Tetap Bekerja dengan Merdeka

18 , , Permalink 0
Seperti biasa, Kamis sampai Minggu adalah waktu untuk bekerja dari rumah. Kalau bukan karena ada liputan keluar kota, empat hari ini aku lebih banyak bekerja dari rumah. Menulis sambil momong Bani.

Ini sesuatu yang menyenangkan. Dan terus menerus aku syukuri. Di antara padat pekerjaan, aku bisa menemani Bani. Main, belajar, bobo, bercanda, dan melakukan banyak hal bersama Bani di rumah atau sesekali keluar rumah. Tapi kadang juga sekaligus jadi bapak, tidak hanya sebagai teman. Mandiin, nyuapin, cebokin, dan seterusnya.

Pekerjaanku saat ini mungkin tak lazim bagi banyak orang. Begitu pula mertuaku. Ketika di Nusa Lembongan untuk tahun baruan dan bakti sosial bareng Bali Blogger Community seminggu lalu, Mek Ngah –dari kata Memek dan Nengah Kariani- mertuaku, kembali bertanya bagaimana sih cara kerjaku. Ini pertanyaan yang berulangkali sudah disampaikan.

Pak Ngah, bapak mertuaku, juga berulang kali meyakinkanku. “Itu karena memek belum paham saja dengan pekerjaanmu,” kata Pak Ngah.

Menurutku, Mek Ngah memang agak khawatir kalau aku tidak bisa cukup membahagiakan anak cucunya. Hehe. Namun, sebaliknya, Pak Ngah justru terus mendukungku.

Pekerjaanku sebenarnya sangat jelas. Senin sampai Rabu aku kerja full day di salah satu LSM Internasional di bidang pertanian berkelanjutan (PB). Aku di bagian penerbitan SALAM, majalah tentang PB sebagai editor part time. Selama office hour, dari 8 pagi hingga 5 sore, aku lebih banyak duduk manis di depan komputer sambil mencari tulisan, meminta artikel dari penulis, mengedit, dan semacamnya.

Karena terhubung dengan internet sepanjang hari, maka aku juga bisa tetap bekerja untuk tempat lain, sekali-kali, eh sering kali, ding. Oportunis dikitlah. Hehe..

Pekerjaan lain itu misalnya menulis untuk media lain entah media nasional atau media asing. Ini tidak tetap penghasilannya dibanding kerja part time itu. Tapi kalau rajin bisa lebih dari yang aku dapat dari tempat kerja part time. Besarnya, bagiku, lebih dari cukup. Oh ya soal cukup tidak cukup ini kan juga memang tergantung orangnya. Jadi bagiku cukup mungkin tidak bagi orang lain.

Di luar tiga hari jadi anak baik-baik itu, aku lebih banyak kerja freelance. Sering kali memang menulis. Maklum, cuma itu bisaku.

Karena bekerja secara lepas, maka aku harus mencari isu di luar yang sudah ditulis media-media lain. Atau sekali-kali mendalami apa yang sudah ada di media. Waktunya antara Kamis sampai Sabtu itu.

Mengatur waktunya fleksibel saja. Kalau memang harus pagi ya berangkat pagi. Kalau lagi pengen santai-santai ya siangan baru keluar. Lebih banyak sih keluar antara 3-4 jam. Habis itu pulang, kembali main sama Bani.

Konsekuensi dari bekerja semacam ini adalah pendapatan memang tidak tetap. Sebab tidak semua tulisan yang aku buat pasti akan dimuat oleh media tempat aku mengirim tulisan itu. Parahnya kalau liputan itu sudah dilakukan jauh-jauh keluar kota tapi tidak dimuat. Makanya kadang-kadang juga harus siap makan hati.

Akibat lainnya, bekerja juga tidak tetap waktunya. Kadang bisa menulis sampai dini hari. Ini sih kadang karena sambil blogging atau facebooking. Hehe..

Tapi hal-hal seperti itu, bekerja sampai dini hari, keluar kota berulang kali, atau makan hati gara-gara tulisan tidak dimuat itu sesuatu yang tidak terlihat oleh orang lain. Makanya, orang seperti ibu mertuaku, melihat aku seolah-olah lebih banyak bersantai-santai. Padahal ya tidak juga.

Di balik banyak bersantai-santai itu, aku bekerja keras juga kok. Tapi toh aku menikmati itu semua. Mungkin karena aku memang memilih bekerja dengan merdeka. Tidak menyerahkan semua waktu kerjaku pada satu tempat yang tetap. Jadi, meminjam kata Karl Marx, aku tidak sampai terasing gara-gara pekerjaanku..

18 Comments
  • hariesaja
    January 9, 2009

    Ini kunjungan pertamaq. Enak juga cara nulisnya, salam kenal dan terimakasih sudah berkunjung ke blog saya. Salam dari Kalsel.

    ReplyReply

    [Reply]

    antonemus Reply:

    makasih kunjungannya, mas. salam kenal..

    ReplyReply

    [Reply]

  • ahead
    January 9, 2009

    enak bener kerjanya………
    nice job.

    ReplyReply

    [Reply]

    antonemus Reply:

    dibuat enak aja. :p

    ReplyReply

    [Reply]

  • christine
    January 10, 2009

    That is not the matter of where u stand, but the matter of where u move… Enjoy it!! bro…

    ReplyReply

    [Reply]

    antonemus Reply:

    tengs for that, christine..

    ReplyReply

    [Reply]

  • Anwar
    January 10, 2009

    Bagi ilmunya dong biar bisa kerja santai, duit tebal dan hati senang!
    happy week end bro!!!

    udah lama jadi blogger ya?

    Sukses slalu……..
    Anwar

    ReplyReply

    [Reply]

    antonemus Reply:

    hehe. semua tersedia di internet, mas. cek aja di sana. 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

  • soul
    January 10, 2009

    sukses

    ReplyReply

    [Reply]

    antonemus Reply:

    sukses juga. :p

    ReplyReply

    [Reply]

  • didut
    January 10, 2009

    gutlak bli 😀

    ReplyReply

    [Reply]

    antonemus Reply:

    gutlak juga. )

    ReplyReply

    [Reply]

  • coratcoretdotcom
    January 10, 2009

    Yah, kerja apapun itu emang harus dengan perasaan happy dan serius. Situasi kita sementara ini sama ton, You are not alone 🙂

    aku suka endingmu “Jadi, meminjam kata Karl Marx, aku tidak sampai terasing gara-gara pekerjaanku..”

    aku dah ngerasain dan rsanya? keringgggggggggggg

    ReplyReply

    [Reply]

  • Tumik
    January 11, 2009

    merdeka..

    ReplyReply

    [Reply]

  • domba garut!
    January 11, 2009

    Wah ini dia nih… kombinasi profesinalisme dan sosialisme :D.. cita2 jadi seperti sampeyan deh bisa kerja santai 😀

    ReplyReply

    [Reply]

  • PanDe Baik
    January 12, 2009

    Om AnTon : “……melihat aku seolah-olah lebih banyak bersantai-santai. Padahal ya tidak juga. Di balik banyak bersantai-santai itu, aku bekerja keras juga kok…..”

    PanDe Baik : “…..berusaha terlihat seolah-olah bekerja keras, padahal ya gak juga. Dibalik itu, saya malah santai-santai kok. He…. “

    ReplyReply

    [Reply]

  • imcw
    January 12, 2009

    Yah, namanya orang tua pasti berharap anak anaknya bekerja dan bekerja menurut mereka adalah kerjaan kantoran yang berangkat jam 7 pulang jam 5 hari sabtu dan minggu libur.

    Untungnya keempat orang tua saya tidak mempermasalahkan apa yang saya kerjakan.

    ReplyReply

    [Reply]

  • wira
    January 16, 2009

    yang penting tetap nge-blog pak..

    biar ga kayak saya, belakangan ini jarang bisa online, blog jadi terlantar

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *