Tentang Kegalauan Seorang Teman

6 Permalink 0
Dua minggu lalu, seorang teman berkata sambil menahan kecewa. “Gimana sih perasaanmu ketika ada orang mengeluh padamu dan kamu tidak bisa membantunya?” Teman yang suka cengengesan itu kali ini berkata lalu menahan nafas. Aku lihat wajahnya seperti tertekan oleh pertanyaannya sendiri.

Teman itu, seorang perempuan, bercerita tentang teman-temannya yang meninggal satu per satu karena infeksi oportunistik, sakit akibat AIDS. Dia ingin mengajak teman-temannya, yang juga kukenal, agar berobat ke rumah sakit. Tapi sebagian besar tidak bisa berobat karena tidak punya cukup biaya. Kalau sudah soal biaya, teman itu tidak bisa membantu lagi. Maka dia tak bisa berbuat banyak.

Saat itu, aku hanya diam. Merasakan kehilangan, karena sebagian yang sudah meninggal itu juga aku kenal, meski hanya wajah dan nama. Tapi aku tak bisa merasakan rasa bersalah yang ada di hatinya ketika ada orang minta tolong sementara dia tak bisa membantu.

Lalu, hari ini merasakan yang teman itu rasakan. Perasaan merasa tidak berguna karena tak bisa membantu banyak. Ketika seorang teman lain, yang bagiku sangat tegar, bercerita sambil menyeka air matanya. Dia bercerita dengan tertahan. Seperti berusaha meyakinkan diri bahwa dia tegar. 

Tapi air mata itu merembes di pipinya. Juga raut wajah itu tak bisa menyembunyikan gundah hatinya.

Perempuan itu, tempat di mana aku pernah belajar tentang ketegaran, kini kembali terbuang. Dihempaskan oleh harapan, yang berhak dia dapatkan. Dia berhak!! Bukan untuk dicampakkan dengan alasan apa pun!!

Dia bercerita dan aku mencoba untuk mengabaikannya agak tak larut dalam kegalauannya. Hanya karena aku merasa tak bisa berbuat banyak selain mendengarkan. Aku merasa berdosa. Lalu menemaninya menyeka air mataku sendiri ketika menulis ini. Tegarlah, perempuan..

No related content found.

6 Comments
  • iman brotoseno
    October 31, 2008

    saya merasa perempuan itu bisa seperti ibu pertiwi, yang masih galau. Entah sampai kapan.
    Salam

    ReplyReply

    [Reply]

  • wira
    October 31, 2008

    *menarik nafas

    ReplyReply

    [Reply]

  • agoenk03
    October 31, 2008

    Wah artikelnya bagus banget, mengenai perempuan. Saya senang perempuan jaman sekarang banyak yang sudah emansipasi…..
    😀

    ReplyReply

    [Reply]

  • Arie
    October 31, 2008

    tegarlah perempuan … dan akupun menyeka air mataku dibalik senyuman

    ReplyReply

    [Reply]

  • sherly
    November 1, 2008

    Dengan mendengarkan sharingnya, itu sudah banyak membantu, itu yang kutemukan di dalam hidup ini…
    Sangat susah menemukan pendengar yg baik di dunia ini…
    met weekend yah.

    ReplyReply

    [Reply]

  • erickningrat
    November 1, 2008

    hmmmm….
    dalem juga…

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *