Tak Suka, Maka Unfollow Saja?

4 , , Permalink 0

Mau diajak diskusi kok malah menyuruh pergi.

Kurang lebih begitulah kesanku pada mereka yang dengan santainya ngetwit, “Kalau tak suka twitku ya unfollow saja.” Aku dua atau tiga kali mendapatkan balasan seperti itu ketika coba beradu argumentasi dengan orang yang ngetwit isu tertentu.

Biasanya sih aku nyamber karena tak setuju dengan kicauan si teman tersebut. Bagiku wajar. Namanya diskusi kan selalu ada pro kontra. Cuma jadi tak asyik ketika si orang yang ngetwit bilang untuk unfollow saja. Kesannya itu dia dengan santainya menyuruh kita pergi. Padahal niatnya ngajak diskusi.

Begini. Twitter itu ruang terbuka di mana setiap orang bisa terlibat di dalamnya. Itu ruang publik, tempat di mana siapa saja bisa terlibat di dalamnya.

Anggap saja Twitterland serupa pasar. Di pasar itu warga berkumpul dan berbicara menurut  kesukaan (preferensi) masing-masing. Ada yang suka dengan motivasi, maka dia berkumpul dengan sesama pecinta motivasi. Mereka rame-rame mendengarkan siraman rohani. Namun, ada yang suka nglawak maka ngumpul di tempat di mana ada pelawak.

Uniknya, setiap orang di pasar ini juga bisa jadi pemain, tak cuma penonton. Pola interaksi ini mirip skema World Cafe dalam salah satu metode diskusi. Tiap orang bisa datang dan pergi kapan saja dia mau.

Kerumunan itu dibentuk oleh orang per orang. Di sana ada interaksi. Ada diskusi. Ada tanya jawab. Ada pro kontra.

Begitu pula di Twitterland. Bagiku dia tak hanya tempat berinteraksi tapi diskusi. Ada dialog. Dan itu mencerahkan. Bukankah sintesis lahir dari tesis dan antitesis. Kesimpulan dihasilkan lewat pertanyaan, jawaban, gugatan, dan seterusnya.

Karena itu pula, menurutku, Twitterland seharusnya bisa jadi tempat diskusi. Kalau ada yang tak setuju dengan pendapat kita ya direspon sebisanya. Kalau tak cukup data atau fakta, cari dulu tambahan informasinya untuk memperkuat argumentasi. Dengan begitu kita belajar.

Kalau ternyata kita memang tak benar, terutama fakta, bukan opini ya akui saja kita memang tak benar. Sebaliknya, kalau memang benar ya ngototlah bahwa itu benar. Sodorkan bukti. Kuatkan argumentasi.

Tapi ini tak berlaku untuk opini. Menurutku urusan opini itu urusan subjektif. Tiap orang bisa berbeda satu sama lain. Tak usah dulu membandingkan dengan orang lain. Lha wong kadang dengan diri sendiri saja bisa berubah-ubah sesuai situasi kok. Dulu merasa ngeblog paling asyik. Eh, pas ketemu Facebook langsung hilang keasyikan ngeblognya.

Karena itu, jika memang punya pendapat ya silakan. Mari beradu pendapat. Berdebat. Jangan sebaliknya, karena tak setuju didebat lalu menyuruh orang lain minggat. Tak asyik..

No related content found.

4 Comments
  • sireum
    May 15, 2012

    Follow me dong…
    Akunku sireummm

    ReplyReply

    [Reply]

  • Pande Baik
    June 1, 2012

    Selama ini twitt cuma buat ngalor ngidul, baru berubah setelah diMention Dokter Made… untuk diskusi ya memang ketika gag tau jawabannya terpaksa di lempar balik lagi nanya ke yang lain :p

    ReplyReply

    [Reply]

  • imadewira
    June 7, 2012

    Yang saya lihat, sebagian akun di twitter memang begitu om, bahkan akun-akun yang punya banyak follower. Begitu ada perbedaan pendapat, dengan santainya dia menyuruh unfollow saja. Ya mungkin akun tersebut tidak punya waktu untuk berdebat/berdiskusi dan lebih suka menjawab mention-mention yang searah dengannya.

    Untungnya itu cuma di twitter, coba kalau dalam dunia nyata. Ketika kita tidak nyaman dengan perkataan seseorang di warung kopi, lalu kita ajak diskusi dan kita disuruh tutup kuping atau pergi saja. Hehe

    ReplyReply

    [Reply]

  • BangKoor
    June 20, 2012

    aku rasa itulah alasan kenapa aku telat masuk ke dunia twitter. Dulu aku mikir, konsep twitter itu kurang bagus. Semua tumplek blek di satu ruang. Semua berkicau bebas, tanpa arah yang sama. Semua bebas nimbrung, tanpa ada aturan yang pasti. Terkadang malah terjadi salah komunikasi. Konsep follow rasa-rasanya membuat kesenjangan yang besar antara “pengikut” dan yang “diikuti”. Pihak yang “diikuti” seakan-akan besar kepala karena banyak pengikut, dan merasa kicauannya adalah mutlak benar adanya. Hingga akhirnya bisa muncul seperti apa yang mas anton utarakan…

    yang mau ngoceh sama saya, follow @BangKoor. Saya follow balik..

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *