Ketika Bani Mulai Belajar Motret

3 , Permalink 0

Inilah hasilnya. Agak blur sih tapi keren juga.

Bani mulai suka motret. Kadang-kadang, ketika dia selesai main atau belajar dan lihat kamera lagi nganggur di meja, dia akan ambil kamera tersebut. Biasanya dia akan jepret-jepret apa yang ada di sekitar rumah saja.

Continue Reading…

Surat Cinta, eh, Protes dari Bani

1 , , Permalink 0

Sepucuk surat protes menyambutku begitu sampai rumah.

Bani memberikan surat itu begitu aku membuka pintu rumah sekitar pukul 8.30 malam pas baru pulang kerja. Hari ini tak hanya jam kerja seperti biasa, pukul 8 pagi sampai 5 sore, aku juga ada wawancara untuk riset soal jurnalisme warga di Bali.

Semula, narasumber dari Asosiasi Pengusaha Jasa Internet Indonesia (APJII) Bali tersebut bilang bisa wawancara pukul 4.30 Wita. Eh, ndilalah ternyata dia molor sampai sekitar pukul 6 petang baru bisa. Apa boleh buat. Daripada batal.

Continue Reading…

Teman Lelaki Kecil Bernama Bani

8 , , , Permalink 0

Alarm belum berbunyi ketika Bani membangunkanku pagi itu.

Jam di Galaxy S masih pukul 04.50 Wita. Alarm di ponsel pintar ini aku atur berbunyi pada pukul 05.00. Namun, Bani sudah menggoyang-goyang tubuhku. “Ayah. Bangun. Sepakbolanya sudah mau main,” kata Bani sambil menarik selimutku.

Dengan mata masih berat aku bangun. Cuci muka. Ambil selimut lagi. Lalu duduk manis di ruang tamu bareng Bani. Di luar masih gelap pada dini hari yang dingin itu. Tapi, kami sudah siap menikmati pertandingan Barcelona lawan Real Madrid.

Selama sekitar dua jam kemudian, kami sama-sama bersemangat memberi dukungan pada Barcelona. Kami sama-sama pendukungnya. Hingga akhir pertandingan kemudian sih skor akhirnya 2-2 setelah Barcelona sempat menang 2-0 hingga akhir babak pertama.

Continue Reading…