Kiamat 2012 dan Kecelakaan MUI

20 , , Permalink 0

“2012” bisa jadi adalah film terlaris saat ini di Indonesia ini. Di Bandung, menurut koran Pikiran Rakyat, dalam waktu lima hari saja penonton film ini sudah mencapai 90 ribu orang. Sebagai perbandingan, jumlah penonton film laris lain, Harry Potter and The Half-Blood Prince ditonton 77 ribu orang dan Transformers: Revenge of the Fallen 69 ribu penonton.

Di Bali, film ini juga mengundang antrian panjang. Beberapa teman di Bali yang mau nonton film ini terpaksa gigit jari tak jadi nonton karena tak kebagian tiket. Aku baca di Radar Bali, antrian sepanjang itu memang belum pernah terjadi sebelumnya di bioskop-bioskop di Bali.

Continue Reading…

Menangisi Kembali Laskar Pelangi

7 , , Permalink 0
Wow, lama sekali aku gak ngeblog. Lebih dari seminggu nok. Mungkin karena semangat ngeblog memang makin berkurang gara-gara Facebook. *ngeles. Jadi ya sudah. Tulis saja soal nonton layar tancap di Taman 65 tadi.

Barusan kami kembali menonton Laskar Pelangi, film yang diangkat dari novel laris Andrea Hirata dengan judul yang sama. Nonton kali ini agak beda. Kalau sebelumnya kami bertiga, -aku, bunda, dan bani- nonton di Wisata 21, yang semalem nontonnya di Taman 65, Kesiman. Mirip layar tancap, pemutaran film untuk banyak orang di lapangan. Penonton juga duduk lesehan.

Meski dalam suasana dan tempat yang berbeda, reaksiku ke film ini juga sama: sesenggukan pas liat beberapa adegan. Padahal ketika baca novelnya, aku merasa tidak ada yang luar biasa seperti yang ditulis banyak orang. Aku merasa, film Laskar Pelangi lebih bisa menyentuh dan membangun kembali ingatanku tentang masa lalu dibanding bukunya.

Continue Reading…

Selalu Ada Gelap di Balik Gemerlap

0 , Permalink 0

Pernahkah kita berpikir bahwa apa yang kita pakai, apa yang kita makan, atau apa yang kita lihat sehari-hari tidaklah sesederhana adanya?

Pertanyaan itu muncul setelah aku nonton Blood Diamond yang menceritakan bagaimana ironi sebuah permata yang berkilau itu ternyata lahir oleh perang tak berkesudahan dan perjuangan berdarah-darah. Ketika permata itu telah ada di tangan konsumen mereka tak pernah berpikir tentang itu semua. Permata adalah kemewahan. Begitu menyilaukan hingga orang tidak sempat berpikir tentang darah yang mengalir di baliknya.

Continue Reading…