Tiada Henti Judi di Bali

14 , , , Permalink 0

Karena lama tidak ngobrol dengan tetangga di gang rumah, malam ini aku ikut kumpul dengan mereka. Tempatnya di halaman salah satu warga. Biasanya sih para lelaki tetangga ini pada kumpul di gang saja. Tapi tumben malam ini di halaman rumah jadi tidak kelihatan dari jalan.

Oalah. Pantes. Ternyata mereka sedang main kartu. Enam orang duduk melingkar. Satu di antaranya masih SMP. Sisanya sudah sudah punya anak semua. Hampir semuanya bertelanjang dada di suhu Denpasar yang memang panas malam ini.

Membicarakannya Memang Lebih Mudah

7 , , , , Permalink 0

Membincangkan kemiskinan memang lebih mudah daripada menyelesaikannya. Begitu pula di kegiatan Stand Up: Take Action, End Poverty Now, Minggu kemarin.

Di tempat diskusi beralas karpet merah, tiga pembicara dengan satu moderator itu pun asik mendiskusikan tentang kemiskinan. Ni Made Sumiati, anggota DPRD Bali, menegaskan bahwa, “Bali memang masih memiliki warga-warga miskin terutama di Karangasem.”

Dunia Tanpa Kemiskinan Bukanlah Impian

9 , , , , Permalink 0

Muhammad Yunus

Perdagangan global itu seperti ratusan jalan tol. Perlu ada yang mengatur: batas kecepatan, lampu merah, batas ukuran kendaraan, dan seterusnya. Tanpa aturan, maka truk-truk besar dengan kecepatan tinggi saja yang bisa melewatinya. Aturan tidak hanya akan membuat kendaraan-kendaraan kecil punya kesempatan menggunakan jalan tapi juga disejajarkan dengan kendaraan yang lebih besar.

Tapi bagi Muhammad Yunus, peraih hadiah Nobel Perdamaian 2006, aturan saja tidak cukup. Kendaraan-kendaraan kecil itu harus diberikan jalan yang lebih baik. Sebab dalam praktik selama ini, jalan besar bebas hambatan itu tak hanya menghilangkan kesempatan tapi juga menyingkirkan kendaraan-kendaraan kecil tersebut.

Aksen “a” Para Penunggang Kuda

6 , , , , Permalink 0

Bahasa Jawa itu punya banyak dialek atau logat. Satu tempat berbeda dialek dengan tempat lain. Karena beda dialek ini, dua orang yang berbicara pun kadang bingung pada makna kata lawan bicaranya satu sama lain meski sama-sama ngomong Bahasa Jawa.

Ini aku alami pula ketika di Bromo, Probolinggo. Pembicaraan sesama penunggang kuda yang memandu perjalanan ke puncak Bromo terdengar asing bagiku. Padahal mereka semua berbincang dalam bahasa Jawa, bahasa yang aku akrabi bahkan sejak aku belum lahir.

Caretakers dedicate themselves for the elderly

Anton Muhajir, The Jakarta Post, Denpasar | Mon, 03/23/2009 1:24 PM | Bali

It was 5 p.m. at the Panti Sosial Tresna Werdha Wana Seraya elderly nursing home in Kesiman, East Denpasar district, when 85-year-old Ni Ketut Suntreg whispered – to her volunteer caretaker Tri Sukristawati – she wanted a bath.

Suntreg was sitting with her friend on the veranda of one of several pavilions in the nursing home, before Tri took her to bathe.

Mereka yang Renta dan Terbuang

2 , Permalink 0
Tubuh-tubuh renta itu menyambutku ketika aku sampai di Panti Sosial Tresna Werdha Wana Seraya Kesiman sore tadi. Dengan tubuh makin rapuh, mereka hanya bisa diam di tempat tidur. Duduk, tidur, makan, minum, kencing, bahkan buang air besar pun mereka lakukan di kasur dengan sprei putih kusam itu.

Fisik itu memang tidak bisa lari dari waktu yang terus berlalu. Begitu pula mereka, sebagian penghuni panti lansia tersebut. Tubuh mereka tak lagi bisa bekerja seperti normalnya tubuh pada umumnya. Bahkan untuk mendengar pun mereka tak bisa. Mereka tidak bereaksi apa pun ketika aku ajak ngobrol dengan bantuan salah satu relawan.

Perjalanan Menyenangkan ke Nusa Lembongan

31 , , , , Permalink 0
Sampai hampir pukul 7.30 Wita, mobil pick up yang kami pesan tak juga datang menjemput ke rumah. Padahal semalam sebelumnya kami sudah bilang ke pemilik pick up, tetangga kami di jalan Subak Dalem di pinggiran Denpasar Utara, untuk datang menjemput pukul 7 pagi.

Kami harus berangkat awal karena harus mengambil papan petunjuk jalan yang akan dibawa ke Nusa Lembongan juga jemput bapak ibu yang akan ikut ke sana untuk sembahyang sekalian jalan-jalan. Apalagi Bunda juga harus beli tiket untuk teman-teman yang akan ikut ke pulau seberang tersebut. Jadi harus berangkat lebih awal.

Rights groups face classic problems

0 , , , , Permalink 0

Anton Muhajir, The Jakarta Post, Denpasar | Wed, 12/17/2008 11:12 AM | Bali

Bali’s human rights organizations were still embroiled by classical, internal problems diminishing their capability to implement their agendas, an activist said during a civil society gathering last week.

“Efforts to implement human rights agenda in Bali are still hampered by a lack of coordination among the human rights organizations,” chairwoman of the Indonesian Legal Aid Association’s (PBHI) Bali Chapter Nyoman Sri Widiyanthi said.

Pemulung Silakan Masuk

7 , , Permalink 0
Pemulung itu berjalan tak jauh dariku. Dia menyusuri jalan Morotai Sanglah Denpasar ketika aku sedang mengetuk pintu gerbang rumah Nyoman Sutawan Kamis kemarin. Aku mau wawancara guru besar Fakultas Pertanian Universitas Udayana Bali yang juga ahli subak tersebut.

Tadi, di ujung utara ketika masuk jalan kecil ini aku lihat ada papan bertuliskan, “Pemulung Dilarang Masuk.” Peringatan ini sangat mudah ditemukan di berbagai tempat di Denpasar. Biasanya di gang kecil atau kompleks perumahan agak elit. Begitu pula di jalan di mana aku bertemu dengan pemulung tersebut.

Megibung as Part of Social Revolution

26 , , , , Permalink 0

Semua seperti melebur malam itu. Komang Bowo, yang aku pikir anak baik-baik, seperti halnya Noviar, ternyata berubah menjadi brutal. Mereka tertular penyakit gak tau malu dari Putu Hendra alias Saylow, babi jenius non longor di Bali Blogger community (BBC). Mereka berpose layaknya penari jaipong dengan balutan kebaya dan sarung yang ketat memperlihatkan lekuk tubuh.

Ah, bukannya merangsang hasrat laki-laki, mereka malah menantang nafsu kami untuk menimpuki. Hahaha..