Wajah Bali di Rumah Pengasingan Soekarno

12 , Permalink 0

Rumah Pengasingan Soekarno Ende

Menjelang balik ke Bali setelah selesai jadi fasilitator di Bajawa, Ngada (23/4) lalu, aku harus mampir ke Ende, kabupaten lain di Flores, Nusa Tenggara Timur. Jarak antara Ende dan Bajawa sekitar empat jam perjalanan lewat darat naik mobil. Aku harus ke Ende dulu karena dari kota di tepi pantai selatan Flores ini ada penerbangan ke Denpasar. Kalau di Bajawa tidak ada.

Aku dan Ana, teman seperjalanan, sampai di Ende lebih awal sekitar dua jam sebelum check in untuk penerbangan. Pesawat Merpati dari Ende ke Kupang akan berangkat pukul 11.55 Wita, berarti kami harus check in 10.55 Wita. Kami sampai di Ende sekitar pukul 9 pagi. Karena itu setelah mengambil tiket pesanan di kantor Yayasan Tananua, LSM lokal di Ende, kami memilih jalan-jalan dulu.

Ketika ke sini Januari tahun lalu, aku tidak sempat jalan-jalan di Ende karena alasan waktu mepet dan kecapekan setelah perjalanan panjang dari Labuan Bajo ke Ende. Agak nyesel juga sih. Makanya sekarang aku harus bisa jalan-jalan meski cuma sebentar.

Berdasarkan informasi yang aku punya, rumah pengasingan Soekarno di Ende adalah salah satu tempat menarik untuk dikunjungi. Maka kami segera ke sana.

Rumah ini berada di jalan Perwira, Ende. Sepertinya sih di tengah-tengah kota. Kawasan ini berupa perkampungan biasa. Masih terlihat beberapa rumah tua ala Belanda. Ini bisa dilihat dari bentuk jendelanya yang luebar sekali.

Dua papan di depan rumah memudahkan pengunjung untuk tahu bahwa rumah ini pernah jadi tempat pengasingan Soekarno. Papan tersebut di sisi kanan dari pintu masuk adalah keterangan tentang rumah tersebut sebagai benda cagar budaya. Papan di kiri bertuliskan Situs Bekas Rumah Pengasingan Bung Karno di Ende. Halaman ini terlihat tidak terlalu terawat dengan rumput-rumput yang panjang. Selain rumput ada juga bunga sepatu, bunga kamboja merah muda, dan lain-lain.

Rumah ini pernah jadi tempat pengasingan Soekarno di Ende selama empat tahun pada 1934-1938. Soekarno diasingkan Belanda di sini bersama istrinya, Inggit Gunarsih, juga anak angkat dan mertuanya. Pemilik rumah ini adalah Abdullah Ambuwaru, tokoh masyarakat setempat. Oleh Abdullah, rumah ini dihibahkan pada negara sebagai situs budaya.

Kini cucu dari pemilik rumah ini Syafruddin Puaita jadi juru kunci di rumah ini. Syafruddin, yang sudah bekerja delapan tahun di sini menggantikan bapaknya, pula yang menemani pengunjung di rumah ini.

Luas rumah ini 9×12 meter persegi. Ada lima kamar di rumah utama. Kamar ini antara lain untuk ruang tamu umum, ruang tamu khusus, kamar tidur Soekarno, kamar tidur mertuanya, dan ruang sholat di belakang. Di belakang rumah utama ada bangunan memanjang terdiri dari dapur, gudang, dan kamar mandi.

Ruang tamu utama adalah bagian pertama yang kami jumpai begitu masuk rumah. Ruang ini sekaligus jadi ruang pamer untuk benda-benda peninggalan Soekarno selain sebagai tempat buku pengunjung. Di rak coklat berkaca bening tersimpan benda seperti foto, piring untuk hiasan ataupun tempat makan, buku-buku, dan tongkat.

Di pojok ruang terdapat lukisan vertikal berukuran sekitar 1,5 meter x 0,5 meter persegi. Lukisan ini menarik perhatian khususku karena objeknya adalah orang Bali yang sedang bersembahyang. Ada empat laki-laki tanpa baju dan memakai udeng, kamen (sarung), juga selendang di pinggang menghadap sanggah, tempat meletakkan sesajen.

Lukisan Soekarno EndeLukisan ini diberi keterangan di pojok bawah kanannya, β€œPura Bali. Hasil Lukisan Bung Karno pada Tahun 1935.” Bagiku lukisan ini bisa jadi jendela juga bagi pengunjung rumah ini. Sebab begitu melihat lukisan ini, tentu saja orang akan langsung ingat Bali.

Soekarno sepertinya memang benar-benar punya ikatan psikologis, selain biologis karena ibunya memang orang Buleleng, pada Bali. Buktinya jauh-jauh tinggal di Ende dia justru melukis Bali, bukan Ende.

Setelah ruang utama, di mana terdapat juga foto Soekarno berpidato dalam ukuran jumbo, kami ke ruang tamu khusus. Menurut Syafruddin, tempat ini biasanya dipakai Soekarno untuk berbicara dengan tamu khusus secara personal. Misalnya dengan keluarga atau kepala daerah.

Ruangan ini ukurannya lebih kecil dibanding ruang tamu utama. Ada dua kursi dan satu meja yang biasa dipakai Soekarno menemui tamunya. Aku duduk di salah satu kursi kayu itu. Siapa tau bisa jadi orang besar sepertinya. Bosan juga kalau hanya kepala dan mulut yang besar. Hahaha..

Ada poster besar dengan tulisan tangan Soekarno berjudul Amanat untuk Bangsa Indonesia. Poster ini digantung di sudut kamar dan posisinya agak tinggi. Tulisannya tidak terlalu jelas akibat plastik penutupnya yang kusam. Posisinya juga terlalu tinggi bagiku yang bertubuh mungil. Makanya aku tidak jadi baca amanat Soekarno tersebut. Sekilas sih isinya ya begitu-begitu saja.

Dari ruang tamu khusus, kami ke ruang tidur pribadi Soekarno. Tempat tidur di ruangan ini, terbuat dari besi dan dibiarkan terbuka tanpa penutup kasur, langsung mengingatkanku pada ranjang penyiksaan di Museum Tuol Sleng, Kamboja. Tempat tidur di sini lebih kecil. Tapi bentuk dan suasananya yang di kamar agak muram dan dingin bener-benar membuatku tak terlalu nyaman. Aku inget ketika di Kamboja aku bener-bener merinding takut melihat ruang-ruang penyiksaan milik Khmer Merah tersebut.

Karena itu aku segera keluar melihat bagian lain dari rumah pengasingan Soekarno ini. Kami lihat kamar pribadi mertua Soekarno dan ruang sholat Soekarno di belakang. Tidak ada yang menarik di ruangan ini. Begitu pula dengan dapur, gudang, dan kamar mandi bagian belakang rumah utama.

Rumah ini punya halaman belakang. Tapi tidak banyak yang bisa dinikmati sebagai bahan cerita. Hanya ada sumur. Itu saja. Karena sedikitnya bahan yang bisa diceritakan di rumah ini, maka kami tak sampai 30 menit di sini.

Rumah Pengasingan Soekarno di Ende ini mengingatkanku lagi pada persoalan klasik situs-situs sejarah atau budaya di Indonesia, miskin informasi. Sebagai tempat sejarah, rumah ini harusnya punya cukup keterangan tertulis. Jadi misalnya ketika masuk orang akan langsung tahu tentang rumah ini lewat keterangan tersebut. Bisa saja keterangan ini ditempel atau dalam bentuk buku.

Selain keterangan tentang objek sejarah, akan lebih bagus pula kalau ada kurasi atau tulisan review tentang bangunan tersebut. Atau bahkan bagaimana peran rumah ini dalam konteks sejarah bangsa. Sebab, kata Syafruddin, di rumah ini pula Soekarno mencetuskan adanya Pancasila. Ketika itu Soekarno memikirkannya saat duduk di bawah pohon sukun tak jauh dari rumah ini. Ini kan sesuatu yang penting sekali.

Dan, seperti bangunan sejarah lain, bangunan yang pernah direnovasi pada 1981-1982, ini pun sepi pengunjung. Rata-rata hanya satu pengunjung per hari. Ketika liburan, museum ini baru banyak pengunjung. Di luar itu, museum itu sepi dalam kesendirian..

12 Comments
  • poetra
    May 4, 2009

    Walaupun dia sepi dalam sendiri, tapi dia ikut berdetak dalam perjuangan bangsa ini. Terasing, tapi masih dapat mengirimkan sinyal pemersatu bagi negara yang hampir kehilangan arah ini.

    Terima kasih atas ceritanya, bung Anton. Mudah-mudahan kapan-kapan saya bisa main kesana πŸ™‚

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    harapannya terlalu tinggi. lha wong anaknya Soekarno saja tidak ada yg ngurus. apalagi orang lain. πŸ™‚

    ReplyReply

    [Reply]

  • wira
    May 4, 2009

    ya begitulah Indonesia… tapi setidaknya tulisan ini telah memberikan banyak informasi tentang situs tersebut.

    Saya usul, gimana kalau tulisan ini di print trus ditaruh di situs itu sebagai tambahan informasi bagi pengunjung.

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    usul yang bagus. nanti saya teruskan ke pihak atasan. πŸ˜€

    ReplyReply

    [Reply]

  • didut
    May 4, 2009

    begitulah minskinnya soal informasi di negara tercinta kita ini …. tulis di wikipedia aja kang πŸ˜€

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    tulis di blog sajalah. lebih bebas nulisnya. dan tidak mewakili siapa pun. πŸ™‚

    ReplyReply

    [Reply]

  • didut
    May 4, 2009

    mo nulis bli kok malah jadi kang (doh)

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    dimaklumi. :p

    ReplyReply

    [Reply]

  • Anak Salatiga Belajar SEO
    May 15, 2009

    Helo,
    hmmm…i really like your post.
    Very..very..useful for us..
    Hope i can visit your blog again.
    Link Exchange please..

    Thanks

    Anak Salatiga Belajar SEO
    |Anak Salatiga Belajar SEO
    |Wisata SEO Sadau

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    terima kasih spamnya!

    ReplyReply

    [Reply]

  • bhalu joseph heriberts
    July 4, 2009

    Mngenai tulisan diatas yg mnyatakan bhw Soekarno hanya mlukis Bali n gak mlukis Ende jg gak benar..mnurut pngetahuanku Soekarno jg banyak mmbuat sket2 pd krtas ttg keindahan pantai Ende walau gak dibuatnya dlm sbuah lukisannya yg cukup besar tp sdikitnya dia jg mmbawa obiek ttg keindahan pantai Ende dlm sket2nya..itu mmnandakan bahwa pantai ende cukup menarik jg dlm imajinasinya..Ok salam bwt saudara.(mahasiswa ISI Denpasar)

    ReplyReply

    [Reply]

  • Abdul
    November 11, 2009

    dalam tulisan td da koreksi dikit,,
    syafrudin tu bukan cu2du dari pemilik rumah tp anak dari juru kunci rumah sebelumnya..
    he..he..he..he..kesalahan info mas anton..
    trim’s buat tulisannya

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *