XL dan Kesetiaan yang Tak Masuk Akal

3 , Permalink 0

Godaan datang menjelang jam makan siang hari ini.

Lewat akun Twitternya, penyedia jasa layanan telekomunikasi seluler itu menawarkan hadiah menarik: Acer One 10, Lenovo P70, dan Xiaomi Yi. Sebagai manusia biasa, aku pun tergoda.

Aku buka linimasa XL. Mencari informasi lebih lanjut tentang untuk apa hadiah-hadiah itu ditawarkan.

Oh, ternyata XL sedang mengadakan lomba blog dengan tema Life with XL dalam rangka ulang tahun ke-19. Hadiahnya tiga gawai (gadget) berbeda yang aku belum pernah lihat fisiknya itu.

Aku lanjutkan lagi mencari seperti apa spesifikasi tiga hadiah tersebut. Secara visual, mereka menarik juga. Jelas menggoda. Apalagi untuk aku yang belum memiliki ketiganya.

Maka, aku niatkan untuk membuat tulisan ini. Ingin ikut menulis lomba blog menceritakan pengalaman bersama XL. Siapa tahu bisa menang dan dapat hadiah salah satu dari tiga gawai itu.

Namun, setelah mikir-mikir, aku batalkan niat itu. Aku tak pernah bernasib baik kalau ikut lomba blog. Biar nanti gak telanjur berharap menang tapi cuma gigit jari sebagai pecundang.

Yowis. Aku ganti saja tujuan utamaku menulis pengalaman ini. Anggap saja sebagai ungkapan terima kasih pada XL. Sekalian sebagai kado ulang tahun ke-19. Urusan lomba blog itu nomor sekian.

Ungkapan terima kasih itu bukan basa-basi. Memang demikianlah adanya antara aku dan XL. Ada semacam hubungan tidak rasional antara aku dan XL, betapapun orang akan sinis terhadap pengakuan ini.

XL adalah kartu telepon seluler (ponsel) pertama yang aku beli 15 tahun silam.

Saat itu, kartu perdana ponsel, seperti halnya ponsel itu sendiri, masih menjadi barang mewah. Harganya Rp 500 ribu. Mahal. Apalagi untuk anak kos dan mahasiswa yang memang kere sepertiku saat itu.

Namun, kartu perdana seharga setengah juta itu masih tergolong murah pada waktu itu. Kartu perdana operator lain dengan merek lebih populer, jaringan lebih luas, dan tentu saja citra lebih bergengsi harganya sampai Rp 1 juta.

Harga Rp 1 juta itu amat mahal bagiku saat itu. Sesuatu yang tak terbeli.

Maka, aku membeli kartu perdana XL waktu itu semata karena ketidakmampuan membeli kartu lain yang lebih mahal dan bergengsi. Kami disatukan oleh semacam ikatan sebagai sesama pecundang.

Namun, orang Jawa benar. Witing trisno jalaran soko kulino. Makin hari aku memakai XL, makin besar rasa memiliki itu.

XL mengiringi perjalananku bekerja selama 15 tahun lebih menjadi jurnalis. Menelpon narasumber, menerima penugasan, dan kemudian sekarang jadi penghubung utama dengan dunia maya.

Aku menggunakannya sejak zaman pesan singkat (SMS) ngetren hingga zaman di mana SMS digantikan beragam layanan seperti media sosial dan pesan ringkas (instant messenger).

Kami melewati masa-masa pahit bersama dan kemudian tumbuh lebih baik bersama pula. XL kini tak lagi menjadi merek pecundang. Dia menjadi salah satu yang terdepan. Inilah pula alasan kenapa aku masih menggunakannya hingga saat ini. Termasuk untuk kegiatan-kegiatan lain, seperti ngeblog, ngedit, update media sosial, atau bahkan pelatihan-pelatihan Internet.

Saat ini, dengan senang hati aku membagi koneksi XL itu lewat fasilitas tethering ketika mengadakan pelatihan-pelatihan Internet.

Ketika begitu banyak orang berganti-ganti nomor telepon, aku masih setia dan menggunakan nomor yang sama. Sepuluh digit nomor yang kini malah membuatku bangga tiap kali ada yang bertanya, “Wah, sepuluh digit ya?”

Sepuluh digit nomor itu menjadi semacam bukti kesetiaan tak tergantikan pada XL. Kesetiaan yang kadang-kadang tidak masuk akal.

Tak masuk akal karena hubungan dengan XL pun kadang diwarnai sebal dan benci.

Contohnya ketika aku ke daerah terpencil di mana koneksi XL masih kacrut atau bahkan tidak ada. Misalnya di Sumba atau Flores, Nusa Tenggara Timur. Tiap kali ke sana, aku harus berganti dengan kartu lain. Saat itulah rasa benci dan sebal pada XL akan datang.

Tapi, setelah itu ya kembali lagi, betapapun aku pernah membencinya. Mirip-miriplah dengan perasaan kepada mantan pacar.

Lima belas tahun sejak membeli XL perdana pertama kali, aku masih setia dan bangga menggunakannya. Bahkan ketika begitu banyak operator lain yang terus menggoda.

3 Comments
  • lodegen
    October 8, 2015

    kalau gitu, aku aja yg daftarkan postingan ini untuk lomba ya? piye sih syaratnya… sebagai pengguna simpati aku bersimpati padamu, mas 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

    clara Reply:

    salam kenal dari pengguna setia Indosat 😀

    ReplyReply

    [Reply]

  • PanDe Baik
    October 22, 2015

    Awalnya Telkomsel, trus pindah ke XL, pindah ke Axis, eh diakuisisi oleh XL akhirnya. Jadilah saya menggunakannya sebagai Nomor Utama, meski dulunya hanya diharapkan sebagai nomor Internetan doang.
    Jangankan diluar Bali mas, di Abiansemal dan Petang, XL selalu blank. itu sebabnya saya butuh koneksi data cadangan untuk membackup kerjaan. Maka dipilihlah Tri… eh, kok kemarin dapat hibah Smartfren.
    Maka kini lagi pake 3 nomor dari 3 operator dengan 3 ponsel.
    Tapi ini lagi ngomongin XL kan ya ? :p

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *