Tak Usah Galau Kalau Di-unfollow

27 , , Permalink 0

Rasanya ada sebagian dari diri yang hilang ketika follower berkurang.

Padahal, dunia maya kadang tak seiring sejalan dengan dunia nyata. Meski tak lagi follow di Twitter, bukan berarti orang yang unfollow itu kemudian tak berteman.

Sebaliknya, ketika meng-unfollow orang di Twitter. Ada sedikit perasaan tak nyaman sebenarnya. Agak kasihan dengan si pemilik akun yang mungkin berpikiran sama denganku: tak senang karena followernya berkurang. Tapi, bagaimana lagi. Aku sudah tak tahan. #lebay

Bagiku, yang sebenarnya tidak tegaan, ada beberapa alasan unfollow seseorang. Ini di antara sekian alasan unfollow tersebut.

Terlalu banyak RT
Bawaannya males kalau lihat garis waktu (time line) seseorang isinya cuma retwit, retwit, dan retwit alias RT, RT, dan RT. Menurutku ada tiga jenis penyalahguna RT alias RT abuser ini.

Pertama, mereka yang kerjanya memang hanya RT dan RT. Kesannya dia tidak kreatif karena bisanya cuma meretwit kicauan orang. Cuma sesekali, sih, wajar. Fungsi Twitter kan salah satunya sebagai amplifier alias menerukan informasi itu. Tapi, kalau terus-terusan RT, ya, jelas tidak layak difollow.

Penyalahgunaan RT kedua adalah menggunakan RT untuk menjawab (Reply). Ini, sebenarnya debatable. Ada yang totally menyebut RT untuk menjawab itu sebagai penyalahgunaan. Tapi ada juga yang masih memperbolehkan. Contoh RT untuk menjawab itu begini. Sip RT @antonemus @13Rudi rud, sori tadi ga balas SMS. pulsa habis. silakan kasih kontakku ke dia yg tak boleh disebut di sini. 🙂.

@13Rudi ini sebenarnya hanya menjawab kicauan @antonemus yang menyebutnya dalam kicauan. Kalau dia hanya menjawab Sip, si @antonemus itu juga akan tahu. Tak perlu menjawab dengan RT.

Namun, bagiku, RT untuk menjawab boleh saja asal pertanyaannya memang pendek. Dengan cara ini orang yang tidak tahu konteks kicauan tersebut bisa segera tahu tanpa harus klik In reply to di bawah aku si pengicau.

Ketiga, RT bisa sampai dua atau tiga dalam satu kicauan. Contohnya ini. Puny band indie? RT “@DodeDode: 😀 RT @thanintaann: Tag @whiterosebali @MyMiniTamagochi RT @ayudcempaka: tmen2 yg. Ada tiga RT dalam satu kicauan. Itu bikin males baca ketika melihatnya. Nah, aku paling neg kalau melihat sepanjang garis waktu orang isinya RT, RT, dan RT itu.

Terlalu personal
Ya, tentu saja. Orang bikin akun Twitter itu memang untuk berbagi apa saja terkait pemilik akunnya. Bisa pengalaman, pikiran, perbuatan, perasaan, apa saja. Tapi, kalau isinya benar-benar tidak penting bagiku, untuk apa aku ikuti.

Status tidak penting itu, misalnya, update cuma satu dua kata tanpa makna. Misalnya, garing, kering, miring, piring, dan semacamnya. Lha, kalau dia ratu twitter seperti @sherinamunaf sih oke-oke saja update status satu-satu, seperti merem, melek, cipokan, dan seterusnya. Itu tentu saja wajib diikuti. #twitmesum.

Kicauan terlalu personal ini makin terasa mengganggu kalau aku tidak kenal secara personal baik online maupun offline dengannya sementara dia juga bukan selebritis. Oke-oke saja dia update hal-hal sepele kalau aku kenal secara pribadi. Tidak harus kenal langsung (offline) tapi juga online. Kadang-kadang malah menyenangkan mengikuti status tak jelas begini karena malah bisa bercanda.

Kerjanya jawab kuis
Salah satu fungsi Twitter memang untuk hiburan. Makanya kuis-kuis tidak jelas semacam @kuIsBowBow itu laris manis. Begitu juga dengan kuis-kuis lain. Yap. Hak tiap orang ikut dan menjawab kuis-kuis semacam itu. Kalau hanya sekali dua kali sih sah-sah saja. Lha, kalau seluruh kicauannya yang membanjiri garis waktuku isinya cuma jawab kuis, tentu saja itu akan mengganggu. Buat apa aku ikuti?

Sepi sekali
Bisa jadi ketika dia membuat akun Twitter cuma untuk tahu. Lalu, setelah itu, garis waktunya tak bertambah sama sekali. Sepi. Kalau cuma sehari atau seminggu sih tap apa. Lha kalau sampai berbulan-bulan atau bertahun tak diperbarui juga ya tinggalkan saja. Tidak berguna mengikuti garis waktu yang telah mati suri seperti ini.

Misuh-misuh tak karuan
Alasan ini jarang aku pakai sebenarnya. Apalagi kalau misuhnya dengan tanda pagar seperti #nurdinturun, #bubarkannFPI, dan semacamnya. Justru keren membaca kicauan-kicauan semacam.

Tapi, maki-maki itu jadi aneh kalau aku baca di garis waktu orang yang tak kita kenal secara langsung tentang hal tak jelas yang membuatku juga bingung. Lha, kalau yang misuh itu Raja Jancuk @sudjiwotedjo sih tak apa.

Lebih males lagi kalau baca garis waktu orang itu penuh makian, umpatan, dan semacamnya hanya gara-gara diunfollow. Aduh, kalau diunfollow tak usah melow bin galau. Ambil saja sisi positifnya. Kita harus memperbaiki kicauan biar terdengar lebih merdu dan enak dibaca.

Foto dari memegenerator.net.

27 Comments
  • PanDe Baik
    January 7, 2011

    Bisa jadi akun Twitter saya tergolong yang kategori sepi Timeline. itu karena hingga kini saya blom jua ngerti bagaimana nge RT, de el el… paling hanya sebagai sarana promo tulisan blog, trus selebihnya kalo lagi pengen update saja. jadi ya gag mudeng kalo kelak Om Anton bakalan memutuskan hubungan via Twitter dengan saya… hehehe…

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    ah, kalau sama bli pande sih saya tidak berani unfollow meskipun suka RT sembarangan. :p

    ReplyReply

    [Reply]

  • Cahya
    January 7, 2011

    Gimana ya Mas, itu kembali ke masing-masing personal. Saya tidak ada masalah apapun…, mau di-RT silakan, kalau nanti ada masalah privat yang memang “tidak selayaknya” muncul ke publik, ya kan bisa lewat DM atau email :).

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    karena kembali ke masing2 orang itulah makanya unfol saja kalo ada yg sudah berkali2 diingatkan utk gak abuse. simpel toh? 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

  • Sukra Sudiarsa Wyn
    January 7, 2011

    Saya rasa betul sekali apa yang disampaikan oleh Mas Anton, ini menambah wawasan saya. Bagaimana kita harus bijak mengunakan jejaring sosial ini sebagai sarana komunikasi dan hiburan yang bisa membawa dampak yang dahsyat ini. Sehingga sama-sama menguntungkan bagi pengikut dan yang diikuti. Jadi jangan salahkan ibu mengandung bila di unfollow,, kalau masih belum terima maka kembali saja ke rahim sang ibu. 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    hahaha. aku suka kutipannya, jangan salahkan bunda mengandung bila diunfollow. 😀

    ReplyReply

    [Reply]

  • Den
    January 8, 2011

    Tips: gak usah follow tapi mau tetep memantau tweet ybs, masukkan ke Twitter List, contoh: http://twitter.com/15june/humor

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    lha kalo gitu sih mending follow, den. kita unfollow kan karena merasa terganggu. buat apa dia dimasukkan list kemudian. :p

    ReplyReply

    [Reply]

  • imadewira
    January 10, 2011

    saya termasuk pemula di Twitter, beberapa kali memang saya follow seseorang tapi ketika bosen ya saya unfollow lagi.

    Tapi kalau itu teman yang benar2 kita kenal, dan doyan RT, gimana ya.

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    nah kalo benar2 teman ya tetep saja difollow. tapi difilter atau dimute saja. kan dia jg gak bakal tahu. 😀

    ReplyReply

    [Reply]

  • agus widiantara
    January 18, 2011

    ya, insfitratif/……

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    terimakasif. :p

    ReplyReply

    [Reply]

  • BBB
    February 5, 2011

    Menarik postingannya, maju terus blogger Bali..ngeTwett terus..hehe. Bila ada kesempatan kunjungi kami yah disini atau berkenan untuk bertukar link.
    Salam kenal.

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    maju terus barang bekas bali. 😀

    ReplyReply

    [Reply]

  • imcw
    February 9, 2011

    Saat ini saya follow 400an akun di @blogdokter, kebanyakan yang saya follow adalah jurnalis, tokoh masyarakat dan media serta beberapa seleb yang infomatif.

    Yang paling saya tidak suka di twitter adalah permintaan untuk follback, jarang banget saya tanggapi, alasannya, nggak suka dipaksa paksa buat ngikuti seseorang. Kalau dia perlu dia yang cari saya bukan saya harus membututinya. (sadis ya) 🙂

    Berdasarkan kiriman @mrunfollower, tiap minggu saya di unfollow sekitar 40 akun. Lumayan ya. 🙂 Ketika follower kita sedikit sih sedih banget tetapi begitu follower banyak, cuek aja. 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    ah, pak dokter sih diunfollow 40 tapi yg follow tiap hari ribuan. jad ya tenang2 saja. lain sama yg masih fakir follower. 😀

    ReplyReply

    [Reply]

  • gekmirah
    February 19, 2011

    saya malahan gak punya follower serius 🙁
    follower2 saya cuma temen2, itu pun karena mereka minta di follback, makanya mem-follow saya.. tragiss.. hhehhehehe..

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    kalo gitu mari kita saling follow. 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

  • .gungws
    February 22, 2011

    saya malahan seneng klo ada follower yg meng-unfollow saya..berarti mereka sudha sadar akan kekhilafan mereka.huhaha

    @bli wira: pertama kasi tau dengan sopan, kemudian sindir2, klo ga mempan..dan kalau twit2nya sudah sangat mengganggu visual timeline, unfollow! \m/

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    biar aku unfollow kamu aja, gung. biar kamu bahagia. 😀

    ReplyReply

    [Reply]

  • @SenggOL
    February 22, 2011

    sekali sekali boleh di klik tulisan ‘in reply to … ‘ di bagian bawah timeline. setidaknya dapat mengurangi jumlah (pak) RT yang ada di timeline, banyak pemilik akun twitter belum tahu ada fasilitas ini..

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    aku juga dulu belum tahu, mas. pernah jadi RT abuser. tapi setelah dikasih tau ya belajar. tak lagi mengulangi kesalahan. anehnya kan kalo udah dikasi tau tapi tetep aja ngeyel abuse.

    ReplyReply

    [Reply]

  • Rusa
    March 1, 2011

    gak follback dan diunfoll bukan berarti gak pengen temenan koq
    karena twitter bukan situs pertemanan

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    ya, kakak selebritis. :p

    ReplyReply

    [Reply]

  • saylow
    January 5, 2012

    Kakaaaa folbeeekkk dongggg!!!

    ReplyReply

    [Reply]

    tukang ojeg Reply:

    aku juga kakakkkkk!! :)) RT Kakaaaa folbeeekkk dongggg!!!

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    KALIAN BERDUA FOLBEK AKU YA!!

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *