Sumber Informasi Lain Bernama Milis

4 , , Permalink 0
Informasi adalah salah satu bagian terpenting dalam pekerjaanku. Bisa jadi juga di pekerjaan banyak orang. Tiap hari, informasi datang silih berganti. Buanyak sekali medianya.

Pagi-pagi, ketika baru bangun tidur, Kompas sudah ada di rumah. Informasi resmi ini disampaikan lewat medium bernama koran. Siangnya ketika kerja di kantor, informasi itu datang berjibun lewat internet misalnya email, social networking, website, blog, dan seterusnya. Malam ketika di rumah sambil leyeh-leyeh, informasi itu datang lewat TV.

Begitulah. Informasi datang silih berganti. Berseliweran. Ada yang resmi, ada yang tak jelas siapa pengirimnya, ada yang penuh asumsi, dan seterusnya. Itu berpengaruh pada tingkat kepercayaanku pada informasi tersebut.

Dalam teori jurnalistik, tingkat sumber berita menentukan tingkat kepercayaan pada informasi yang diberikan. Sumber primer, biasanya terkait langsung dengan kejadian, adalah sumber yang paling layak dipercaya. Misalnya pelaku peristiwa. Sumber skunder, misalnya saksi-saksi, masih bisa kita percaya meski tak sekuat pada sumber pertama. Dan seterusnya.

Makin jauh keterkaitan antara sumber informasi dengan peristiwa atau apa yang disampaikan maka makin sedikit tingkat kepercayaan.

Di antara sekian media informasi itu mailing list, disingkat milis, adalah salah satu media baru. Milis ini dibuat berdasarkan kesamaan hobi, pekerjaan, minat, identitas, dan lain-lain. Beberapa milis yang aku ikuti antara lain Jurnalisme, Pembaca Kompas, HIV/AIDS, Pers Mahasiswa Akademika, dan tentu saja Bali Blogger Community.

Karena latar belakang milis juga macam-macam, maka tujuannya juga macam-macam. Ada yang sangat serius sebagai tempat diskusi. Ada yang memang tempat berhahahihi. Banyak juga semata untuk ngejunk. Beda milis, maka beda pula cara kita bertata krama di milis itu.

Ketika baru bergabung dengan satu dua milis, satu hal yang juga aku rasakan memang kedekatan setidaknya secara psikologis dengan beberapa orang, entah dia sebagai teman atau orang yang aku kagumi. Ibaratnya berada di satu ruangan sama orang hebat yang selama ini namanya aku dengar atau tulisannya aku baca di media.

Ada satu fungsi yang kemudian aku baru sadar, milis ternyata bisa jadi sumber informasi alternatif. Ini terutama untuk milis-milis serius.

Aku baru benar-benar sadar tentang fungsi ini ketika menjelang Pemilu Presiden lalu. Selama ini informasi yang aku peroleh dari sumber resmi seperti koran, portal berita, dan televisi sangat resmi. Hanya di permukaan. Namun di beberapa milis, aku bisa mendapat informasi lebih mendalam. Misalnya tentang tim sukses salah satu pasangan calon, jejak rekam mereka, dan seterusnya.

Cuma ya ada beberapa informasi yang sekadar sas sus, sama sekali tidak jelas kebenarannya. Kalau pakai teori jurnalistik tentang tingkatan sumber, informasi semacam ini masuk tingkat paling rendah. Tidak bisa langsung dipercaya. Apalagi kalau informasi itu tidak jelas siapa pembuatnya.

Namun sebagai alternatif, informasi-informasi semacam ini tetap menarik diketahui, bukan dipercayai..

4 Comments
  • PanDe Baik
    July 21, 2009

    Milis bisa jadi sarana untuk berkirim kabar, bagi mereka yang serius, bisa juga untuk ber-haha-hihi bagi mereka yang doyan becanda. Dari Milis jua aku bisa tau kalo ternyata Bale Bengong yang merupakan media kritisnya Rumah Tulisan dimodif jadi asyik penampilannya. by the way, kenapa Rumah Tulisan gag ikutan dimodif Om ? 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

  • wira
    July 21, 2009

    *jadi inget cuma jadi pembaca di milis BBC

    ReplyReply

    [Reply]

  • sugeng
    July 21, 2009

    Aku juga ikutan di milis cuma sebagai penbaca yang baik, tanpa pernah kasi informasi apapun. 🙁

    ReplyReply

    [Reply]

  • wahyu
    July 30, 2009

    sangat berguna, thanks

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *