Tumbuh Tanpa Dukungan Pemerintah

Hira Jhamtani, teman yang juga aktivis dan peneliti tentang globalisasi, mengirim kabar gembira pekan lalu. Tulisanku tentang pertanian organik di Indonesia dimuat Jurnal Third World Resurgence.

Pengantar di tulisan yang diterjemahkan ke Bahasa Inggris tersebut sebagai berikut.. “While figures and statistics are increasingly showing that sustainable agriculture is viable in ensuring food security and rural livelihoods, it is important to note that agriculture is also about human experiences.  Sustainable agriculture is a story about lives, about how farmers struggle to make changes for a better future.  Drawing on the Indonesian experience, this article presents a set of such stories about farmers in Indonesia who have proven that sustainable agriculture works.”

Ini tulisannya dalam Bahasa Indonesia..

Tak hanya meningkatkan produksi padi, pertanian organik juga meningkatkan kualitas hidup petaninya. Setidaknya ini dialami Rovinia Jenia, 29 tahun. Setelah beralih ke pertanian organik, petani perempuan di Munting, salah satu desa di Flores, Nusa Tenggara Timur, itu kini bisa menyiapkan kebutuhan pangan untuk keluarganya dengan lebih baik. Jenia dan ratusan petani lain di desa itu bahkan bisa mempersiapkan masa depan anak mereka dengan sekolah.

Padahal sebelum bertani organik, jangankan menyimpan beras atau padi, memanen saja dia tidak bisa.. Sebelum padi menguning, petani di desa sekitar 30 km timur Labuan Bajo, ibukota Kabupaten Manggarai Barat, ini sudah menjualnya ke tengkulak. Karena butuh uang, petani tidak punya posisi tawar di depan tengkulak. Apalagi secara sosial dan ekonomi, petani kecil seperti Desa Munting, memang lebih rendah posisinya dibandingkan tengkulak. Petani kalah meski potensi mereka sangat berlimpah.

Peningkatan Produksi
Desa Munting berlokasi di kawasan lembah, dikepung bukit-bukit dengan sumber air berlimpah. Tiga bendungan besar yaitu Wae Kanta, Wae Rago, dan Wae Sele menyediakan air sepanjang tahun di kawasan seluas 5.100 hektar di Desa Munting dan sekitarnya. Daerah ini adalah penghasil padi utama di Manggarai Barat, bahkan Flores.

Namun, penggunaan benih, pupuk, dan pestisida kimia berlebihan untuk menghasilkan padi sebanyak mungkin justru jadi bumerang. Intensifikasi ini dimulai sejak pertengahan 1970an ketika Revolusi Hijau juga menyusup hingga desa ini dan menghancurkan kearifan lokal, bertani sebagai sebuah tradisi budaya bukan semata mengejar produksi. Demi mengejar hasil sebanyak mungkin, petani pun bergantung pada asupan luar sangat tinggi, juga biaya. Petani mengeluarkan biaya lebih banyak meski harus hutang ke tengkulak. Untuk membayar hutang, petani menjual padi itu ke tengkulak dengan harga yang ditentukan oleh tengkulak secara sepihak dengan taksiran kasar. Penggunaan asupan luar yang berlebihan malah menjebak petani kecil, termasuk di Desa Munting.

Sejak 2004, petani lokal beralih ke pertanian organik setelah Yayasan Komodo Indonesia Lestari (Yakines), lembaga swadaya masyarakat (LSM) di bidang konservasi lingkungan hidup dan pertanian berkelanjutan, memulai program di sana. Dengan bantuan Yakines, petani setempat mulai menerapkan System of Rice Intensification (SRI), sistem pertanian yang menekankan pada penghematan penggunaan bibit dan air. Tak hanya menggunakan SRI, petani juga mulai meninggalkan asupan luar yang terlalu banyak termasuk bahan-bahan kimia.

Pengolahan tanah secara organik dilakukan dengan menggunakan jerami yang dibakar dicampur effective microorganisme (EM4). Untuk mengendalikan hama, petani tidak lagi menggunakan pestisida, tapi daun gamal (Glicidia maculata). Penggunaan sumber daya lokal ini membuat petani tidak lagi bergantung pada asupan luar seperti benih, pupuk, dan pestisida dari perusahaan besar. Mereka cukup memanfaatkan potensi di lahannya sendiri. Tidak perlu biaya besar. Juga tidak perlu berhutang pada tengkulak untuk mengelola pertanian.

Selain berkurangnya biaya pengelolaan, petani pun mendapat hasil yang lebih banyak. “Metode SRI lebih bermutu. Anakan padi lebih banyak, malai lebih panjang, dan hama pun berkurang,” kata Paulus Gambur, petani lain di Munting. Ketika masih menggunakan pestisida kimia, hama padi seperti wereng dan walang sangit lebih banyak. Namun setelah menerapkan pestisida organik hamanya berkurang.

Di sisi lain, hasil padi pun hampir meningkat dua kali lipat. Ketika masih bertani anorganik sawah mereka menghasilkan 4-5 ton per hektar padi, sekarang bisa mencapai 8-9 ton per hektar. Petani yang menerapkan pertanian organik pun bertambah, dari hanya lima orang ketika dimulai pada 2004 saat ini 50 anggota kelompok tani di Munting semuanya menerapkan pertanian organik. Dari 25 meter persegi, saat ini petani di Munting menerapkan SRI di sekitar 50 hektar sawah.

Hal lain yang terasa setelah petani beralih ke pertanian organik adalah munculnya kesadaran untuk berorganisasi. Ketika masih menerapkan pertanian anorganik, petani malas berkelompok karena semua usaha pertanian bisa dilakukan sendiri. Namun dengan pertanian organik, petani setempat harus saling membantu seperti mengolah tanah hingga memanen. Mereka pun mendirikan kelompok tani, di mana sebagian besar anggotanya adalah petani laki-laki.

Di sisi lain petani perempuan juga mendirikan Usaha Bersama Simpan Pinjam (UBSP) yang tidak hanya mengurus produksi tapi juga penanganan pasca-panen hasil pertanian, salah satunya lumbung pangan. Petani menyimpan gabah di lancing (semacam wadah penyimpanan gabah) untuk memenuhi kebutuhan bibit dan pangan selama musim bera. Petani juga menyimpan beras di lumbung berbeda untuk memenuhi kebutuhan pangan dan anak-anak mereka yang sekolah di Labuan Bajo. Tiap bulan petani di Desa Munting mengirim beras untuk anak mereka yang tinggal di kota.

“Sekarang anggota kelompok jadi bisa memikirkan pendidikan anak-anaknya di kota,” ujar Jenia.

Pendapatan Naik
Tak hanya petani padi di Flores, petani sayur di Bali pun merasakan perubahan hidup yang lebih baik setelah beralih ke pertanian organik. Hal ini terjadi di di Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng. Ketut Wiantara, salah satunya.

Petani di Desa Pancasari, sekitar 60 km utara Denpasar itu semula menggunakan pupuk kimia dan pestisida untuk bertani. Tapi cerita klise di semua petani terus berulang: terlalu banyaknya penggunaan bahan kimia membuatnya rugi. “Pendapatan lebih sedikit sementara biaya beli pupuk dan pestisida juga banyak,” kata Ketut. Penggunaan pupuk kimia dan pestisida terus menerus juga menurunkan kesehatan tanah. Akibatnya, jumlah panen makin hari makin berkurang.

Maka, sejak tiga tahun lalu dia beralih menggunakan bahan organik untuk bertani. Salah satu bahannya adalah air kencing sapi. Ketut dan teman-temannya di Kelompok Tani Muda Mandiri tersebut mempelajari cara bertani organik tersebut lewat internet. Mereka meniru teknologi yang diterapkan oleh petani di India.

Ketut menggunakan air kencing sapi sebagai pupuk. Air kencing sapi itu berasal dari empat ekor sapi miliknya. Dari kandang, air kencing itu disalurkan melalui selang ke bak penampungan dari semen dengan kapasitas 1 kubik. Untuk menghilangkan amoniak, zat yang berbahaya bagi tanaman, air kencing disalurkan ke semacam tangga kecil dari semen setinggi 2 meter. Selama enam jam air diputar lalu dialirkan lagi ke kolam lain berkapasitas 1 kubik juga.

Setelah mengendap dan tanpa amoniak, air kencing itu dicampur air biasa dengan rasio 1 liter kencing sapi untuk 10 liter air. Air campuran itu ditampung di bak besar berkapasitas 1000 liter. Dari bak besar ini, pupuk cair organik itu mengalir melalui pipa kecil ke 25 are lahan miliknya. Bahan organik itu sebagai pupuk sekaligus pengendali hama.

Paprika adalah salah satu sayur yang ditanam Ketut. Di pohon setinggi 1 hingga 2 meter itu bergantungan buah paprika berwarna hijau ranum tanda akan segera dipanen. Ketut menggunakan teknologi irigasi tetes (semi hidroponik). Pupuk organik cair itu dia alirkan melalui pipa kecil yang berlubang di tiap bagian di mana tanaman paprika berada. Pupuk cair itu dan abu sekam terbungkus plastik menjadi media tanam paprika. Ketut tidak perlu tanah untuk menyuburkan tanaman yang terlihat segar-segar tersebut.

Selain tanaman paprika, di kawasan berhawa sejuk itu, Ketut juga menanam wortel, ketela rambat, selada, sayur hijau, dan stroberi. Dengan semua tanaman itu, sarjana ekonomi lulusan universitas di Singaraja itu kini bergantung sepenuhnya dari bertani. Ketut mengaku perubahan itu makin terasa setelah dia beralih pada pertanian organik.

Hasil pertanian organik itu memang lebih berlimpah. Dia mempekerjakan dua pekerja tetap dan empat pekerja harian untuk memeriksa, membersihkan, hingga memanen hasil tanaman itu. Kini dia bisa mendapat penghasilan Rp 10 juta per bulan dari pertanian tersebut. Pesawat televisi datar 21 inchi, satu set komputer, dan DVD player menghiasi ruang tamu. Antena parabola berada persis di sebelah sanggah, pura kecil, di rumah.

Hal yang sama juga dirasakan beberapa petani lain di Bedugul. Produk pertanian organik membuat mereka lebih bisa menjual ke target pasar yang lebih spesifik, konsumen organik. Harganya pun lebih mahal. Hasil pertanian Ketut dan teman-temannya dijual ke Aero Catering Service di bandara Ngurah Rai Bali yang tiap hari melayani minimal 2000 penumpang dan beberapa outlet organik lain di Bali.

Ketua Bali Organic Associatin (BOA) Ni Luh Kartini, dalam satu kesempatan mengatakan, pertanian organik terbukti mampu meningkatkan pendapatan petani di Bali. Sebab, dengan bertani organik, petani tidak lagi perlu membeli pupuk kimia dan pestisida. “Petani jadi tidak bergantung pada perusahaan pupuk dan pestisida untuk mengelola pertaniannya,” katanya.

Adat dan budaya Bali pun, menurut Kartini, sangat mendukung pola pertanian organik. Tumpak bubuh –ritual untuk menghormati tumbuhan- dan penjor –hiasan di saat umat Hindu merayakan upacara- adalah dua contoh budaya Bali yang mendukung agar manusia tidak merusak alam. “Seluruh bagian penjor itu kan hasil pertanian. Jadi maknanya adalah agar kita menggunakan sumber daya alam yang sudah kita miliki, bukan dengan mengambil dari tempat lain. Apalagi sampai tergantung,” tuturnya.

Masih banyak contoh keberhasilan produksi petani setelah beralih ke pertanian organik dari yang semula menggunakan pertanian anorganik. Contoh-contoh keberhasilan itu terbentang dari ujung timur ke barat Indonesia. Dari desa ke kota. Hal yang paling gampang diukur memang dari tingkat produksi, pertanian organik lebih banyak dibanding pertanian anorganik.

Hidup Lebih Sehat
Namun tak melulu dari sisi peningkatan produksi, pertanian organik adalah tentang bagaimana kita bisa hidup lebih sehat. Ini dialami Nurani, salah satu konsumen pangan organik di Solo, Jawa Tengah.

Setelah divonis oleh dokter bahwa dirinya terkena penyakit diabetes 16 tahun lalu Nuraini pun mulai mengonsumsi beras organik. “Saya ingin menjaga kesehatan saya tanpa mengonsumsi beras yang sudah tercemar pestisida,” kata ibu dua anak ini. Nuraini, pegawai di Fakultas Pertanian Universitas Tunas Pembangunan (UTP) Solo ini yakin bahwa beras organik lebih sehat dan bagus untuk mencegah dampak lebih buruk diabetes. “Sejauh ini saya bisa menjaga berat badan tetap sehat dan stabil,” katanya. Beras organik, bagi Nuraini, membuat dia lebih sehat.

Untuk membagi pengalaman lebih sehat setelah mengonsumsi beras organik itu, Nuraini juga menjual beras organik di kios kecil miliknya. Tidak hanya menjual, dia juga menyediakan informasi tambahan tentang kelebihan beras organik dibanding non-organik. Tempat di bagian depan rumah ini jadi semacam pos informasi produk organik bagi tetangga Nuraini.

Rumah dan kios Nuraini hanya satu dari lima kios serupa di Solo, Jawa Tengah. Kios-kios ini tidak hanya tempat memajang dan menjual barang, namun sekaligus pos informasi hasil pertanian organik. Kios-kios itu merupakan bagian dari program Lembaga Studi Kemasyarakatan dan Bina Bakat (LSKBB), LSM berbasis di Solo untuk memperkuat kesadaran konsumen tentang produk organik.

Selama ini hasil pertanian menempuh perjalanan sangat panjang dari (1) petani individu ke (2) penebas dan penggilingan ke (3) pedagang besar ke (4) pengecer besar ke (5) pengecer kecil lalu baru ke (6) konsumen. Hal ini diperparah oleh sistem jual beli dari petani ke tengkulak yang seringkali tidak memihak petani kecil karena mereka terlilit hutang pada tengkulak. Petani menjualnya dengan harga yang ditentukan secara sepihak oleh tengkulak.

Akibat rantai yang terlalu panjang itu, tak hanya petani yang susah memasarkan produknya, konsumen juga susah mendapatkan produk organik yang mereka inginkan. Maka, muncul gerakan penyadaran konsumen yang bisa mendorong konsumen agar bisa langsung berhubungan dengan petani. Inilah yang menjadi dasar munculnya kampanye kesadaran konsumen.

Agar konsumen lebih yakin terhadap produk organik yang dibeli, LSKBB juga menjembatani dengan cara mengajak konsumen berkunjung langsung ke lokasi produksi. Salah satunya ke lokasi produksi padi organik di Desa Dlingo, Kecamatan Mojosongo, Boyolali. Di desa ini ada Kelompok Tani Pangudi Boga. “Kami jadi tahu bagaimana petani menggunakan bibit dan pupuk yang sehat,” kata Rahayu, salah satu konsumen produk organik.

Inilah hal lain yang mungkin tidak disadari. Pertanian organik juga ternyata lebih bisa mendekatkan antara petani dengan konsumennya. Desa Dlingo, berjarak sekitar 30 km ke arah barat dari Solo, adalah salah satu sentra produksi beras untuk daerah Boyolali dan sekitarnya. Sebagian petani setempat beralih dari bertani anorganik dengan asupan luar tinggi ke pertanian organik. “Awalnya kami tidak terlalu peduli dengan kesehatan hasil pertanian. Namun setelah tahu tentang produk pertanian yang lebih sehat untuk kami dan konsumen, kami pun mengubahnya,” kata Cipto Mulyatmo, Pengurus Kelompok Tani Pangudi Boga.

Dari yang semula sangat tergantung asupan-asupan kimia, Cipto dan puluhan petani lain di kawasan itu pelan-pelan beralih menggunakan asupan ramah lingkungan dan sehat. Misalnya penggunaan kompos, pupuk cair, obat-obatan alami, dan pestisida alami. Dengan asupan luar rendah, menurut Cipto, padi hasil petani setempat ternyata malah naik. Produksi gabah kering di sini 6,8 ton hingga 7 ton per hektar per musim yang dihasilkan dari 15 hektar sawah khusus padi organik. Jenis padi di sini, ada mentik susu dan pandan wangi, merupakan varietas lokal.

Untuk menjaga kualitas produk ini, maka anggota Kelompok Tani Pangudi Boga pun memperhatikan proses tidak hanya dari budi daya tapi hingga pengemasan produk. Budi daya itu pun sudah melalui proses yang sebisa mungkin tidak terkontaminasi zat kimia. Begitu pula penggilingan beras organik. Sebelumnya, padi hasil produksi petani setempat digiling campur dengan padi anorganik. Akibat tuntutan dari konsumen maka penggilingan pun digiling di penggilingan tersendiri milik salah satu anggota.

Namun pertanian organik tak melulu soal kesejahteraan manusia. Dia juga tentang bagaimana menjaga alam agar berjalan seimbang. Petani di Bali misalnya. Untuk memenuhi kebutuhan pupuk organik, mereka harus membudidayakan ternak seperti sapi, atau bahkan ayam kalau mengacu pada pengalaman petani di Desa Mengesta, Tabanan. Ternak-ternak tersebut nantinya menghasilkan pupuk.

Di banyak tempat, terutama di kawasan sawah, praktik pertanian organik juga memberi tempat untuk ekosistem yang sebelumnya sudah hilang. Belut, berbagai jenis siput air, belauk (calon capung), capung, maupun cucut (sejenis belut), yang sebelumnya sangat jarang ditemukan ketika mereka masih menggunakan pola pertanian dengan input kimia, kini kembali.

Tanpa Kebijakan
Toh meski bukti keberhasilan pertanian organik itu berserak di berbagai tempat, pemerintah Indonesia seperti masih buta. Indonesia masih saja mengagungkan pertanian konvensional. Tidak ada kebijakan, atau sekadar komitmen politik, dari pemerintah Indonesia untuk mendukung pertanian organik.

Ya, Indonesia memang sudah punya mencanangkan program bernama Go Organic 2010. Tapi ini tak lebih hanya jargon, pepesan kosong. Setelah program ini dicanangkan pada 2001, gaungnya kemudian sayup-sayup lalu hilang. Tidak ada tindak lanjut sama sekali. Pemerintah belum membuat satu aturan lebih detail tentang bagaimana pencapaian itu akan dilakukan. Belum ada turunan aturan yang jelas terkait dengan target pencapaian mereka bahwa pada tahun 2010 Indonesia akan menjadi salah satu produsen produk organik terkemuka di dunia.

Berdasarkan data dari Departemen Pertanian, pemerintah telah merancang pengembangan program itu dalam enam tahapan mulai dari tahun 2001 hingga tahun 2010. Tahapan tersebut antara lain tahun 2001 difokuskan pada kegiatan sosialisasi, tahun 2002 difokuskan pada kegiatan sosialisasi dan pembentukan regulasi, tahun 2003 difokuskan pada pembentukan regulasi dan bantuan teknis, tahun 2004 difokuskan pada kegiatan bantuan teknis dan sertifikasi, tahun 2005 difokuskan pada sertifikasi dan promosi pasar, dan tahun 2006 – 2010 terbentuk kondisi industrialisasi dan perdagangan.

Target yang ingin dicapai oleh Pemerintah Indonesia melalui program ini: pada tahun 2010, Indonesia akan jadi salah satu produsen dan eksportir pangan organik utama dunia. Untuk itu, dalam jangka pendeknya, pemerintah akan menyediakan semua infrastruktur pada 2005. Namun, hingga tahun 2009 ini, ketika target itu tinggal setahun lagi, target itu masih jauh panggang dari api. Go Organic hanya sebatas wacana tanpa aksi nyata.

Sebaliknya, pemerintah masih saja mengejar target produksi pertanian dengan menggunakan input bahan kimia sebanyak mungkin. Tak peduli bahwa untuk itu pun pemerintah harus mengimpor pupuk. Di salah satu media online Februari ini, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan, impor pupuk hanya dilakukan untuk mencukupi cadangan pupuk jangka pendek, pada 2009 dan 2010. Pertanyaannya, daripada sibuk mengimpor, kenapa tidak mengolah dari lingkungan sekitar saja, seperti yang selama ini dilakukan petani di Flores, Bali, Jawa, Mamasa, dan seterusnya?

Dalam salah satu diskusi di Bogoro pada 2005, Menteri Pertanian Anton Apriyantono mengatakan bahwa pengembangan pertanian organik akan mengacu pada sasaran Revitalisasi Pertanian Perikanan dan Kehutanan (RPPK) yang antara lain berkaitan dengan aspek produktifitas dan efisiensi. Itu pun masih fokus pada komoditas tertentu yang bernilai ekonomi tinggi serta tidak dibutuhkan dalam jumlah yang besar bagi konsumsi dalam negeri. Antara lain komoditas hortikultura (sayur dan buah), perkebunan (kopi, mete, dll.), rempah dan obat-obatan.

Tapi ya ini juga tidak diikuti atau diimbangi dengan regulasi nasional untuk mendukung pertanian organik di Indonesia. Pemerintah belum membuat strategi nasional yang sistematis dan terintegrasi sebagai arahan bagi pengembangan pertanian organik di Indonesia.

Pendekatan yang digunakan pemerintah terkait dengan pertanian organik juga sangat pro-korporasi. Tak heran jika standarisasi nasional produk organik menjadi pekerjaan yang langsung diselesaikan oleh pemerintah. Padahal sebagian besar petani organik, terutama petani kecil, tidak butuh sertifikasi. Mereka lebih butuh kepercayaan dari konsumen daripada pengakuan dari lembaga sertifikasi.

Praktik di petani Boyolali dan konsumen di Solo memperlihatkan bagaimana kepercayaan itu bisa dibangun melalui kunjungan lapangan, bukan sebuah sertifikat yang sering kali bisa dibeli. Apalagi sertifikasi juga sangat mahal dan tidak terjangkau oleh petani kecil.

Maka semua pelaksana pertanian organik lebih memilih swadaya. Bahkan petani kopi di Bali memasukkan kebijakan pertanian organik itu dalam aturan adat mereka. Petani kopi di Kintamani, Bangli menggunakan sanksi adat untuk petani yang melanggar kesepakatan kelompok terkait dengan kopi organik. “Kami tidak boleh pakai pupuk kimia seperti TSP dan Urea. Kalau pakai, kami bisa kena sanksi adat,” kata Nengah Kempel, salah satu petani.

I Wayan Jamin, Kelian Subak Sukamaju mengatakan sanksi adat untuk anggota subak yang melanggar itu mulai diberlakukan sejak tahun 2005 lalu. Menurut Jamin, yang juga Kepala Desa setempat, aturan itu muncul untuk meningkatkan kualitas kopi kintamani. Sebab, katanya, penggunaan pupuk kimia justru merusak kualitas.

Tidak hanya untuk pemeliharaan tanaman, petani setempat juga memperhatikan waktu panen kopi. Petani setempat memanen kopinya kalau sudah merah baru dipanen. Kalau ada anggota subak yang memanen kopi sebelum berwarna merah, maka petani tersebut akan mendapatkan sanksi adat. Bentuk sanksi yang diberikan itu tergantung tingkat kesalahan. Kalau kesalahan kecil seperti memetik saat masih hijau, maka petani itu akan harus membayar ke desa adat sebesar Rp 1000 kali jumlah anggota. Dengan 150 anggota desa adat, yang juga anggota subak abian, maka petani yang melanggar harus membayar Rp 150.000.

“Kalau sampai tiga kali melakukan kesalahan ya tidak akan diajak di subak atau bahkan dikucilkan secara adat (kasepekang). Akibatnya tidak boleh ikut sembahyang. Sampai mati pun tidak boleh,” kata Jamin.

Inisiatif-inisiatif dari bawah semacam inilah yang justru membuat pertanian organik di Indonesia bisa berkembang. Kebijakan dari pemerintah masih seperti Godot –selalu ditunggu dan tak pernah muncul. [#]

8 Comments
  • didut
    April 28, 2009

    pemerintah itu memang paradox…inginnya swasembada tetapi petani tdk pernah dibiarkan untuk berkembang mandiri

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    bukan begitu. pemerintah malah terlalu campur tangan kalo soal penggunaan pestisida dst. tp soal organik mereka tidak mau sama sekali.

    ReplyReply

    [Reply]

  • sugeng
    May 3, 2009

    Betul pak, dalam regulasi nya memang pemerintah selalu tidak berpihak pada rakyat (petani) kecil. Padahal dengan melihat hasil (secara kualitas dan kuantitas) pertanian organik bisa membuat hidup lebih panjang. Mungkin pemerintah kepingin rakyat nya cepat berkurang populasi nya kaleee…………. sehingga gak menuh2in Indonesia 😀

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    pemerintah lebih banyak disetir sama perusahaan pupuk dan pestisida, om. mereka hanya jadi kepanjangan tangan perusahaan tersebut. lalu petani pun jadi korban.

    ReplyReply

    [Reply]

  • eko
    March 2, 2010

    bener banget bung….pemerintah akan turun tangan bila proyek itu menguntungkan mereka, bila tdk jangan harap….., petanilah yg jd korban kebijakan mereka. sebagai WNI yg peduli terhadap kelestarian lingkungan saya juga turut prihatin dengan segala kebijakan2 pemerintah.

    ReplyReply

    [Reply]

  • imung
    June 16, 2010

    baca tulisan ini jadi merasa beruntung bisa liputan dan menghabiskan malam bareng sama penulisnya hahahaha

    ReplyReply

    [Reply]

  • imam
    September 28, 2014

    kalau saya jadi pemerintah, saya juga akan melakukan hal yang seperti yang pemerintah lakukan saat ini, yaitu tetap memiskinkan petani, karena petani, buruh adalah media untuk di eksploitasi dan di peras. Taruna Tani

    ReplyReply

    [Reply]

  • Brad Cassidy
    October 26, 2014

    Dear Sirs,
    I am a coffee roaster in Perth Western Australia and would like to be put in touch with Nengah Kempel re supply of green coffee.

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *