Tetap Pede Motret Meski Amatir

4 Permalink 0

Sampai detik ini, aku tetap tak ngerti urusan teknis memotret.

Meski sudah pernah belajar, tapi ya memang tak serius, aku tetap saja tak memahami soal bukaan, kecepatan (speed), dan tetek bengek urusan fotografi. Sumpah. Teknik ini, bagiku kok menghambat sekali. Berkali-kali belajar tetap saja tak mengerti.

Itu baru urusan motret, belum urusan kamera. Aku tak ngerti sama sekali soal lensa, shutter, dan bla bla bla lainnya. Mungkin karena aku bukan orang teknikal yang dengan mudah paham soal teknis, makanya tak ngerti-ngerti juga.

Hasilnya? Cuek saja sih. Daripada pusing mikir teori-teori fotografi yang tak juga aku pahami, hajar saja. Jepret. Jepret. Jepret. Dengan modal percaya diri, jadi juga kok foto-foto itu. Dan, yah, lumayanlah. Setidaknya aku sendiri puas dengan hasilnya, meski skalanya rerata cuma 7,5 – 8 dari skala 10.

Sampai kemudian pas di Singapura lalu, ada teman yang juga bawa kamera DSLR dan tanya-tanya ke aku. “Bagaimana cara motret yang baik?” tanya Aris Munawar, teman blogger Depok yang ikut kunjungan ke Singapura tersebut.

Gara-gara pertanyaan itu aku baru mikir. Ternyata meski tak ngerti teknis fotografi, ada juga beberapa hal yang bisa dilakukan tukang foto amatir sepertiku. Biasanya sih hal-hal ini yang aku pakai acuan pas motret. Anggap saja sebagai panduan fotografi bagi pemula.

Percaya Diri
Orang yang baru-baru motret biasanya sungkan kalau motret di tempat umum. Salah satu sebabnya, merasa banyak yang merhatiin. Padahal ya ini dia saja yang ke-GR-an. Padahal tak sepenuhnya benar.

Jadi, kalau motret, pede saja. Tak usah ragu-ragu. Deketin saja objeknya. Makin dekat dengan objek yang difoto, biasanya foto juga akan makin jelas.

Ini sesuatu yang memang tak bisa serta merta hilang. Merasa canggung pas mau motret di depan banyak orang. Jadi ya biasain saja. Lama-lama juga canggung itu akan hilang dengan sendirinya.

Cahaya
Kalau motret, usahakan dari posisi yang sama dengan datangnya arah cahaya. Misalnya pada pagi hari dan motret di luar ruangan, maka ambillah foto dari sisi timur objek. Sebab, dengan begitu kita akan mendapatkan cukup cahaya. Semakin tersedia cahaya maka akan semakin mudah mendapatkan warna sesuai aslinya.

Tapi, aku sendiri malah sering banget dengan sengaja melawan cahaya. Paling asyik sih kalau memang membuat siluet. Caranya dengan menjadikan objek foto, misalnya manusia, sebagai semacam “perisai” dari cahaya.

Jadinya, manusia tersebut akan terlihat sebagai bayangan hitam namun di belakangnya justru terang. Hmmm, gimana ya jelasinnya. Intinya, siluet ini menjadikan objek foto terlihat gelap. Jadi tak bakal keliatan wajah objeknya.

Melawan cahaya dengan sengaja juga bisa dilakukan jika yang difoto adalah bayangan objek foto. Contohnya bayangan foto orang berjalan di antara riuhnya banyak orang. Hal-hal seperti ini akan membuat foto terlihat beda.

Angle
Hal pertama yang aku lihat dari foto, hampir selalu, adalah sudut pandangnya dari mana. Kalau pas ramae-rame dengan teman lalu semua mengambil objek foto dari satu sisi, maka carilah sisi lain. Sudut pandang berbeda akan membuat hasilnya juga berbeda.

Salah satu tips sederhana, kalau ambil angle atau sudut pandang ini, ambillah dari bawah biar objeknya keliatan megah. Namun, bisa saja sih sesekali dari atas jika memang butuh gambar berbeda dari teman-teman lain yang sudah mengambil dari bawah.

Komposisi
Komposisi ini kurang lebih bagaimana kita menempatkan objek dalam foto. Contoh gampang adalah motret orang bicara. Tempatkanlah orang bicara ini menghadap ke arah foto yang lebih luas. Misalnya dia menghadap ke kanan di foto, maka tempatkanlah dia di bagian kiri. Dengan begitu dia akan menghadap bidang lebih luas.

Namun, komposisi ini juga bisa penempatan banyak objek dalam satu bingkai. Misalnya ada Singapore Flyer di kanan dan selebihnya hanya jalan raya. Aku sih memilih untuk mengalah dengan sedikit memutar posisi kamera biar dapat komposisi diagonal objek tersebut.

Maka, Singapore Flyer akan terlihat di pojok kanan atas sedangkan jalan akan berakhir di sisi kiri bawah. Keduanya membentuk komposisi diagonal dalam satu foto. Yah, kurang lebih begitulah maksudku.

Bingkai
Satu lagi yang bisa dipakai tukang foto amatir sepertiku, frame alias bingkai. Menurutku sih ini salah satu cara untuk main-main pas motret. Pakailah bingkai di foto tersebut.

Aku sih biasanya pakai jendela, pagar, pintu, atau apa saja yang bisa dipakai sebagai bingkai dalam foto tersebut. Malah kadang-kadang, bagian tubuh manusia seperti ketiak pas berkacak pinggang pun bisa jadi bingkai. Dengan begitu, foto akan terlihat lebih cakep. Ya, setidaknya versiku.

Contohnya foto kubah di Paris ini. Daripada hanya memotret kubah begitu saja, aku pilih untuk menggunakan pintu penghubung di kompleks sekitar Louvre Museum ini sebagai bingkai. Menurutku sih jadi lebih baik daripada cuma kubah begitu saja.

Demikianlah. Sekadar berbagi pengalaman dari tukang foto abal-abal yang sampai sekarang tetap tak paham soal teknis fotografi. 🙁

4 Comments
  • imadewira
    February 23, 2012

    walah.. kalau yang kemampuan segini disebut amatir, lha terus kayak saya apaan ya? haha..

    tapi sepakat, pede aja..

    *seringkali minder juga sih ngeluarin kamera pocket saat yg lain pakai DSLR 🙁

    ReplyReply

    [Reply]

  • HeruLS
    February 23, 2012

    Amatir atau profesional itu hanya soal pilihan untuk menjadi sumber hidup, bukan keahlian.
    Mas Anton amatir? Hih, bohong

    ReplyReply

    [Reply]

  • .gungws
    February 28, 2012

    yg penting kita paham apa yg ingin kita jepret *ambil karet gelang* dan mudah2an pesan itu juga sampai ke oranglain yg melihat…
    demikian 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

  • Syam
    February 29, 2012

    Kalau baca pas paragraf awal rasanya bercermin, saya banget… kecanduan poto2 tapi gak ngerti deh “aturan” bakunya. cuman bisa main di Auto sm feeling saja, ahahaha

    tapi paragraf bawah2nya sih, wow… kl yg kayak gitu sih bukan amatiran :p

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *