Selebihnya, Biarkan Koin yang Bicara

4 , , , , Permalink 0

Koin untuk Prita

Selasa ini, ribuan koin seberat 18,5 kg telah aku kirimkan lewat jasa titipan kilat Tiki Denpasar. Dari sisi nominal, koin itu mungkin tak banyak, Rp 1.955.776 plus 2 dollar dan 40 cent Singapura. Namun lihatlah maknanya: kami semua peduli pada orang-orang kecil korban peradilan..

Ribuan koin itu mengalir dari berbagai kelompok di Denpasar. Anak-anak SD dan guru, pemuda partai politik, mahasiswa, aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM), ibu rumah tangga, blogger, dan lain-lain. Mereka mengumpulkannya melalui beberapa simpul antara lain Sloka Institute, Bali Orange Communication, Manikaya Kauci, dan lain-lain.

Continue Reading…

Menggunakan Mading sebagai Media Sekolah

9 , , Permalink 0

Oleh Anton Muhajir

Mengenal Mading
Sejak zaman bahuela, manusia sudah senang menyampaikan informasi satu sama lain. Selain untuk bertukar kabar, informasi yang disampaikan itu bisa sekaligus untuk menunjukkan keberadaan. Pada zaman batu, misalnya, manusia sudah menggunakan dinding-dinding gua untuk menyampaikan informasi tersebut. Ini barang kali yang bisa jadi rujukan sejarah awal mula majalah dinding dalam versi bahuela. 🙂

Lewat mading ala manusia zaman batu itu pula kita bisa mencatat bagaimana peradaban manusia pada saat itu. Kita bisa melihat bagaimana hubungan antara manusia dengan alam termasuk hewan dan tumbuhan, juga manusia dengan manusia itu sendiri. Kita bisa melihat kebudayaan manusia pada masa itu lewat lukisan di dinding gua itu. Begitulah, informasi itu sekaligus sebagai dokumentasi tentang kebudayaan mereka.

Continue Reading…