Memberi Bintang untuk Anak Kesayangan

5 , , , Permalink 0

Seminggu berjalan, kami melihat bintang untuk Bani lumayan berhasil. Setidaknya hingga minggu ini.

Bintang itu kami berikan setelah selama empat bulan sekolah TK, Bani masih juga terlihat tak menikmati kelasnya. Dia sering tak bersemangat ketika masuk kelas. Dia akan menundukkan kepala, sekali-kali minta ditemenin hingga masuk kelas, atau bahkan tidak mau ditinggal.

Continue Reading…

Belajarlah Jadi Wartawan ke Pasar Guwang

10 , , , , Permalink 0

Dengan bersemangat, Kadek Juana Setiawan dan 11 temannya berjalan melintas tempat parkir Pasar Seni Guwang, Sukawati, Gianyar Minggu siang lalu. Namun setelah masuk daerah pertokoan, murid kelas III SD tersebut malah ragu-ragu. “Malu, nok,” kata Kadek. Teman-temannya mengiyakan.

Mereka tak jadi masuk pasar yang menjual berbagai souvenir tersebut. Dengan agak ragu, mereka membalik langkah lalu menuju deretan toko lain yang menjual makanan, bukan souvenir. Mereka kemudian melihat satu per satu penunggu toko yang menjual minuman dan makanan tersebut.

Continue Reading…

Menangisi Kembali Laskar Pelangi

7 , , Permalink 0
Wow, lama sekali aku gak ngeblog. Lebih dari seminggu nok. Mungkin karena semangat ngeblog memang makin berkurang gara-gara Facebook. *ngeles. Jadi ya sudah. Tulis saja soal nonton layar tancap di Taman 65 tadi.

Barusan kami kembali menonton Laskar Pelangi, film yang diangkat dari novel laris Andrea Hirata dengan judul yang sama. Nonton kali ini agak beda. Kalau sebelumnya kami bertiga, -aku, bunda, dan bani- nonton di Wisata 21, yang semalem nontonnya di Taman 65, Kesiman. Mirip layar tancap, pemutaran film untuk banyak orang di lapangan. Penonton juga duduk lesehan.

Meski dalam suasana dan tempat yang berbeda, reaksiku ke film ini juga sama: sesenggukan pas liat beberapa adegan. Padahal ketika baca novelnya, aku merasa tidak ada yang luar biasa seperti yang ditulis banyak orang. Aku merasa, film Laskar Pelangi lebih bisa menyentuh dan membangun kembali ingatanku tentang masa lalu dibanding bukunya.

Continue Reading…

6,5? Hmm, Sepertinya Sih Dapet..

2 , Permalink 0
Soto sapi, menu sarapan pagi itu, tak bisa kuhabiskan. Bahkan separuh pun rasanya tidak. Ada perasaan agak gagap dalam hatiku. Jadi makan pun tidak enak. Menjelang ujian IELTS alias International English Language Testing System bawaanku memang gorgi banget. Gugup. Mungkin karena ada perasaan takut juga bahwa aku akan kesusahan menghadapi soal-soal ujian.

IELTS adalah ujian untuk mengetahui sejauh mana tingkat kemampuan bahasa Inggris seseorang. Aku mengikuti ujian ini dalam rangka berburu beasiswa. Dalam banyak peluang mencari beasiswa, aku selalu saja mentok di sini. Sebab aku memang belum pernah ikut sebelumnya. Jadi tidak ada nilai yang bisa aku pakai untuk nglamar.

Continue Reading…

Bali temple hall moonlights as makeshift classroom

0 , , , Permalink 0

Anton Muhajir, Contributor, Denpasar | Wed, 01/28/2009 3:25 PM | The Archipelago

Eight-year-old Manik Manu Harani likes studying on the floor of the Dharmayana Kongco temple hall in Kuta.

“It is just more relaxing to study here” she said Thursday.

Manik is one of the 25 third-grade students from the state elementary school SDN 1 in Kuta studying at the hall on Thursday afternoons. They all agree that this hall has become a favorite spot for after-school lessons.

Continue Reading…

Bani Petani Kecil Kami

29 , , , , Permalink 0

bani-petani

Hari Minggu pun tiba. Inilah hari ketika Bani akan ikut liburan ke sawah. Bani mau ikut Fun Sunday, liburan sambil belajar ala Yayasan Wisnu. Sejak sekitar pukul 7 kami sudah siap-siap. Sayangnya aku sendiri tidak yakin jam berapa acara akan mulai, pukul 8 apa pukul 9. Tapi kami putuskan berangkat pukul 8.30 saja.

Continue Reading…

Street Kids Ministry provides alternative education for the needy

0 , , , , Permalink 0

Anton Muhajir,  Contributor,  Denpasar | Tue, 09/16/2008 10:27 AM | Bali

The tallest among about 15 children in the room, 11-year-old Ni Wayang Komang shyly sang along with the others, clapping her hands at times.

That day she was joining an alternative school for street children in Banjar (neighborhood organization) Penyaitan, Pemecutan, West Denpasar.

The school, named Street Kids Ministry, accommodates children of low-income families in the banjar.

Continue Reading…