sori. Ini bukan soal partai di Indonesia. Hehe..

Benar saja. Suasana Timur Tengah sangat terasa ketika masuk kafe ini. Irama musik padang pasir terdengar nyaring. Di rak minuman yang memajang aneka minuman beralkohol itu ada tulisan dalam huruf Arab. Di bawahnya ada tulisan dalam Bahasa Inggris. Only for Adults.

Pemilik bar tak bisa Bahasa Inggris. “No English. No English,” katanya lalu tertawa. Dia tanya pada kami. “Indonesi. Indonesi,” jawabku. Indonesi (tanpa a) memang lebih mudah dikenal mereka daripada Indonesia.

Dia kemudian bilang, “Maroko.” Maksudnya, dia keturunan Maroko.

Harga ganja di kafe ini beragam tergantung jenisnya. Paling murah 10 euro per gramnya. Aku tidak tahu jenis apa ini. Dua gram, 12,5 euro. 2,5 gram 15 euro. Artinya makin banyak kita beli harga per gramnya akan makin murah.

Iman membeli 1 gram ganja yang dibungkus plastik transparan. Kami masuk ruangan lain, tempat untuk merokok. Meski di kafe, pengunjung memang tak boleh merokok sembarangan. Mereka hanya boleh merokok di ruangan yang diperbolehkan.

Ruang merokok ini luasnya sekitar 4×4 meter persegi. Ada empat meja dengan empat kursi di tiap meja. Ruangan jadi terasa sangat sesak. Apalagi orang-orang di ruangan ukurannya XXL semua. 🙂

Hal yang lagi-lagi mengejutkanku adalah karena semua pengunjung di ruangan itu ternyata berbicara dalam Bahasa Arab. Aku pernah belajar bahasa ini dari zaman Madrasah Ibtida’iyah alias SD sampai SMA. Jadi ya masih tahu sedikit-sedikitlah soal Bahasa Arab. 🙂

Tak semua orang di dalamnya mengisap ganja. Aku lihat hanya sekitar empat orang dari tujuh orang di sana. Aku sebenarnya pengen ngobrol juga dengan mereka. Cuma batal karena mereka terlihat sangat serius ngobrol dan aku tak mungkin menyela. Juga, karena takutnya mereka juga tak bisa Bahasa Inggris. Masak pakai Bahasa Tarzan. :p

Selain itu, kami juga tak bisa ngobrol dengan mereka karena terlalu sibuk melinting ganja. Aku berniat untuk megisapnya. Cuma untuk itu aku harus melinting sendiri ganja yang disajikan dalam bentuk biji dan batang tersebut. Pemilik kafe hanya menyediakan kertas putih tipis untuk bungkus dan kertas lain yang lebih tebal sebagai filternya.

Dan, itu ternyata bukan pekerjaan mudah. Semula aku berpikir aku hanya tak bisa mengisap ganja itu karena belum pernah melakukannya sama sekali. Aku berpikir sama halnya dengan orang yang tumben ngrokok atau minum bir. Pasti tidak enak kalau pertama kali melakukan. Lah, ini ternyata malah untuk melintingnya pun aku tak bisa. Payah!

Tapi, Iman pun demikian. Sampai sekitar setengah jam dan menghabiskan lima kertas, dia baru bisa melintingnya. Itu pun sangat telrihat tidak profesional. Toh, dia cuek bebek. Yang penting rasanya, bukan lintingannya.

Satu. Dua. Tiga. Sampai sekitar sepuluh kali isap, selinting ganja itu hampir habis. Iman terlihat pusing. Dia sendiri mengakuinya. Sisa ganja di plastik transparan itu masih banyak. Mungkin tak lebih dari seperempat yang dia hisap.

Kami ngobrol. Apakah sisa itu mau dibawa ke hotel atau dihabiskan. Kalau dibawa ke hotel, takut ditangkap polisi. Kalau dihabiskan sudah tidak kuat. Kalau ditinggal, sayang. Mahal, je.

Tapi ya bagaimana lagi. Daripada ditangkap polisi, ya mending kami rugi. Toh, yang penting kami sudah mencobanya meski aku sendiri gagal melinting, apalagi mengisapnya. [!]

5 Comments
  • agung eka dani
    May 5, 2010

    Syukron..syukron..sampean ga sido menghisap,hehehe..

    ReplyReply

    [Reply]

  • Tumik
    May 8, 2010

    haha, wong ndeso wong ndeso…

    ReplyReply

    [Reply]

  • jumialely
    May 8, 2010

    hehehhehe, no english emang di eropa ya mas 🙂

    tak perlu mahir melinting

    salam kenal

    ReplyReply

    [Reply]

  • natstan23
    May 13, 2010

    hehehe..
    baguslah,,, kadang ketidakbisaan itu baik ya,…

    *kunjungan di siang hari,,, kunjung balik y….

    ReplyReply

    [Reply]

  • Chris Budhi
    May 13, 2010

    Nanti sampai di rumah belajar melinting om… 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *