Titi Banda dan Nafsu untuk Dikagumi

2 , , Permalink 0
foto @bayuantara

foto @bayuantara

Sebuah patung tentang epos Ramayana megah baru berdiri di pinggiran Denpasar.

Lokasinya persis di pertigaan Jalan By Pass Ngurah Rai, Kesiman, Denpasar. Titik ini menghubungkan tiga arah jalan. Di selatan adalah jalan dari Sanur dan Nusa Dua. Di timur adalah jalan dari daerah timur Bali seperti Gianyar, Klungkung, Bangli, dan Karangasem. Di utara adalah jalan dari Denpasar atau Gianyar.

Tapi, patung itu sendiri hanya bisa dilihat oleh pengguna jalan dari dua arah, selatan dan timur. Dia seperti menyambut siapa pun yang datang dari arah timur dan akan masuk Denpasar lewat jalur ini.

Patung tersebut bernama Patung Titi Banda. Dia menceritakan epos ketika Rama akan menyelamatkan Shinta. Rama, pemanah ganteng itu membangun jembatan Titi Banda di tengah laut untuk menyelamatkan si cantik Shinta. Dia dibantu Wanara atau kera. Jumlahnya 18 tapi dalam patung itu hanya ada 5.

Rama menjadi tokoh utama dalam cerita tersebut. Juga di Patung Titi Banda yang baru diresmikan Desember lalu itu. Tingginya sekitar 10 meter. Dia membawa panah. Menghadap ke arah timur. Gagah sekali menyambut tiap orang yang akan masuk Denpasar atau sekadar melewati tempat ini.

Di sekitarnya ada lima patung kera. Mereka mengelilingi sang Rama yang akan menjemput istrinya dari kerajaan Alengka. Semua, termasuk Rama, berdiri di atas ombak.

Seperti umumnya patung pewayangan di Bali, Patung Titi Banda ini detail, cantik, dan megah. Mengagumkan. Bagus buat difoto-foto.

Pemerintah Kota Denpasar yang membangun patung ini menyatakan bahwa patung tersebut diharapkan bisa menjadi ikon baru Denpasar. “(Patung Titi Banda) itu akan menjadi ikon kota Denpasar. Taman di sekitar patung akan bisa dinikmati masyarakat luas karena letaknya sangat strategis yakni yakni pintu masuk Kota Denpasar dari arah timur,” kata Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Denpasar Ketut Wisada.

Ketika lewat di sekitar patung itu akhir Desember lalu, saya tertarik untuk berhenti dan berpose di depannya. Siapa tahu bisa berselfie ria dengan latar belakang patung tersebut.

Tapi, ternyata tidak mudah. Tidak ada tempat parkir di sana. Setidaknya hingga Desember lalu. Jika pun saya berhenti, akan berbahaya. Lokasi patung itu persis di pinggir jalan By Pass Ngurah Rai. Namanya saja By Pass, jalan itu tempat orang-orang ngebut. Tidak seperti di jalan di dalam kota. Berbahaya jika menyeberang di sana.

Kesimpulan saya, patung indah dan megah bernama Titi Banda itu memang sesuatu yang dibuat sebagai ikon untuk dilihat dan dikagumi, bukan untuk dinikmati.

Tapi begitulah patung-patung di Bali dibangun pada umumnya, megah dan indah. Hanya untuk dilihat dan dikagumi, bukan untuk dinikmati.

Mari berkaca pada Patung Titi Banda dan patung-patung lainnya seperti Patung Dewa Ruci di perempatan antara Jalan By Pass Ngurah Rai dan Jalan Sunset Road, Kuta.

Pertama dari lokasinya. Dia berada di pinggir kota. Tidak di tempat di mana warga kota biasa melakukan aktivitas seperti di Taman Kota Denpasar di Lumintang atau Lapangan Puputan Badung di depan kantor Wali Kota.

Kedua tidak ada tempat parkir di sana. Warga dan turis mungkin tertarik untuk berhenti dan foto dengan latar belakang patung tersebut. Tapi, tidak ada tempat aman dan nyaman untuk berhenti.

Di dalam kota Denpasar juga ada beberapa patung baru seperti di perempatan Jalan Veteran – Jalan Nangka – Jalan Patimura. Terlihat bagus karena sekilas seperti sastrawan atau budayawan. Patung itu membawa semacam buku, bukan senjata seperti patung pada umumnya.

Tapi posisinya terlalu tinggi. Terlihat berjarak dengan orang yang lewat.

Patung serupa juga ada di perempatan Jalan Hasanudin – Jalan Imam Bonjol – Jalan Thamrin, Denpasar. Tapi ya begitu: patungnya bagus tapi terlalu tinggi dan minim informasi.

Saya membayangkan seandainya patung-patung itu dibuat lebih dekat dengan warga. Tidak terlalu jauh. Tidak terlalu tinggi. Dan yang lebih penting jika berisi informasi tentang (si)apa patung itu dan apa pentingnya buat publik atau kota tersebut.

Patung itu penting, menurut saya. Di beberapa kota malah jadi penanda alias land mark. Misal Patung Liberty di New York, anak kecil pipis alias Manneken Pis di Brussels, dan lain-lain.

Lima, ibu kota Peru juga memiliki banyak patung di kotanya. Salah satu yang saya ingat adalah patung Antonio Cisneros di daerah Miraflores, Lima. Patung sastrawan Peru ini berdiri di pinggir taman dengan nama dan bio singkatnya. Siapa saja yang mau bisa melihat dan mendekat atau bahkan menyentuhnya.

Patung-patung di Denpasar atau Bali seharusnya dibuat begitu. Indah dan ramah pada warga. Biar kita tak cuma bisa melihat dan mengagumi tanpa tahu apa maknanya.

2 Comments
  • HeruLS
    January 26, 2015

    Persis pada poin ini, drone jadi punya peran krusial.
    #halah

    ReplyReply

    [Reply]

  • gungws
    February 16, 2015

    sekarang sudah ada tempat nyebrang dan parkir khusus wisatawan, mas ;))

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *