What’s Wrong to be Lamonganensis?

20 , , Permalink 0
Isinya bom ya. Tetangganya Amrozi ya?” tanya petugas itu padaku ketika dia membaca alamat tujuan kirimanku adalah ke Lamongan, Jawa Timur.

“Ya, gak jauh-jauh amatlah dari situ,” jawabku santai.

Setelah membayar Rp 21 ribu untuk biaya kiriman buat ponakan-ponakanku itu, aku lalu bertanya padanya. “Berapa hari sampe, Pak?”

“Biasanya dua atau tiga hari bomnya baru meledak,” ujarnya. Aku diam saja. Sesaat kemudian dia melanjutkan perkataan. “Bercanda, mas. Santai saja..”

Ya, aku tahu petugas pos di jalan Teuku UmarDenpasar  itu becanda. Cuma kok bagiku gak lucu ya.

Dia merujuk pada pengeboman di Bali pada Oktober 2002 yang dilakukan Amrozi CS. Tiga kakak beradik pelaku utama pengboman tersebut, Amrozi, Ali Ghufron, dan Ali Imron memang dari Tenggulun, Lamongan. Rumah mereka berjarak sekitar 20 km dari kampung kelahiranku di Lamongan.

Sudah sering banget aku mengalami hal semacam itu, disama-samain dengan Amrozi hanya karena asalku dari Lamongan. Begitu aku sebut Lamongan, maka orang yang mendengarnya akan langsung menimpali dengan dua hal itu: Amrozi dan bom.

Awalnya biasa saja. Tapi lama-lama kok gak nyaman juga ya terus diposisikan begitu.

Maka, please deh ah. Jangan hanya kelakuan tiga orang lalu semua orang Lamongan jadi korban. Masih banyak hal yang bisa disematkan pada Lamongan selain Amrozi dan bom. Misalnya, pecel lele! 😀

20 Comments
  • wira
    August 4, 2009

    Saya ngerti perasaan orang Lamongan dan yg ada kaitannya dengan Lamongan, di cap buruk hanya karena ulah teroris tolol itu… Sebaiknya hal seperti ini tidak terlalu sering dijadikan bahan lelucon.

    Tapi, bukan bermaksud membela siapa2, terus terang saya sendiri dulu takut Lamongan akan ‘diperlakukan’ jauh lebih buruk dari sekarang oleh orang di Bali, tapi syukurlah orang Bali tidak sebodoh itu untuk menilai suatu orang, buktinya pecel lele masih menjadi menu makan malam favorit, hehehehe…

    ReplyReply

    [Reply]

  • pushandaka
    August 4, 2009

    Bikin surat terbuka saja Ton, seperti Islamic apa tuh? Yang menyatakan bahwa Amrozi cs., bukanlah orang Lamongan. Hehe!

    Becanda Ton..

    Seriusnya, yah..aku ndak bisa bilang apa2. Memang susah banget menghadapi yang seperti itu. Mau dianggap santai, tapi kok nyakitin juga. Mau marah, kok kayanya ndak penting2 amat. Ya ndak Ton?

    Jadi, sabar sajalah..

    ReplyReply

    [Reply]

  • PanDe Baik
    August 4, 2009

    itulah hebatnya opini publik.
    Barangkali sama halnya ketika orang menyebutkan nama Soeharto. Pasti langsung ingat orde baru dan korupsi. Padahal yang nyandang nama Soeharto itu banyak. Hehehe…

    ReplyReply

    [Reply]

  • anima
    August 4, 2009

    Honestly aku malah ga begitu ngeh Amrozi dari Lamongan. but hey, kl ada yg bikin perasaan km ga enak kenapa ga ngomong ke dianya Ton?

    Dengan itu dia ngerti dan (mungkin) ga mengulangi lagi ke kamu atau mungkin orang Lamongan yang ditemui dia lain kali.

    ReplyReply

    [Reply]

  • Cahya
    August 5, 2009

    Masyarakat kita beragam, ada yang seperti itu karena stigma publik ya tidak bisa disalahkan. Namun bisa membuat kita belajar menjadi sedikit lebih bijaksana menyikapinya.

    ReplyReply

    [Reply]

  • asn
    August 5, 2009

    mirip dgn pengalaman seorang teman lulusan ITENAS ketika job interview yg mana pertanyaan2 yg terlontar malah seputar video porno ITENAS melulu dan bukannya soal kerjaan 😀

    ReplyReply

    [Reply]

  • domba garut
    August 5, 2009

    Bli, making stereotyping is human nature although not very may can hold it within his mind withough speaking it outloud judgementally…

    There are so many variable analysis to the Jakarta Explosion. Every opinion expressed seem reasonable enough to be a useful ground for investigation. I ‘m looking at it in a different way. It is a symbol.

    A symbol of failure. Failure to educate citizens. Educate to create great minds. Great minds to judge what principles to follow. Principles that believes in the beauty of life not the beauty of terror. LETS EDUCATE!

    ReplyReply

    [Reply]

  • erickningrat
    August 6, 2009

    apa khabar bli anton? 😉

    hmm cerita diatas mengingatkan saya waktu di bali waktu itu saya pergi menjenguk my grand fa… kebetulan3 hari setelah bom bali 2… secara saya visitor dari luar bali saya waktu itu kebetulan bawa tas gendong hitam isinya cuma baju n buku2 bacaan… hampir dua jam di hospital… saya di intai ma bp2 satpam dikira saia bawa bom terus di tanyain yang macam2… untung aja ada keluarga saya yang kenal ma Bp2 itu heheheheh…..

    publik bali trauma dengan BOM yang sudah mengguncang bali… dan itu akan sangat sulit di hilangkan… tapi sukur orang bali ga segampang itu terprovokasi apalagi bertindak rasis atau juga fasis….. walopon ada tapi cuma oknum aja,, 0,001 % heheheh

    orang indonesia itu sebernya baik, buktinya mampu menerima beraneka ragam suku dan budaya dalam satu kesatuan yang kompak ! pancasila sebagai buktinya !

    bersatu kita teguh bercerai kita runtuh !

    that’s point !

    ReplyReply

    [Reply]

    PanDe Baik Reply:

    Saya malah dah dua kali kjadian yang kaya’ gini… tinggi, kacamata, pake jaket item dan gendong tas ransel, lumayan sukses diinteroigasi oleh security. He…

    ReplyReply

    [Reply]

  • sugeng
    August 7, 2009

    Kalo bercanda dengan orang yang sudah kita kenal sih gak masalah, karena sudah tahu watak dan tabiatnya. Tapi klo dengan orang yang tidak kenal terus mengucapkan seperti itu, itu namanya rasis dan sangat diskriminatif. Perasaan itu sering juga saya alami. Kebetulan di dahi saya juga ada bekas hitam. Jangankan ngirim paket ke Lamongan, ada ambulance / mobil pemadam yang liwat sambil bunyikan sirene namaku pasti di panggil2. Betul2 gendheng !!!

    ReplyReply

    [Reply]

  • Didi
    August 10, 2009

    Sama lah bli, dimana2 juga begitu. Aku juga, ketika bilang dr Bangli, yg jadi bahan candaan ya RSJ, orang gila, nak buduh. Tp, ya itu opini publik, anggap aja itu sebagai cara utk mengakrabkan diri.
    Jgn terlalu ditanggapi serius…

    ReplyReply

    [Reply]

  • Fauluq Ulum
    August 11, 2009

    Apa yang salah dengan masyarakat Lamongan, jelas ada, tidak bisa ditolelir, tapi masih dapat diperbaiki.
    Nyata-nyata Lamongan memberikan ruang gerak sangat bebas untuk bertumbuhnya kelompok-kelompok penganut kekerasan, atau bahasa vulgarnya: terorisme. Amrozi, Muklas dan Ali Imron adalah produk nyatanya. Keberadaan mereka, serta para pendukungnya membuktikan bahwa selama ini kita diam, acuh, dan merestui. Lebih memperihatinkan adalah gerak-bebas orang-orang yang mengklaim diri membela agama Allah, merasa mendapat hot line message dari Allah untuk memberantas kemaksiatan di muka bumi. Hebat, yang bahkan Polisi pun harus memiliki surat tugas resmi untuk melakukan penggerebekan.
    Mereka pulalah yang siap perang “jihad” jika Amrozi dieksekusi. Lalu meneriak-neriakkan takbir menyambut jenazah Amrozi dan Muklas yang dianggap syahid, karena didhalimi oleh Thagut. Tidakkah mereka berempati untuk ratusan korban meninggal dan luka-luka saat bom meledak? Apa sikap mereka akan sama jika yang menjadi korban adalah sanak keluarga sendiri? Renungkan, Kawan!
    Beranikah kita mengatakan mereka bukan Muslim? Apakah MUI hanya berani memfatwa sesat Ahmadiyah hanya untuk mengambil-alih asetnya? Kenapa kita tidak keberatan penasehat hukum mereka berlabel TIM PENGACARA MUSLIM? Memangnya kelakuan mereka mewakili Islam?
    Kadang saya berpikir menjual kendaraan saya untuk membeli bahan peledak lalu membumi hanguskan Stadion Surajaya saat Persela lawan Persipura. Toch akhirnya saya akan segera ditangkap, dieksekusi, lalu mayat saya dikirim ke Paciran, dan disambut sebagai pahlawan syahid? Masya Allah.
    Di sisi yang lain adalah masyarakat Bali, tertutup dan menutup diri, tidak siap akan nasib buruk, menyangka dengan rajin sembahyang dan minta perlindungan Allah semuanya akan baik-baik saja.
    Masyarakat Bali cenderung enggan mengapresikan sikap, menghindar jika dikritik dan menutup diri jika ada masalah, sehingga angka bunuh diri di Bali luar biasa tinggi akibat tingginya tingkat kejenuhan dan depresi. Dua kali ledakan bom dan pincangnya pariwisata membuat mereka trauma berkepanjangan. Yang tidak tahu menahu persoalan dan tidak punya sanak saudara yang menjadi korban lalu ikut-ikutan mencari pembenaran. Keadaan ini diperparah oleh para pencari kerja dan pendatang dari luar Bali (seperti saya dan Anton ?) yang enggan berbaur dengan masyarakat setempat, tidak mau mebanjar, yang penting bisa makan bisa tidur, karena merasa sudah islam lalu tidak perlu ke pura atau ikut piodalan.
    Di luar itu, masih ada sekelompok orang yang tetap berusaha menghapus kenangan buruk itu menjadi cinta, kedamaian dan keharmonisan. Dari awal tahun 2006 hingga sekarang, kami dari National Integration Movement tetap melalukan aksi damai di Monumen Bom Bali 1, di Legian. Setiap Sabtu sore pukul 17.45 – 18.15 kami bernyanyi dan menari menyebarkan cinta dan kedamaian, merubah paradigma GROUND ZERO menjadi GROUND FOR PEACE, LOVE & HARMONY. Acara ditutup dengan doa bersama dari 4 tradisi agama di Indonesia.
    Acara ini menginspirasi masyarakat New York untuk merubah nama Ground Zero WTC Towers menjadi Ground for Peace, Love & Harmony.

    Mereka yang masih mencap Lamongan sebagai saran teroris, atau mereka yang masih meneriakkan aksi bom bunuh diri, tidak lebih hanya sedang MASTURBASI, hanya kepuasaan sesaat. Jika mereka telah mendapat ORGASME, hanya tersisa hanyalah AH…

    ReplyReply

    [Reply]

  • Joddie
    August 13, 2009

    Yaaaah… begitulah publik.. nyantai aja deeh.. terserah mo bilang apa.. yg penting kan kita baek2 aja.. tul nggak??

    ReplyReply

    [Reply]

  • putriastiti
    August 13, 2009

    Antonemus Lamonganensis itu spesies baru ?
    hehe!

    Saya juga punya pengalaman ga enak di kantor pos yang sama…. nyebelin..!

    ReplyReply

    [Reply]

  • Deddy
    August 16, 2009

    Kita sudah terlalu bisa memberi “cap” pada kelompok2 tertentu. Yah… anggep aja angin lalu mas. Btw, maaf, lagi2 saya ga bisa ikutan acaranya BBC. Dapet tugas juga full day di RS Sanglah.

    ReplyReply

    [Reply]

  • gek mirah
    August 18, 2009

    santai aja mas.. tetep senyum, kan senyum adalah ibadah. trus, selama kita jujur, kita nggak akan pernah takut kan…

    ReplyReply

    [Reply]

  • viar
    August 19, 2009

    pecel lele i lop yu full… 😀
    sama aja kl bicara soal asal bandung, yg ditanyain malah soal cewe-cewe bandung…cape deee 😀

    ReplyReply

    [Reply]

  • Ady Gondronk
    August 29, 2009

    Nila setitik rusak susu sebelanga..Mungkin itulah ungkapan yg tepat untuk kasus seperti ini..Sama halnya kalo ngomongin Desa Bungkulan, Atau Pesiapan, atau Danau Tempe…opini publik akan selalu mengarah ke yang namanya Prostitusi..

    Kita sebagai orang “orang waras” seharusnya jangan hanya menilai sesuatu hanya dari satu sudut pandang saja,masih banyak sesuatu yg positif yang tidak diketahui oleh publik atas daerah tersebut.yaaa salah satunya seperti Pecel Lele itu..

    yang biasanya memberi penilaian seperti itu adalah orang2 yang tingkat wawasannya minim…jadi yaa asal ngomong aja.

    ReplyReply

    [Reply]

  • rakhmat
    August 31, 2009

    Begitulah publik, judge by the cover!

    ReplyReply

    [Reply]

  • Mo
    September 3, 2009

    Hidup Lamongan..!

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *