Surat Cinta, eh, Protes dari Bani

1 , , Permalink 0

Sepucuk surat protes menyambutku begitu sampai rumah.

Bani memberikan surat itu begitu aku membuka pintu rumah sekitar pukul 8.30 malam pas baru pulang kerja. Hari ini tak hanya jam kerja seperti biasa, pukul 8 pagi sampai 5 sore, aku juga ada wawancara untuk riset soal jurnalisme warga di Bali.

Semula, narasumber dari Asosiasi Pengusaha Jasa Internet Indonesia (APJII) Bali tersebut bilang bisa wawancara pukul 4.30 Wita. Eh, ndilalah ternyata dia molor sampai sekitar pukul 6 petang baru bisa. Apa boleh buat. Daripada batal.

Sekitar pukul 8 wawancara selesai. Aku langsung kabur. Pulang dengan buru-buru. Ternyata begitu sampai rumah, Bani sudah menunggu dengan suratnya.

“Ayah jangan pulang jam 10. Harus pulang jam 7 ya. Dari Bani”

Ah, anak pertama kami ternyata sudah bisa protes lewat tulisan. Korban pertamanya, ayah sendiri. Hehehe..

Tentu saja ini protes yang menyenangkan. Bani yang dua bulan lagi akan lulus TK sudah bisa berekspresi lewat tulisan. Seperti biasa. Tak ada yang lebih sempurna dibandingkan anak sendiri. Begitu pula dengan Bani.

Tapi, ini sebenarnya bukan surat pertamanya. Tiga hari sebelumnya, pas malam Minggu, dia menulis surat cinta untuk kami bertiga, aku, Bunda, dan adiknya, Satori. Dia menulis satu per satu di lembaran kertas dari bloknote kecilnya.

Isinya kurang lebih sama, “untuk Bunda yang cantik”, “untuk Ayah yang ganteng”, dan “untuk adik Satori yang gagah.” Dia dengan telaten dan serius menulisnya.

Kebiasaan menulis itu, seingatku, mulai sejak dia ikut les baca tulis sekitar empat bulan lalu. Namun, gara-gara dia jatuh sampai patah tulang tangannya, les itu berhenti. Toh, dia tetap rajin membaca dan menulis.

Gaya bacanya tak jauh beda dengan ayahnya. Tidur sambil rebahan. Bisa di mana saja, kasur, lantai, kursi. Buku yang dia baca biasanya komik atau buku cerita. Meski masih mengeja dan terbata-bata, dia asyik saja bacanya.

Kalau nulis, tak cuma di buku pelajaran, sih baru dua minggu terakhir. Tulisannya rata-rata itu tadi surat cinta untuk ayah, bunda, dan adiknya. 🙂

Ketika makin rajin menulis dan baca, Bani tak melupakan kebiasaan lama, nonton TV dan main game. Kebiasaanya malah bangun pukul 5.30 atau 06.00, mendahului ayah bundanya. Lalu, dengan manis nonton kartun pagi-pagi.

Tak apa sih. Toh, kalau sudah pukul 7 dia akan beranjak sendiri untuk mandi dan berangkat sekolah. Dia makin mandiri.

1 Comment
  • Agung Pushandaka
    June 21, 2012

    “Gaya bacanya tak jauh beda dengan ayahnya. Tidur sambil rebahan…”

    Tidur itu bukan rebahan ya? Atau ada gitu yg tidurnya ndak rebah? :p

    Selamat menulis Bani..

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *