Untung Ada Coto Makassar

11 , , Permalink 0
Here I am. Di Makassar dengan ketidakjelasan. Apa yang harus aku kerjakan? Serba salah. Mau nolak, teman yang ngajak. Setelah bersedia, tidak jelas tanggung jawabnya. Bahkan ketika aku sudah sampai di tempat acara, aku belum juga tahu apa saja yang harus aku kerjakan. Duh..

Sekira dua minggu lalu seorang teman, kini bekerja di Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional, telepon. Minta tolong aku bantu mengurus media selama Pertemuan Nasional Harm Reductin (PNHR) di Makassar, 14-18 Juni ini.

Actually, aku tidak terlalu tertarik. Pertama karena Makassar bukan kota yang terlalu menarik bagiku. Mungkin karena sudah dua kali pernah ke sini dan punya pengalaman tidak enak juga. Kedua, acara PNHR itu sendiri tidak terlalu asik. Terlalu formal untuk orang berangasan kayak aku.

Tapi ya apa boleh buat. Aku mengiyakan saja meski harus menangis melolong dulu agar Bunda ngasih izin. Tidak enak saja sih. Teman itu tumben minta tolong, masak aku tidak mengiyakan.

Lagian, mungkin bisa menikmati coto makassar dan, ehm, bandeng bakar paottere’! Ini dua makanan khas Makassar yang benar-benar enak banget bagiku. Sebagai pemburu makanan enak, dua menu ini harus aku santap lagi.

Maka, di sinilah aku hari ini. Pukul 10 tadi sampai di Makassar. Ketemu sama teman lama zaman kos di Jl Waturenggong Denpasar dulu, Rasman sejak di Bali tadi. Enaknya karena kemudian dia yang dijemput adiknya, mengantarkanku dulu ke Hotel Clarion di Jl AP Pettarani Makassar.

Sampai hotel, aku cek namaku di resepsionis. Ternyata, kata petugas hotel, belum ada. Ya udah. Aku keluar saja. Perut lapar. Juga sudah tidak tahan pengen makan coto makassar.

Tidak sampai 100 meter dari hotel aku menemukan warung kaki lima dengan menu yang kucari. Enak juga warung coto di depan kampus Universitas Negeri Makassar ini.

Coto makassar semacam soto sapi. Tapi kuahnya pakai santan. Dagingnya lebih banyak hati sapi, daripada daging. Semuanya empuk banget. Dan kuahnya itu lho, sueger banget. Mungkin karena pakai santan. Irisan bawang goreng dan bawang daun membuat rasanya sangat kuat.

Ada irisan jeruk dan garam di meja itu. Jadi aku tambahkan. Aduh, rasanya ternyata malah terlalu kecut bagiku. Mirip Tom Yam Gung, masakan Thailand.

Menu berkuah ini disajikan dengan mangkuk kecil. Mirip tradisi makan di Asia Timur seperti China dan Jepang.

Untuk pengganjal perut ada ketupat kecil-kecil yang sudah dibelah. Dasar bloon, aku tanya mana piringnya pada penjaga. Maunya aku potong-potong di piring lalu aku siram dengan coto itu. Eh, ternyata ketupat ini dimakan langsung –tentu saja pakai sendok- dari daun kelapa pembungkusnya lalu dicelupkan ke mangkuk dan dimasukkan ke mulut sama kuah coto.

“Itulah seninya makan coto makassar,” kata pemilik warung.

Satu mangkuk ternyata tidak cukup bagiku. Aku nambah. Setengah saja. Kali ini aku tidak tambah apa pun, termasuk sambal. Dan, aaah, ternyata rasanya jauh lebih tepat. Segar. Gurih. Tidak sia-sia jauh-jauh dari Denpasar ke Makassar untuk ketemu makan sedap kayak gini.

Tinggal, tunggu kau bandeng bakar paottere’! Waktumu untuk kusantap pun akan segera tiba.

11 Comments
  • okanegara
    June 14, 2008

    sebuah percakapan antara made (orang bali) dan udin (orang makassar) setelah menyantap coto makassar;

    made: din, kalau begini apa bedanya coto dengan soto?
    udin: ya jelas beda lho bli made..
    made: lha bedanya dimana? ini kan pake daging sapi, dan pake sambel juga toh…
    udin: nggak, pokoknya beda aja..
    made: lha, kalau begitu ini coto isinya apa?
    udin: itu daging capi dan cambel….

    *hehe, sorry kalau garing

    ReplyReply

    [Reply]

  • bunda
    June 15, 2008

    halo ayah??? longtimenosee. aku dah bilang ma ike, untuk 1 artikel PNHR. enjoy **sisa muka masam.

    ReplyReply

    [Reply]

  • antonemus
    June 15, 2008

    @ okanegara: wahahaha. lucu, dok. sayangnya lbh lucu liat suasana persiapan PNHR II. 😀

    @ bunda: mmmmuah!

    ReplyReply

    [Reply]

  • ghozan
    June 15, 2008

    huehehehehe gak ada coto makasar pake daging ayam ya bang? pengen nyoba, sayang sapi 😀

    ReplyReply

    [Reply]

  • wira
    June 16, 2008

    jadi lapar nok

    ReplyReply

    [Reply]

  • anima
    June 16, 2008

    eh, ga ada yang menarik di makassar yah? 😐

    ReplyReply

    [Reply]

  • blad
    June 16, 2008

    he.. aku pengen banget logh kemakasar,,,

    ReplyReply

    [Reply]

  • Ina
    June 16, 2008

    Welkam to Makassar.
    *gelarkarpetmerahpenyambutan*

    Kopdar..kopdar…!
    *kumpulin massa blogger Makassar*

    😀

    ReplyReply

    [Reply]

  • penyu
    June 17, 2008

    waduh jadi lapar T_T, sayang belom pernah makan cotto makacar, pengen sih tapi dijembrana dimana nyarinya ya ? Mungkin ada yang mau buka ? hehehe

    oh ya ga ada pic ?

    ReplyReply

    [Reply]

  • Ria
    June 24, 2008

    Coto Makassar kan gak pake santen kuahnya???? tetapi pake kacang yg disangrai kemudian di giling halus…. *maaf om protes, habis si mama sering bikin dan sering bantuin juga 😛 *

    ReplyReply

    [Reply]

  • antonemus
    June 30, 2008

    @ ghozan: kalo ada yg pake daging babi pasti lbh asik. 😀

    @ wira: silakan makan PCnya. 😀

    @ anima: waah, banyak banget. cuma ya waktuku aja yg kurang longgar. jdnya cuma ngoyong gen di hotel.

    @ blad: yaudah. cari aja suami dr makassar. 😀

    @ ina: terima kasih sudah disambit. 🙂

    @ penyu: di jembrana kan ada ayam betutu. lalu apalagi yg kurang. 🙂

    @ ria: oooh, gitu ya. soale aku tanya si pedagang katanya pake santan. thx ya infonya. 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *