Mereka Tetap Bangga Mengaku Indonesia

3 , , , Permalink 0

SBY membatalkan kunjungan ke Belanda akibat ancaman dari simpatisan Republik Maluku Selatan (RMS). Demikian bencikah orang-orang keturunan Maluku itu pada Indonesia?

Pengalamanku dengan mereka menunjukkah hal sebaliknya. Orang-orang Belanda keturunan Maluku itu selalu saja bangga punya hubungan dengan Indonesia. Memang, sih, ini hanya pengamatan sangat dangkal dari dua kali kejadian. Tapi, aku tetap menangkap kuatnya perasaan bangga sebagai bagian dari Indonesia itu ketika berbincang dengan mereka.

Dari Rimbun Hutan Menjaga Kebebasan

Senin, 3 Mei ini minggu kedua bagi kami di Hilversum, Belanda. Kami, 18 anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI), sedang mengikuti kursus New Media for Independent Journalism di Radio Nederland Training Centre (RNTC) di kota berjarak sekitar 25 km selatan Amsterdam ini. Kursus yang diadakan AJI Jakarta dan Neso Indonesia ini pada 26 April hingga 14 Mei 2010.

Bagiku, tugas-tugas kursus makin hari makin menarik. Hari ini, misalnya, kami mendapat tugas untuk mengambil foto dan -kemudian- video di kawasan Radio Nederland Worlwide (RNW). Aku bersama Komang Wahyu Dhyatmika, wartawan TEMPO yang juga Ketua AJI Jakarta, dalam satu kelompok.

Let's Stoned, Drunk, and Horny in Amsterdam

12 , , , Permalink 0

Di Belanda, atau setidaknya Amsterdam, agama dan kesenangan bukan hal yang dipisahkan. Mereka berdampingan. Maka, bar-bar yang menyajikan ganja (coffee shop) bisa berdampingan dengan gereja, perempuan berjilbab lalu lalang –atau bahkan melihat-lihat– toko peralatan seks (sex shop), desah rayuan perempuan di Red Light District bersahutan dengan genta gereja..

Coffee shop dan Red Light sepertinya memang jadi merk dagang Amsterdam. Buktinya, aneka souvenir di ibu kota Belanda ini berisi tulisan atau pesan tentang dua hal tersebut. Kaos-kaos tentang ganja dan gemerlap dunia malam tak hanya mudah ditemukan tapi juga mendominasi toko-toko souvenir yang berderet-deret sepanjang jalan.

Mudahnya Masuk Negeri Belanda

5 , , , , Permalink 0

Yes. Akhirnya kami sampai juga di Belanda Sabtu pagi sekitar pukul 9 waktu Belanda. Setelah terbang selama sekitar 14 jam, termasuk transit dua jam di Kuala Lumpur, Malaysia, pesawat Malaysia Airlines kami mendarat di Bandara Schipol, Belanda.

Ada 18 orang dalam rombongan ini. Kami semua anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) yang akan mengikuti kursus new media di Hilversum, Belanda. Kursus di Radio Nederland Training Centre (RNTC) ini diadakan oleh AJI Jakarta dan Neso Indonesia.

Berlayar Bersama Prince William di Laut Utara

0 , , , , Permalink 0

Sepiring nasi goreng dengan lauk telur mata sapi terasa sangat nikmat di Graha Wisata Kuningan pada Senin (6/10) malam itu. Diterangi empat senter, sebab saat itu listrik mati, kami bisa berbicara saling terbuka tentang apa yang kami alami masing-masing, juga diselingi itu tadi, nasi goreng!

Malam itu adalah malam terakhir setelah sekitar dua minggu perjalanan sebelumnya kami bersama.

Inilah malam puncak kelelahan fisik maupun mental serta kerinduan akan Indonesia, terutama makanannya. Indonesia ternyata negara yang tetap layak dikangenin, meski hanya ditinggalkan dua minggu. Pada 24 September – 3 Oktober 2003, kami mengikuti Voyage of Understanding (sengaja tetap ditulis dalam bahasa Inggris, sebab agak susah kalau di-Indonesia-kan, J). Pelayaran itu diadakan Encompass Trust dan Sail Training Association (STA).

Selama dua minggu kami mengarungi Laut Utara dari Ipswich (Inggris) ke Hull (Inggris) melewati Den Helder (Belanda) dan Great Yarmouth (Inggris). Selama itu pula perut kami diisi makanan Eropa. Awalnya sih enak-enak aja. Lama-lama kok bosen dengan makanan-makanan itu. Untung ada nasi goreng dengan telur mata sapi yang bisa mengobati kerinduan makanan Indonesia pada malam terakhir di Jakarta itu tadi.

Sebelum berangkat
Awalnya sekitar pertengahan Agustus kami mendapat informasi tentang program tersebut dari Om Heru Suprapto, dari Yayasa Agadhipa Jakarta. Pertama dapat informasi itu kami tidak terlalu yakin dengan program tersebut. Namun, keraguan itu sedikit pupus ketika kami bertemu langsung dengan Om Heru pada seleksi di Travel Perama Jl Legian 39 Kuta.

Kami beruntung karena lolos seleksi wawancara dan tulis dalam bahasa Inggris. Padahal setidaknya ada 14 calon peserta. Masalah muncul ketika salah satu peserta yang sudah lolos seleksi, Anita Devi, membatalkan keikutsertaannya karena tidak diizinkan rumah sakit tempat praktiknya. Pembatalan itu dilakukan sekitar dua minggu sebelum kami berangkat. Padahal Devi sudah bikin paspor segala. Untunglah ada Meydi yang segera bisa mengisi kekosongan tersebut.

Adanya Meydi membuat kami bisa belajar menari janger lebih cepat. Sebab sebelumnya hanya ada Ketut. Jadi sekarang ada dua penari yang bisa ngajari kami nari janger. Selama sebulan kami belajar menari hampir setiap malam di tempat Dewi di Travel Perama Kuta untuk persiapan pertunjukan nanti di Inggris. Selain itu, minggu-minggu tersebut kami juga menyiapkan perlengkapan pribadi dan souvenir untuk Encompass, Braden Family, STA, dan lain-lain.

Persoalan muncul lagi ketika kami dapat kabar dari Dewi bahwa keberangkatan ke Inggris akan dilakukan dari Jakarta. Padahal rencana awalnya dari Bali pada 22 September. Artinya kami harus berangkat dari Bali lebih awal. Ini jadi pikiran.

Rencana awal, selain Dewi dan Ayu, peserta dari Bali akan berangkat ke Jakarta pada 20 September. Eh, tau-tau kami dapat kabar lagi bahwa pada keberangkatan akan dilakukan pada 21 September. Kami pontang-panting. Sebab beberapa peralatan belum lengkap. Selain itu masih ada beberapa agenda yang harus diselesaikan di Bali. Apa boleh buat, kami toh tetap harus berangkat.

Jumat, 19 September 2003, kami berangkat dengan bis Safari Dharma Raya dari Ubung, Denpasar, kecuali Ayu dan Dewi yang naik pesawat. Semuanya diantar keluarganya kecuali aku. [Keciaaan amat ya πŸ™ ] Sampai Jakarta esoknya kami langsung ke Graha Wisata Kuningan. Di tempat ini pula kami pertama kalinya bertemu dengan Amalia Sari Wulan, satu-satunya peserta dari Yogyakarta.

Setelah kumpul semua termasuk Dewi dan Ayu yang telat, kami mendapat pengarahan di kantor Persatuan Basket Seluruh Indonesia (Perbasi) Jakarta dari Om Heru. Pengarahan ini seputar teknis keberangkat juga rencana wawancara dengan wartawan Indopos. Tapi wartawan ini tidak datang esoknya meski sudah bikin janji dengan Om Heru. It’s not a problem. Sebab kami bikin sendiri press release untuk kemudian dikirim ke beberapa media nasional dan lokal di Bali pada 21 September tersebut. Kami tidak tahu apakah ada media yang memuat press release tersebut.

Akhirnya pada Senin, 22 September 2003 sekitar pukul 17.00 WIB kami meninggalkan Indonesia dengan pesawat KLM lewat Bandara Changi Singapura dan Schipol Amsterdam sebelum sampai Bandara Heathrow London esoknya pukul 09.30 waktu setempat. Setelah bertemu Direktur Encompass Trust Jun Hirst, kami menuju Cambridge untuk bermalam di sana sebelum menuju Ipswich esoknya.

Sampai Cambrdige sekitar pukul dua siang. Istirahat sebentar untuk kemudian bertemu dengan empat peserta dari Irlandia lalu jalan-jalan lihat Cambridge University. Capek, namun sangat menyenangkan.

Di Cambridge pula kami pertama kali bertemu Itay Yosef Lachman, satu-satunya peserta dari Israel. Dengan Itay kami sangat bersemangat diskusi soal Islam, Yahudi, Indonesia, Israel, konflik Palestina, bom bunuh diri, agresi tentara Israel, dan semacamnya. Diskusi yang sangat menarik meski agak terkendala bahasa.

Ipswich, 24 September 2003. Cuaca cerah tanpa mendung. Suhu sekitar 15o C tak terasa dingin karena semangat kami ketika melihat Prince William yang begitu gagah menyambut kami. Bersama Prince William kami akan mengarungi Laut Utara selama 10 hari.

Selama Pelayaran
Rabu sore itu kami gunakan untuk mengenali Prince William. Ternyata dia tidak hanya gagah tapi juga ramah dan bersahabat.

Di dalam perut Prince William terdapat 16 anak buah kapal (ABK) tetap dan lima sukarelawan. Sedangkan peserta pelayaran ini ada 40 remaja dari Indonesia (9 orang), Irlandia (4), Israel (1), dan sisanya dari berbagai kota di Inggris. Peserta dibagi jadi tiga watch yaitu Red, Blue, dan White. Tiap watch dipimpin satu watch leader dari sukarelawan.

Kami terpisah. Luh De dan Ayu di White. Aku, Arif, dan Meydi di Blue. Sedangkan Riza, Ketut, Amalia, dan Dewi di Red. Sore itu, secara berotasi tiap watch mendapat pelajaran tentang bagaimana mengenakan harnes, naik turun tiang kapal, serta mengendalikan arah kapal. Hari pertama diakhiri dinner dengan menu ayam rebus pakai kecap. Setelah itu acara masing-masing. Kami memilih istirahat di kapal ketika peserta lainnya ngebir dan ngebar.

Hari kedua, kami meninggalkan Pelabuhan Ipswich. Kami breakfast sekitar pukul 07.00 dengan menu corn, susu, telur, dan daging. Enak juga. Setelah itu kami mendapat brifing dari Chief Officer Mike Lovegrove seputar perjalanan yang akan kami tempuh.

Oya, dua hari pertama di kapal, beberapa peserta dari Indonesia diwawancarai wartawan media Inggris seputar kegiatan tersebut. Mereka yang diwawancarai adalah Amalia, Dewi, Ketut, dan Riza. Sayang, kami lupa nanya nama medianya.

Pukul 11 siang kapal meninggalkan Ipswich menuju Laut Utara. Kami menyusuri sungai Orwell sekitar dua jam sebelum sampai laut lepas. Kapal masih menggunakan 2 mesin Mercedes masing-masing berkekuatan 330 kw. Barulah pada pukul 2 siang ABK harus mengembangkan layar. Paling tidak perlu waktu sekitar tiga jam untuk mengembangkan seluruh layar.

Menjelang malam beberapa peserta dari Indonesia mengaku pusing. Padahal sehabis breakfast, perawat di kapal Carrie Glynn sudah memberikan obat Scopoderm TTS Patches sebagai pencegah mabuk laut. β€œIni akan membantu kalian selama tiga hari,” kata perawat imut tersebut. Nyatanya, Lia, Ayu, Ketut, dan Lode tetap mabuk laut. Tapi secara keseluruhan mereka tetap menikmati perjalanan.

Hari ketiga, kami berada di Laut Utara. Kapal melaju dengan kecepatan sekitar 5 knot menggunakan enam layar. Seperti biasa tiap pagi, Mike membrifing seluruh ABK. Kali ini tentang manuver kapal layar yaitu tacking dan wearing. Tidak ada agenda penting hari ini kecuali bersih-bersih dek dan lomba adu cepat kapal mini made in masing-masing watch.

Menu makan siangnya sandwich dengan sup tomat sebagai hidangan pembuka. Sebagian menikmati namun sebagian tidak bisa karena masih juga mabuk. Ayu, Lode, dan Ketut sesekali mabuk laut. Lia yang hari pertama mabuk pada hari ini kembali segar. Dia bahkan dengan garangnya makan sandwich. Apalagi makannya bareng Kash, peserta dari Derby yang mirip George Michael, penyanyi pop yang terkenal itu lho…

Hari keempat kapal memasuki perairan Belanda. Pagi ini Mike menyampaikan bahwa ada perubahan arah angin dan arus. Prince William pun diubah haluannya ke Den Helder, Belanda dari rencana awal ke Brugge, Belgia dulu. Apa boleh buat, kami pun ikut saja. Kan tidak mungkin kalau kami nyebur dan berenang sendiri ke Brugge. Selain dingin banget juga karena kami tidak bisa berenang. πŸ™‚

β€œIt’ s oke. Yang penting kita segera mendarat,” kataku. Maklum hari itu aku akhirnya mabuk laut juga setelah bersih-bersih toilet. Peserta dari Indonesia tinggal Dewi yang belum pernah mabuk. Meydi, Arif, dan Riza sudah mabuk tadi malam. Tapi semua tetap semangat kecuali Ketut yang, meski sudah melihat daratan, tetap saja cemberut.

Sabtu, 27 September 2003 sekitar pukul 11.00 waktu Inggris, Prince William sampai di pelabuhan Den Helder, Belanda. Selesai bersih-bersih kapal dan lomba survival kits, yang menang Red Watch, kami diperbolehkan jalan-jalan. Kami memanfaatkan kesempatan ini untuk telpon keluarga di Indonesia dan cari oleh-oleh. Sayang, waktu jalan-jalan hanya sebentar dari pukul 2.30 sampai 4.30 sore. Tapi lumayanlah dapat coklat dengan harga murah. Juga, melihat kota kecil di negeri yang pernah menjajah Indonesia tersebut.

Sorenya diadakan lomba tarik tambang dan keluar masuk tali dengan Blue Watch sebagai pemenang. Asik juga untuk menghilangkan kejenuhan di laut. Selesai dinner, peserta diperbolehkan keluar lagi sampai 10.30 malam. Kami gunakan kesempatan ini untuk cari coklat dan restoran Indonesia. Maklum, baru lihat makanan di kapal aja sudah nek, apalagi makan. Gara-garanya mabuk laut itu tadi. Beruntunglah kami menemukan restoran De Chinese Muur di Beatrixstraat yang menyajikan masakan Indonesia. Meski seporsinya sekitar 8 euro, kami tetap saja pesen gado-gado, nasi goreng, dan ayam boembali (tulisannya begitu di daftar menu). Meski kurang pedas, rasanya tetap saja, alamaaak, nikmat.

Pukul 10 waktu Inggris atau 11 waktu Den Helder, diadakan lomba dayung dengan Blue Watch sebagai pemenang. Kapal meninggalkan kota yang sebagian jalannya menggunakan nama seperti Balistraat, Javastraat, Madurastraat, dan nama beberapa pulau di Indonesia tersebut setelah makan siang. Layar dikembangkan pukul 3 siang. Langit gelap disertai gerimis dan angin kencang hingga malam. Namun malam itu tetap diadakan lomba burung kuat. Tiap watch disuruh mendandani sepasang anggotanya dengan pakaian ala burung. Eh, Blue Watch menang kembali.

Hari keenam, kapal yang semula mengarah ke Brugge, Belgia kembali diarahkan ke Great Yarmouth, Inggris. Menurut kapten Darren Nags, salah satu youth mentor Pat Rodger sakit dan perlu secepatnya dibawa ke rumah sakit. Karena itu, rencana ke Brugge kembali gagal.

Hari itu juga (29 September) kapal merapat di Great Yarmouth sekitar pukul satu siang. Kapal bersandar di depan kantor Great Yarmouth Port Authority. Setelah bersihin kapal kami jalan-jalan. Pukul 05.30 sore kami harus sudah kembali ke kapal sebab acaranya sore itu adalah makan malam dengan pakaian lawan jenis. Cewek pakai pakaian cowok dan sebaliknya. Tidak semuanya sih. Sebab chief officer tetap pakai celana biru dan kaos oblong putih. Peserta dari Indonesia, kecuali Lia, mengenakan baju adat Bali ringan masing-masing. Namun beberapa peserta lain sudah bilang, β€œWow. It’s very nice..”

Di Great Yarmouth diadakan lomba membungkus telur pada hari ketujuh. Pemenangnya adalah telur yang dibungkus paling bagus dan tidak pecah ketika dilemparkan dari maincourse topsail. Dan, ehm!, pemenangnya lagi-lagi Blue Watch.

Hari itu pula kami kembali berlayar menuju Hull, Inggris. Menurut Mike Great Yarmouth ke Hull bisa ditempuh dalam waktu kurang dari 24 jam. Namun, tambahnya, peserta harus melakukan beberapa praktik pelayaran seperti beberapa hari pelayaran sebelumnya. Prince William pun kembali mengarungi Laut Utara. Setelah itu, kapal menuju Teluk Humber untuk berhenti di sana dan pesta manggang (berbeque).

Oya, selama berlayar tiap selesai dinner diadakan afterdinner speech yaitu mengenalkan teman satu watch di depan seluruh peserta. Uniknya, tiap peserta yang kenalan dengan peserta dari Indonesia harus menggunakan bahasa Indonesia. Misalnya Richard Wilkinson yang bertugas mengenalkan Kamal Riza. Karena tidak bisa mengucapkan, β€œNya”, alumni Jurusan Matematika di Universitas Cambridge itu mengucapkan, β€œTeman saya naman nja Riza.”

1 Oktober 2003 sekitar pukul 17.00 jangkar Prince William diturunkan di Teluk Humber. Malam ini ada pesta ayam panggang dan udang goereng. Namun hal yang paling penting adalah malam itu peserta dari Indonesia harus menampilkan atraksi. Berdasarkan hasil latihan selama sekitar sebulan sebelumnya, peserta dari Indonesia menari tari janger yang bercerita tentang hubungan muda mudi. Lia bertugas foto-foto dan menyampaikan makna di balik tarian tersebut.

Udara dingin tak menghalangi semangat kami untuk menari. Selesai menari seluruh penonton memberikan aplaus yang ramainya tak kami sangka. Namun paling mengharukan justru ketika kami diminta menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Masih dengan mengenakan pakaian tari, kami semua bersemangat menyanyi di hadapan mereka. Rasanya darah berdesir, bulu kuduk berdiri, dan mata berkaca-kaca.

Semalam di Teluk Humber seperti menjadi milik Indonesia. Apalagi ketika lagu Indonesia Di Sini Senang Di Sana Senang, yang juga diterjemahkan ke bahasa Hebrew (Israel) dan Inggris, dijadikan lagu untuk mengakhiri pelayaran di Hull besoknya. Maka, ketika pada hari kesembilan kami mendarat di Hull, seluruh peserta menyanyikan lagu Di sini senang/ Di sana senang/ Di mana mana hatiku senang/La la la..

Keterangan: tulisan ini dibuat sebagai laporan untuk Encompass Trust dan dimasukkan blog tepat setahun setelah pelayaran. Foto oleh Heroe Suprapto.